
Seharian ini Miko tidak keluar kamarnya. Ketika Marga memanggil Miko, ia tak mendengarkannya malah menutup rapat pintu kamar bukan hanya pintu yang ditutup rapat oleh Miko ia juga menutu rapat telinganya. Melihat wanita itu hanya membuat matanya sakit.
Marga dan istrinya memang sudah lama tidak tinggal di rumah ini. Mereka hanya sesekali datang untuk berkunjung, tapi Miko tak menyukainya. Lebih baik Miko tak melihat kedua orang itu, tak apa apa biar Miko yang mengurus Lily sendiri,dari pada ia harus melihat mereka.
Karena seharian Miko hanya dikamar, membuatnya sangat bosan, Cessa sulit dihubungi karena memang sangat sibuk, sedangkan Amoy hanya semaunya menjawab telpon dari Miko. Tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan, ia tidak ingin keluar kamarnya kalau bukan hal mendesak.
Suara ketukan Pintu beberapa kali terdengar namun Miko mengabaikannya, dari ketukan hingga gedorang cukup keras, terus memaksa agar Amoy bisa masuk kedalam kamar Miko. Karena tak dijawab akhirnya Amoy telpon untuk meminta di bukakan pintu.
Miko kira yang mengetuk pintu kamarnya wanita itu, ia baru mau membukannya ketika tau ternyata itu Amoy.
"Lama banget sih bukain pintunya." Amoy masuk sambil marah marah ."Lagian kenapa pintunya dikunci."
"Suka suka gue dong ini kan kamar gue." Miko melirik tangan Amoy yang membawa sesuata."Apaan tuh Moy."
"Gue tadi masak banyak." Memberikan tas jinjingannya pada Miko.
"Lu emang penyelamat gue." Di raihnya tas itu. Mendengarkan makanan membuat perut Miko keroncongan.
__ADS_1
"Lu kaya gak dikasih makan aja."
Miko memakan masakan Amoy dengan lahap, Amoy menatap Miko yang sedang menikmati masakannya. Amoy sangat senang ketika masakannya bisa di nikmati oleh orang lain.
Setelah Miko menghabiskan makanannya. Lalu Amoy bertanya tentang siapa wanita cantik di depan yang membuatnya penasaran.
"Gue gak tau kalau lagi ada bokap lu dirumah." Karena jika Amoy tau ia tidak akan pergi kerumah Miko dulu. karna hal tersebut takut membuat Miko jadi tak nyaman.
Miko hanya menatap Amoy, tak berniat menjawab, karena ia enggan membahasnya.
"Ko tadi ada wanita di ruang tamu, itu siapa ?" Karena Amoy memang jarang melihat ada tamu di rumah ini, selain dari pegawai yang bekerja. Amoy memaksa Miko untuk menjawabnya
"Hahhh serius." Amoy kaget tak percaya. Amoy memang tau Papahnya Miko menikah lagi ketika Ibu kandung Miko meninggal, tapi Amoy sebelumnya belum pernah melihat wanita itu. Karena memang tidak tinggal disini. "Umur berapa dia ?" Masih penasaran dengan wanita itu.
"Sekitar 25 tahun."
"Gilllllaaaa." Pantas saja wanita itu masih terlihat segar.
__ADS_1
"Mereka berdua memang gila." Miko tau Amoy pasti kaget.
"Mereka kok bisa nikah." Masih tak percaya.
"Ya mana gue tau, kena guna guna kali bokap gue." Miko asal bicara
Memang sulit di percaya. Karena umur Papahnya Miko berusia sekitar 48 tahun dan ia menikah dengan wanita yang berumur 25 tahun selisihnya saja 23 tahun. Memang Marga sudah mau berumur 50 tahun, tapi wajahnya terlihat seperti umur 30 tahunan. Pantas saja Miko sangat marah ketika mendengar papahnya akan menikah lagi, mungkin Miko melihat dari sisi umur wanita itu.
Marga dengan Miko bagaikan fotokopian, kalau bukan kerutan di wajah, mereka sangatlah mirip, Amoy yakin ketika masih muda Marga pasti sekeren Miko sekarng.
"Ko, trus lu manggil dia Mamah gitu ?" Amoy membayangkan Miko memanggilnya seperti itu, membuat Amoy yang membayangkannya saja geli. Karena memang usia mereka kurang lebih hanya terpaut 5 tahun.
"Apaan anjirrr, Jijik gue manggilnya juga, udah jangan bahas itu, males gue dengernya." Raut wajah Miko sekarang terlihat marah, Amoy ingin menanyainya lagi namun jelas Miko menolak untuk menjawab lebih dalam lagi.
"Moy gue mau ngisi energi dulu." Mendekatkan tubuhnya pada Amoy.
Lu kenapasi demen banget nyium bau tubuh gue. Amoy.
__ADS_1
Ayo dong klik tombol 👍, Biar author nggak males lanjutin ceritanya,
vote juga jangan lupa 😊