
Satu langkah kaki saja Amoy tidak ingin berjauhan dengan Miko, bahkan Miko kewalahan menghadapai sikap manja Amoy.
"Bentar, mau ngambil minum dulu." Miko baru saja berdiri namun tangannya masih di genggam tangan Amoy.
"Ikut." Amoy ikut berdiri dan meloncat ke punggung Miko.
"Astaga, gue cuma ngambil minum disitu." Menunjuk pada meja dekat tempat tidur.
"Pokonya mau ikut."
Miko berjalan dengan menggendong Amoy, karena Amoy sama sekali tidak melepas Miko.
"Mau minum enggak ?" Menuangkan air pada gelas, lalu memberikannya pada Amoy.
"Enggak."
"Yaudah kalo enggak mau." Miko meminum sendiri air yang yang dituangkannya tadi, Amoy yang melihat jakun Miko yang bergerak turun naik membuat Amoy merasa gemas dan memegang dengan jari telunjuk tangannya, hingga membuat Miko tersedak.
"Isshh, apaan sih pegang pegang." Ujar Miko sambil terbatuk batuk.
"Cuma mau pegang aja, pelit banget."
"Punggung gue sakit, lu enggak mau turun."
Amoy kemudian turun, lalu pindah ke bagian depan.
"Gendong di depan enggak sakit kan." Dengan polos dan tak berdosa Amoy dengan seenaknya bilang seperti itu.
Miko hanya menghela nafas pada kelakuan Amoy, ingin memarahinya namun merasa tidak tega. Hari ini Miko merasa tidak akan mudah lepas dari Amoy.
Melihat Miko yang berbaring di sofa, Amoy juga ikut berbaring dengan lengan Miko yang dijadikannya sebagai bantal.
"Besok siang ada kuliah, jangan lupa jemput." Ujar Amoy yang tidak ingin pergi sendri lagi.
"Iya gue jemput."
__ADS_1
"Koko." Tangan Amoy mulai tidak bisa diam.
"Ngapain sih lu megangin jakun gue terus."
"Hehe gemes aja liatnya." Amoy merasa menemukan mainan baru.
"Udah jangan di pegangin terus, enggak ada kerjaan banget mainin jakun." Miko menyingkirkan tangan Amoy dari lehernya.
"Ishhh." Tangan Amoy kini beralih pada bibir Miko dan menekan nekannya dengan jari telunjuk kemudian Miko malah menggigit jari Amoy.
"Aghhh sakit."
"Lagian enggak bisa diem banget."
Amoy masih ingin menggangu Miko, tangannya kini beralih pada rambut Miko dan memainkannya bahkan menjambaknya.
"Moy diem dong."Memegang tangan Amoy.
"Kasih es krim dulu, baru diem."
"Enggak mau, pengen diambilin."
Miko baru saja akan bangun, namun Amoy memegang pundak Miko. "Suruh orang lain yang ambil."
"Manja banget."
Amoy tersenyum pada Miko, menujukan ia sama sekali tidak menyesal atas kelakuannya.
Seorang pelayan masuk ke kamar Miko sambil membawa es krim.
"Maaf tuan, es krimnya hanya sisa 1."
"Tidak apa apa, kita bisa berbagi." Ujar Amoy.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Meninggalkan kamar Miko.
__ADS_1
Amoy mulai membuka dan memakan es krim itu. "Aaa." Menyendokan es krim dan menyuapi Miko.
"Ko tau enggak, gue kan bilang sama Lily jangan sering nonton drama korea."
"Terus ?"
"Eh malah gue yang dicekokin." Kembali menyuapi Miko.
"Gimana sih lu."
"Ternyata emang seru, tau enggak dalam 1 hari gue nyelesain 16 episode 1 episode bisa satu jam lebih." Dengan bangga Amoy berbicara seperti itu.
"Jangan berlebihan, enggak baik."
"Abis gue bosen, ada adegan yang paling gue suka, si cewek nya kan lagi makan es krim, terus si cowoknya pengen rasain, tau enggak adegan selanjutnya ?"
"Si cowok minta es krim cewek nya." Tebak Miko dengan mudah.
"Cowok nya nyium bibir si cewek yang lagi makan es krim, romantis banget." Amoy bercerita dengan penuh semangat.
"Apa nya yang romantis ? kalau mau es krim ribet banget pake nyium segala, kan bisa minta."
"Ihh tau ah, cerita sama lu enggak seru."
Amoy masih memakan es krimnya kemudian ia menatap Miko.
"Ayo coba." Menunjukan es krim pada Miko.
"Enggak mau, jorok."
"Ihh kok jorok sih, so sweet tau. Yaudah gue mau nyoba sama Malvin."
"Heyyy." Miko memelototi Amoy. "Jangan coba-coba."
setelah baca jangan lupa Like ya 😊
__ADS_1