
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Waktu menunjukan pukul 23.00 waktu Indonesi bagian barat.
Saat ini terlihat Jendra yang berdiri dan berusaha untuk terus menghubungi ponsel putrinya. "Vita,,Vita, kamu kemana sayang, ini sudah larut, tetapi kenapa kamu masih belum kembali," gumamnya, terus berjalan mondar mandir bagaikan strikaan panas.
"Apa kamu tidak mencoba untuk menghubungi Melly atau Julia, apa yang mereka bilang tadi saat mengantarkan barang-barang Vita?" seru Vina, yang juga sangat megkhawatirkan cucu kesayangannya.
Jendra mengusap wajahnya kasar, merasa bingung dengan semua ini.
"Vita belum pernah seperti ini Jen, dia itu sudah dewasa, masa iya tidak bisa menghubungi orang rumah, atau paling tidak menelpon papahnya, dan kasih kabar," lirih Vina pelan, dengan suara yang mulai bergetar.
Dia sangat merasa takut dengan keadaan cucunya, pasalnya ini adalah pertama kalinya Vita melakukan hal seperti ini.
Seumur-umur Vita menjadi aktris, dia tidak pernah lupa untuk mengabari papahnya jadwal-jadwal dia pulang.
Sering kali dia menginap di lokasi syutingpun, papahnya selalu tahu, dan terkadang juga Jendra pergi untuk menemani anaknya di sana.
"Mah, mamah tenang ya, Jendra akan berusaha mencari Vita," ucapnya, dan segera beranjak berlari keluar rumah dan mengarah ke mobilnya tanpa menunggu jawaban mamahnya terlebih dahulu.
Jendra tidak ingin membuang waktu, dia ingin segera menemukan keberadaan putrinya, dan akan memarahi anak itu jika berani berbuat macam-macam.
"Pantai Kemala," gumam Jendra, segera mengendarai mobilnya dengan cepat ke arah pantai tersebut. Karena tadi di saat Melly dan Julia mengantarkan barang-barang milik Vita, semua mengatakan bahwa Vita melakukan Jogging sore di pantai ini. Dan siapa percaya jika Jogging yang dilakukan oleh Vita kini sampai malam hari.
Sesampainya dia di pantai, terlihat bahwa pantai ini sangat gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali. "Vitaaaaaa, sayang kamu di mana nak?" teriak Jendra, mencoba untuk memanggil putrinya.
"Vittaaaa," teriak Jendra lagi, namun sama sekali tidak ada jawaban, hanya sebuah keheningan yang terdengar bersamaan dengan suara deru ombak yang menenangkan hati.
Akan tetapi, ini bukan saatnya untuk menikmati suasana ini, Jendra harus menemukan putrinya. Sejujurnya dia takut jika Vita sampai tenggelam atau apapun. Hingga rasanya Jendra ingin sekali menangis karena ketakutaannya itu.
Dia kembali mencoba berjalan beberapa kilo meter dari pantai, mungkin saja Vita berjalan di sekitaraan sini atau apapun, tapi ketika melihat lokasi ini, bayangan jelek tentang Vita dibegal pun akhirnya muncul.
"Aahh, tidak-tidakk, Jendra, kamu tenang dulu, putri kamu pasti ketemu," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Jendra kembali berjalan dan seketika dia melihat sosok pria paruh baya yang sedang duduk tidak jauh dari sebuah pondok kecil.
Dengan segera Jendra mencoba untuk mendekatinya, barangkali saja kakek itu melihat putrinya lewat di sekitaraan sini, "Selamat malam kek,maaf menganggu waktunya, saya sedang mencari keberadaan putri saya, yang ini," sapanya dan langsung mengatakan apa tujuannya tanpa berbasa basi, dia juga memperlihatkan foto Vita, agar kakek itu bisa mengenalinya.
"Aaahh, ini anak kamu," ucap kakek itu, yang sontak membuat Jendra sedikit tersenyum, karena mendapatkan angin segar.
__ADS_1
"I-iya kek, dia anak saya, apakah kakek melihatnya?" tanya Jendra dengan antusias.
Kakek itu menganggukan kepalanya, namun menampilkan wajah sedih, "ada apa kek? Apakah kakek melihatnya tadi? Lalu ke arah mana dia tadi kek?" tanya Jendra lagi, dengan semua rentetan pertanyaanya.
"Tadi sore, sekitaran pukul 17.45, putri kamu menjadi korban kekerasan di pinggir jalan sebelah sana," lapor kakek tersebut.
DEG, jantung Jendra rasanya ingin lepas dari tempatnya, ketika mendengar jika putrinya menjadu korban kekerasaan.
"Pria itu sepertinya sangat marah, dan memukul putrimu dengan keras, hingga terjatuh," ucap kakek itu, dan mencoba menjelaskan semua kronologi yang dia lihat.
"Lalu kenapa kakek tidak menolongnya, atau meminta orang lain untuk membantu," bentak Jendra, merasa sangat emosi karena tidak ada yang mau membantu putrinya.
"Saya untuk berjalan saja masih sulit, saya sudah berusaha untuk berjalan ke sana, tetapi ketika saya sampai, putrimu sudah dibawa pria itu, dan supir taxinya juga terlihat pergi," Kakek itu merasa sedih, karena tidak berguna untuk bisa untuk menolong sesama.
Tiba-tiba saja, bayangan takut jika putrinya dibunuh dan dibuang menari di otak Jendra, "kakek tolong ikut saya, ini tidak bisa dibiarkan kek, saya harus melaporkan semua kejadian ini ke polisi," ajak Jendra, dengan sedikit menarik paksa kakek itu. Dan benar saja, kakek itu terlihat sangat sulit berjalan, membuat Jendra menjadi geregetan sendiri, lalu mencoba untuk menggendong kakek itu.
"Pelan-pelan Nak, kakek sudah tua, kalau jatuh kakek bisa meninggal," ucap kakek itu, namun sama sekali tidak diindahkan oleh Jendra.
Yang ada di dalam pemikiraanya saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa menemukan putrinya.
Jendra kembali mengenadarai mobilnya dengan cepat, bahkan tidak tanggung-tanggung, saat ini dia menuju ke arah Polda metro jaya.
"Silahkan duduk pak," balas polisi itu dengan sopan. Jendra mencoba untuk menenangkan dirinya, dan berusaha duduk dengan perasaanya yang sangat kalut.
"Bisa dijelaskan bagaimana kronologisnya pak," pinta polisi tersebut.
Lalu, kakek yang tadi juga digendong oleh Jendra untuk masuk ke dalam office kini mulai menceritakaan kronologinya, dia siap menjadi saksi dalam kasus Vita ini.
"Mohon maaf sebelumnya pak, apakah pria itu adalah kekasih anak Anda? Ataukah Menantu Anda?" tanya Polisi tersebut, untuk memperjelas laporan yang diberikan.
"Anak saya belum menikah pak, dan dia juga tidak mempunyai kekasih," tegas Jendra.
Polisi itu terlihat menganggukan kepalanya pelan, dan mencoba untuk menghubungi tim patroli malam, untuk mengolah tempat kejadian.
"Pak, saya mohon temukan anak saya pak," pinta Jendra dengan sangat-sangat memohon.
Bahkan terlihat jelas, air mata yang sedari tadi dia coba untuk tahan, kini melesat begitu saja dari tempatnya.
Polisi itu jelas tahu apa yang sedang dirasakan oleh Jendra, sebagai seorang ayah, tentu saja dia bisa memposisikan jika anaknya yang hilang dan menjadi korban kekerasaan seperti itu.
__ADS_1
"Bapak tenang dulu ya, kita akan mencoba untuk melacak CCTV, dan melihat ke arah mama putri bapak dibawa," balas polisi itu, mencoba menenangkan Jendra yang terlihat sangat pucat sekali.
Bahkan Jendra hanya diam saja sekarang, tidak tahu mau berkata apa lagi. Hanya Takut, itu yang dia rasakan.
Para polisi dengan sigap mengajak Jendra untuk melihat dan masuk ke dalam ruangan CCTV untuk melihat sendiri kemana putrinya di bawa.
"Jam berapa tadi kejadiannya?" tanya polisi itu lagi.
"Sekitaraan jam 17.30 dan 17.45 semacamnya komandan," lapor anak buahnya yang tadi juga mendengar laporan itu.
Polisi yang bernama agung itu terlihat menganggukan kepalanya pelan, dan meminta untuk para staf yang menangini CCTV untuk membuka seluruh rekaman CCTV jalan xxx pada jam-jam tersebut.
"Itu dia," tunjuk kakek, pada mobil Marcedez benz berplat nomor 1.
Polisi itu menanggukan kepalanya pelan, dan memberikan kode kepada stafnya untuk membuka semua rekaman kemana saja mobil itu mengarah.
"Bayu, kamu tolong lacak, siapa pemilik dari kendaraan tersebut," pinta Agung pada anak buahnya yang lain.
"Siap komandan."
Jendra semakin panik, ketika melihat mobil yang membawa anaknya itu terlihat pergi ke arah bandara.
"A-a-apakah anak saya dia bawa ke luar Negara? Tapi bagaimana caranya? Anak saya tidak membawa pasport, dan apakah dia mencoba menyelundupkan putri saya untuk dijual," tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Sabat ya pak, kita akan terus mencarinya," sahut pak Agung berusaha untuk menenangkan Jendra.
**To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1