
"Hylda, Siapa dia ?". Dion menatap kesal wanita itu.
"Dion, apa yang kamu lakukan disini". Wanita itu tampak kaget dengan kehadiran Dion.
"Siapa dia". Dion bertanya sekali lagi, sekarang nada bicaranya mulai meninggi.
"Gue pacarnya". Laki laki yang disamping Hylda yang menjawab.
"Dion, aku bisa jelasin, ini cuma salah paham". Hylda memegang tangan Dion, takut kalau Dion akan meninggalkannya.
"Kamu selingkuh . itu yang mau kamu jelasin ?". Dion berteriak ia benar benar marah, Dion mencekam baju laki laki itu dan memukulnya. keadaan kafe yang tadinya hening sekarang begitu berubah menjadi berkebalikan. Semua orang yang ada di dalam kafe memandang kearah dimana sumber keributan itu. Laki laki itu tak kalah marahnya dan mulai memukul balik Dion. Hylda mulai memisahkan kedua lelaki itu.
Amoy masih bingung dengan situasi sekarang ini, siapa wanita yang dipanggil Hylda itu, dan siapa laki laki yang ada disampingnya.
__ADS_1
Dion menarik Hylda untuk keluar kafe. meninggalkan Amoy yang masih kebingungan dan Perkelahian tadi dimenangkan Dion, laki laki itu beberapa kali terkena pukul oleh Dion dan masih terkulai lemas di lantai dan Beberapa pelayan kafe mulai datang menghampiri meja meraka.
"Jangan pergi Hylda". teriak laki laki itu dengan prustasi.
Amoy mengikuti Dion keluar kafe dan mempercepat langkahnya untuk mengejar Dion.
"Dion tunggu, jelasin dulu apa yang terjadi. Siapa wanita itu ?". Amoy meraih tangan Dion untuk berhenti berjalan.
"Jangan ikut campur urasan gue". Dion mencoba melepaskan tangan Amoy namun Amoy memegangnya dengan kuat. karena kesal Dion mendorongnya, hingga Amoy terjatuh dan meringis kesakitan. Dion sebenarnya juga kaget ia tidak bermaksud untuk begitu, ia hanya ingin melepaskan tangan Amoy.
Amoy menatap Dion meminta penjelasan.
" Dion Kamu selingkuh". Amoy terdiam sejenak tak sanggup untuk berbicara lagi, namun ia harus mengatakannya" Kamu selingkuhi aku, atau memang aku yang menjadi selingkuhan kamu ?".
__ADS_1
"Ayo kita putus". Hanya kata itu yang keluar dari mulut Dion tanpa ada penjelasan apapun. Dion masuk ke mobilnya dan meninggalkan Amoy begitu saja.
Amoy menangis masih tak percaya, Dion meninggalkannya dan memilih untuk bersama wanita itu. Amoy juga kaget Dion tak pernah berbicara sekasar itu, namun karena wanita lain ia juga bahkan berani mendorong Amoy.
Amoy menunggu taxi pesanannya masih berusaha untuk tidak menangis lagi. Karena iya dari tadi sudah menjadi pusat perhatian, Amoy tidak suka dipandang seperti itu, pandangan penuh rasa kasihan, karena ia merasa iba, Amoy begitu membenci situasi macam ini, dimana orang orang menganggapnya lemah serta berbisik bisik membicarakannya.
Tak lama taxi itu pun datang. Amoy ingin segera masuk kedalam taxi dan ingin cepat cepat meninggalkan tempat ini.
"Mau kemana mbak". ujar sopir taxi.
"Antar saya ke alamat ini". Amoy memberikan alamat rumah Miko.
Saat di perjalanan Amoy hanya kepikiran Miko karena hanya Miko yang akan menemaninya di situasi seperti ini. Hanya Miko yang akan memeluknya, Hanya Miko yang akan mengihiburnya, Hanya Miko yang akan menenangkannya dan Hanya Miko yang membuat Amoy bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1
*Miko aku merindukanmu.*Amoy.