I Love My Friend

I Love My Friend
Harus semangat.


__ADS_3

Henry datang menghampiri Amoy dan menghentikan langkahnya untuk pergi ke kamar. Amoy terdiam belum menjawab pertanyaan Ayahnya. Suasana canggung mulai terasa karena Amoy memang jarang mengobrol dengan Henry.


"Ayah tanya kamu semalam tak pulang, pergi kemana ?". Masih dengan suara tegasnya.


"Aku nginep di rumah temen". Setelah menjawab Amoy melangkahkan kakinya kembali, namun Henry masih mencegahnya.


"Ayah belum selesai berbicara". Kini suara tegasnya Henry mulai lebih kearah membentak.


"Kamu memang anak tidak sopan". Betry datang menghampiri mereka berdua.


Amoy masih teridam, ia tidak menjawab apa apa. Karena jika ia menjawab hanya akan memperburuk keadaan. tapi sial mulutnya kadang tidak bisa dicegah.


"Kemarin malam ada keluarga calon suami Sella, Ibu sudah menyuruh mu pulang, tapi kenapa tidak pulang". Ayah melanjutkan kembali pembicaraannya.


Apa ini ? bukannya Ibu tidak menyuruhku pulang. Ia hanya mengirim pesan JIKA aku pulang jangan malu maluin. Bukannya itu maknanya lebih baik aku tidak pulang .***Amoy.*


"Kenapa aku harus pulang ?". Amoy berbicara tanpa ekspresi.


"Apa ? Bicara apa kamu ini. Kamu sudah bosan untuk tinggal dirumah ini ?. Nada suara Henry sekarang benar benar tinggi, Betry mengelus pundak suaminya.


"Kedua keluarga semalam berkumpul. Untuk merundingkan pernikahan kakakmu. Seharusnya kamu pulang dan bersikap sopan". Betry berbicara dengan jutek pada Amoy.


"Itu kan pernikahan Kakak, kenapa aku harus ikut campur. Ibu bilang apa tadi ?. keluarga ? Sejak Alan meninggal, kalian tidak pernah menganggapku keluarga, Kalian tidak mengusirku hanya karena aku berpengaruh pada warisan Kakek."


"Jaga bicara mu". Henry berteriak, tak percaya putrinya bisa berbicara seperti itu.


Amoy membanting pintu kamarnya, meninggalkan Ayah dan Ibunya. Ia memikirkan perkataannya tadi, apa tidak keterlaluan berbicara seperti itu? . Tapi itu memang kenyataannya.


Jangan nangis Amoy, kamu kuat, kamu sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Jangan cengeng, yang kamu perlu lakukan sekarang adalah hanya belajar untuk menata masa depan, agar kamu bisa menjadi orang sukses, kamu bisa keluar dari rumah ini agar kamu tidak bergantung pada siapa pun.***Amoy.*


Amoy menjatuhkan badannya pada tempat tidur. Menatap langit langit kamar.Berbicara pada dirinya sendri bahwa semua baik baik saja. Amoy hanya perlu waktu agar ia bisa menjadi dewasa.

__ADS_1


"Alan , kalau kamu masih ada, apa semuanya akan baik baik saja ?". Amoy berbicara dengan spontan. " jangan mikirin Malvin moy". tersadar dengan perkataanya. Memikirkan Alan hanya akan memenuhi ingatan memori yang menyedihkan. "Jam berapa ini ? Ayo bangun Moy, kamu harus kuliah". masih berbicara dengan dirinya sendiri.


Amoy membangunkan badannya, ketika akan berdiri. Pikirannya seolah tak mengijinkan. hingga ia kembali menidurkan badannya lagi. Amoy mengambil hp yang berada didalam tas untuk mengirim pesan pada Miko.


📩


Amoy : Hari ini gue gak masuk dulu, lagi nggak enak badan, nanti gue ikut kelas lain aja.


Setelah mengirimkan pesan. Amoy memejamkan mata dan membiarkan Pikirannya kosong.


~


Miko mendapat pesan dari Amoy, ia sekarang sudah ada didalam mobil. Bukannya pergi ke kampus Miko malah menjalankan mobilnya ke rumah Amoy. Ia tau ada yang tak beres.


Setelah sampai didepan gerbang rumah Amoy ia baru membalas pesan dari Amoy.


📩


Setelah beberapa menit berlalu, Amoy membuka matanya. Ia melihat ada pesan masuk, ternyata itu dari Miko yang sudah ada diepan rumahnya.


📩


Amoy : Lu ngapain kesini, gue kan gak masuk dulu.


Miko membalasnya dengan cepat


Miko : Lu yang kesini, apa gue yang masuk kedalam rumah lu ?.


Amoy : Ia bentar tunggu didepan aja, 15 menit lagi gue kesitu.


Amoy terburu buru mengganti bajunya dan mengambil buku yang ia masukan kedalam tas.

__ADS_1


Pas 15 menit, ia masuk kedalam mobil Miko.


"Lu ngapain sih". Amoy mengatur nafasnya, karena tadi sedikit berlari lari.


"Gue rasa lu butuh ini". Miko menepuk dada bidangnya.


Amoy terdiam sebentar menatap Miko.


"Miko...gimana aku gak makin sayang samu kamu coba, kamu jadi orang peka banget sih". Amoy memeluk Miko.


"Moy inget ya, jangan nangis sendirian, kamu masih punya aku". Miko mengeluas rambut Amoy.


"Iya, gue gak nangis ko, liat nih gak nangiskan".Amoy melepaskan pelukannya menunjukan pada Miko, kalau ia tidak menangis.


"Iya gitu dong, lu harus kuat".Memberi semangat pada Amoy.


"Yu kita pergi".


"Pergi kemana ?".


"Ngampus lah".


" Lu nggak mau bolos dulu gitu? buat nenangin perasaan".


"Nggak".


"Bolos aja yu". Merengek pada Amoy untuk bolos.


"Nggak boleh". Amoy berbicara dengan tegas.


Amoy tidak boleh membiarkan perasaan sedih menghancurkan semangat untuk belajar. Karena itu hanya akan membuang waktunya.

__ADS_1


__ADS_2