
🌹 Happy Reading 🌹
"Papah jahat sama Alson." cercanya langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Arvan yang tengah duduk menatapnya.
"Alson mau kemana kamu? Papah belum selesai bicara," teriak Arvan melihat putranya yang tak memperdulikanya.
"Sana ngomong sama dinding," Sahutnya dan brrruuuggghhh dia membanting pintu ruanganya.
Beginilah cara Alson meluapkan emosinya, dia lebih sering melampiaskanya pada barang-barang di bandingkan dengan otot.
Alson yang keluar dari ruanganya itu kini menatap kepada Vika dan Vino yang sedang duduk bersebelahan, dan tanpa malu dia langsung duduk di tengah-tengah Vika dan Vino.
"Awas, ini calon istriku jangan kamu goda!" serunya dengan tatapan menantang.
Sedangkan Vino dan Vika langsung memutar bola matanya malas mendengar itu. "Alson bagaimana Lord Arvan?" tanya Vika sedikit khawatir.
"Oh Pap-" jawabnya terputus melihat sosok yang paling pantang bertemu dengan Vika.
"Permisi pak Vino, ini data yang bapak minta tadi," seru Tiara yang tiba-tiba saja datang mengacaukan suasana.
Vino segera mengambil dokumen yang di berikan oleh Tiara itu, dan membalasnya dengan sedikit tersenyum.
"Tiara, minggu ini kamu boleh masuk lembur kerja tidak? Soalnya proyek company ini harus di selesaikan cepat." tanya Vino dengan sopan di depan Alson dan Vika, karna Tiara bekerja sebagai asisten dari Vino yang di berikan oleh Alson.
Dengan niat agar hidup Asisten Vino lebih berawarna. Mejikuhibinium.
Tiara terlihat berpikir sejenak mendengar pertanyaan itu, "boleh Pak, tapi hari minggu biasanya saya ada acara keluarga sedikit pak, mungkin akan telat sampainya." jawab Tiara dengan ramah.
Sontak membuat Alson dan Vika, ikut menganggumi Tiara yang mungkin sudah berubah, karna jawaban yang dia berikan sekarang tidak membuat orang lain emosi.
"Tidak masalah Tiara, yang penting kamu boleh menemani saya lembur minggu ini," jawab Vino lagi dengan tegas.
Tiara menganggukan kepalanya sebagai jawaban, "bisa pak, saya akan usahakan untuk masuk tapi mungkin agak telat," balasnya lagi dengan penuh keyakinan.
Vino mengapresiasikan itu, "bagus Tiara, hemm kira-kira jam berapa ya kamu boleh datang minggu nanti?" tanya Vino lagi.
Tiara terlihat tersenyum dengan tipis, namun ini membuat Alson dan Vika menjadi ragu akan jawabanya.
"Hem mungkin sekitar Senin Pak." Jawabnya dan sontak langsung lari dengan kencang sebelum terkena amukan dari tiga atasanya itu.
__ADS_1
Dengan amarah Vika langsung berdiri dan berkacak pinggan di depan kedua pria yang saat ini masih menatap bingung ke arah Tiara yang tadi lari.
"Lihatkan, hufftt aku gak bisa tahan kalo begini terus lama-lama, dua hari saja dia kerja sudah buat aku naik darah tinggi gak lama meledak ini." Omelnya dengan kesal.
Namun Vino terlihat mengambil kesempatan untuk kabur saat ini, sedangkan Alson lagi dan lagi harus berjuang menurunkan api yang panas itu.
"Sabar sayang,,sabar, nanti cepat tua loh, eh salah nanti makin cantik loh." seru Alson yang hampir saja keceplosan.
Dan di saat Vika tengah mode on, tiba-tiba saja Arvan keluar dari ruangan Alson dan menatap ke arah putranya dan Vika.
"Nanti malam ada acara keluarga di Mansion Lesham, papah harap kamu bisa datang," Tegas Arvan, lalu melangkah pergi, meninggalkan Alson dan Vika yang saling berpandangan satu sama lain.
Vika menatap dalam kemata Alson yang kini terlihat sendu, "ada apa?" tanya Vika yang tau jika keadaan saat ini tidak baik-baik saja.
Alson menggelengkan kepalanya pelan, "aku tidak kenapa-kenapa kok Sweetheart, hanya mungkin aku sedikit lelah." balasnya bohong, karna tidak ingin Vika terbebani dengan semua ini.
Cukup baginya untuk berjuang mendapatkan restu ibu Veli, dan untuk Papahnya dia pasti akan membuktikan bahwa pemikiraan papahnya tentang Vika itu semua salah.
"Are you sure?" Vika masih belum sepunuhnya percaya dengan apa yang di katakan oleh kekasihnya ini.
Cuuuppp Alson memberikan sebuah kecupan singkat di kening Vika, "Ya Sweetheart, aku baik-baik saja, dan kamu dengar sendiri kan jika papah mengundang kita untuk makan malam keluarga, Jadi kamu gak usah khawatirin apa pun lagi ok," yakinya pada Vika agar kekasihnya itu percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Dan di sisi lain, terlihat ibu Veli dan Vita yang baru saja keluar dari sekolahan Vita.
"Bunda hari ini Vita mendapatkan nilai A+ lagi loh ulanganya, dan bilangnya bu guru tadi dia bangga sama Vita bun, dan Vita mau di tawarin untuk lomba cerdas cermat nanti bun, bolehkan." serunya dengan lembut, sambil menceritakan segala kejadian di sekolah hari ini pada neneknya yang terbiasa di panggil bunda olehnya.
Veli membalasnya dengan wajah yang penuh bahagia, melihat cucu kesayanganya kini sudah tumbuh besar dan pintar.
"Anak bunda memang yang terthe best sayang, jangankan bu guru bunda dengan mamahlah yang paling bahagia dengan semua prestasi yang Vita raih, dan semoga Vita gak boleh sombong ya jika nanti lebih unggul dari teman-teman sayang." Balas Veli yang tak lupa selalu menyelipkan kata-kata nasihat agar cucunya itu mengerti.
"Iya bun, Vita gak sombong kok," Jawabnya dengan wajah yang sangat menggemaskan.
Dan di saat mereka tengah berjalan bersama, tiba-tiba ada sesok yang berhenti tepat di depanya turun dari mobil.
Deeegg jantung Veli rasanya seperti ingin lepas sekarang melihat sosok yang datang ini.
Vita menatap sosok itu dengan lembut, lalu mengalihkan ke arah bundanya yang hanya diam tanpa memarahi orang yang seenaknya menggangu perjalanan santai mereka.
__ADS_1
"Om, kenapa mengahalangi jalan Vita sama bunda,?" Tanyanya yang sepertinya sudah lupa dengan sosok pria tersebut yang tak lain adalah Jendra.
Dengan langkah pelan Jendra mendekat ke arah Vita, "Vita sayang, ini Papah Nak." lirihnya pelan namun membuat Vita bingung.
"Mau ngapain kamu ke sini Jendra! Dia bukan anak kamu! Dia anak ku," bentak Veli yang belum mengetahui jika rahasia itu sudah bocor di tangan Jendra.
Jendra tersenyum karna Veli berniat membohonginya, "Bu, dia bukan anak ibu, tapi dia cucu ibu, anak saya dan Vika." sahut Jendra dengan tegas di hadapan Vita.
"Papah," lirih Vita dengan pelan, namun menusuk ke dalam relung hati Jendra yang paling dalam.
"Iya sayang ini Papah, ini Papah Vita Nak," balasanya lagi, dan langsung mendekap tubuh anaknya.
Veli yang melihat itu tidak tinggal diam, dia langsung mendorong tubuh Jendra agar menjauh dari cucunya. "Aku bilang dia bukan anak kamu! Anak kamu sudah lama mati! Bukakah kamu yang menginginkan semua itu! Jadi lebih baik sekarang kamu pergi! Vita adalah bayi yang tidak kamu harapkan jadi silahkan kamu pergi sejauh mungkin!" Tegas Veli dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Cukup ibu!"
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
**Jangan pelit! Mimin, *Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
Ayo-ayo siapa lagi nih yang mau order, jangan sampai ketinggalan ya😉😉
Yang di luar boleh ikut pengiriman sekali ya, Malaysia, Taiwan dan arab saudi bisa ya.
Karna buku Lucas akan terbang ke sana dan yang mau ikut sekalian boleh, siapa tau Lucas bisa tobat di sana kan pulang jadi HAJI Lucas.
Buruan yuk di order yang jauh di matapun ingin memeluknya apa lagi yang dekatkan 🥰🥰
Harga: 90.000 belum ongkos kirim ya tinggal Chat di whatsaap atau dm IG mimin🥰
Terima kasih semua🥰🙏🏻
__ADS_1