
"Mau minum kopi." Malvin menawari Amoy lalu menunjuk pada kafe yang tak jauh dari tempat mereka berhenti, karena derasnya hujan.
"Ayo, dari pada cuma nunggu di dalam mobil."
Hujan yang sangat deras membuat mereka sangat bersyukur karena ada alasan untuk tetap bersama. Malvin membukakan pintu mobil dan berbagai payung dengan Amoy, dengan jarak yang begitu dekat dan saling menempel, membuat mereka saling mengendalikan diri agar tidak terlihat gugup.
Kopi yang hangat, cuaca yang dingin lalu minum bersama dengan orang yang dicintai membuat suasananya begitu lengkap, memang hal yang sederhana namun siapa sangka moment seperti ini akan menjadi sesuatu yang kelak akan di rindukan.
"Oh ya Malvin, Mamah kaya nya masih muda banget, umur berapa tahun." Dari tadi Amoy terus memperhatikan Rani karena begitu kagum.
"40 tahun."
Amoy tersedak dengan kopi yang di minumnya.
"Kamu enggak papa ?" memberikan tisu pada Amoy.
"Enggak papa Kok." Hanya tidak percaya, umur Rani seusia dengan Betry Ibunya, tapi Amoy sungguh tidak peraya bagaiamana bisa Rani terlihat seperti umur 28 tahun, selain cantik, gaya berpakainnya memang mendukung seperti anak muda dan yang paling mendukung adalah body nya.
"Kamu pasti senang, punya Mamah yang cantik dan mengerti masalah anak muda." Amoy sangat iri karena ingin mempunyai seorang Ibu seperti Rani yang bisa di ajak curhat.
__ADS_1
"Seneng gk seneng sih, kadang Mamah suka kepo."
"Haha wajarlah, namanya juga ke anak. tau enggak kalau kalian berdampingan malah enggak terlihat kaya Ibu sama anak."
"Memang banyak yang bilang begitu, malah ada yang bilang kalau aku nemenin Mamah ke mall malah aku yang disangka jalan sama tante tante."
"Huftt." Amoy tersedak kembali, kali ini ia tidak bisa menahan tawanya, melihat karakter Rani yang memang suka manja pada Malvin wajar saja orang akan beranggapan seperti itu.
"Pelan-pelan Moy minumnya." Menepuk nepuk punggung Amoy, padahal Amoy tersedak karena kelakuan Malvin yang memang suka polos. " Yaahh hujannya berhenti, ayo aku antar kamu pulang."
Amoy melihat ke arah luar, karena untuk hari ini sampai di sini ia bersama dengan Malvin.
~Miko & Cessa~
"Bagaimana sidang nya udah selesai ?." Ujar Miko yang bertanya pada Cessa.
"Udah, tinggal nunggu Wisuda."
"Tetap semangat sayang, dikit lagi selesai." Miko memegang tangan Cessa.
__ADS_1
Mereka masih enggan untuk berpisah, setelah Miko mengantarkan Cessa pulang, Cessa tidak langsung turun dari mobil Miko, mereka masih ingin mengobrol dan bersama.
"Cess, apa rencanamu kedepannya."
"Aku mau S2 di Universitas B."
"Hey bukannya kamu mau kuliah di negara P." Miko tau impian Cessa yang selau ia ceritakan dengan semangat.
"Aku enggak mau jauh dari kamu." Cessa menatap Miko dengan sedih.
"Cessa, itu impian mu sejak lama, kamu harus menggapainya."
"Aku sangat mencintaimu, aku enggak mau pisah sama kamu." Memeluk Miko dan menangis.
"Aku tau kamu sangat mencintaiku, dan aku sangat berterimakasih, aku senang kamu tidak ingin meninggalkan ku tapi aku juga merasa terbebani jika kamu memutuskan impian mu karena aku. kita enggak tau apa yang akan terjadi ke depannya, jauh dekatnya kita jika tuhan sudah berkehendak untuk memisahkan kita maka kita akan berpisah, dan jika kita di takdirkan bersama sejauh apapun jaraknya kita pasti akan kembali dan bersama, tolong pikirkan lagi jangan bertindak bodoh, kamu harus pikirkan masa depanmu." Miko mencoba meyakinkan Cessa untuk tidak bertindak gegabah, Miko juga sedih jika harus jauh dengan Cessa, tapi Miko lebih merasa sedih jika Cessa mempertaruhkan masa depannya sendiri dengan laki-laki sepertinya.
"Aku akan pikirkan lagi."
Miko melihat mata sembam Cessa. "Tolong buat keputusan yang baik."
__ADS_1
Jangan lupa like ya😊