
2 bulan telah berlalu. Karena masih libur kuliah, setelah liburan dari Villa Amoy masih belum bertemu dengan teman temannya lagi, grup chat yang biasanya selalu ramai membahas hal yang tidak penting, kini menjadi sangat senyap, tidak ada yang memulai obrolan, Amoy menjadi merasa bersalah karena kelakuannya dengan Miko menjadi berimbas ke semuanya, Alex yang biasa tahan dengan apapun yang di lakukan Amoy kini ia juga hanya terdiam, entah kenapa Amoy yang biasanya tidak perduli juga merasa bersalah pada Alex.
Amoy yang sedang melamun terkaget sendiri dengan suara dering hp nya. Setelah di lihat ternyata Lily yang menelpon.
📞Amoy : ' Halo.'
📞Lily : ' Halo kak, Kak Amoy tolong ke rumah ya, Kak Miko sakit udah 3 hari.'
Belum menjawab apapun Lily sudah memutuskan panggilannya. Amoy merasa ragu untuk bertemu dengan Miko, karena situasi nya sekarang, tapi jika Amoy tidak bertemu dengan Miko perasaanya menjadi tidak enak dan tidak tenang.
📩 Amoy : 'Malvin, aku akan ke rumah Miko, dia lagi sakit, enggak papa kan ?'
Amoy jadi merasa harus bilang pada Malvin, karena bagaimana pun jika Amoy terus berdekatan dengan Miko, itu akan menjadi tidak adil bagi Malvin.
📩 Malvin : ' Iya, hati-hati dijalan, pulang nya jangan malam-malam.'
Untung saja Malvin bukan orang yang egois, sehingga Amoy jadi tidak merasa terlalu bersalah.
~Rumah Miko.
Sebelum masuk ke kamar Miko, Amoy mengambil nafas dalam dalam untuk mempersiapkan hati nya.
Belum bicara apapun dan baru duduk di tepi tempat tidur, Miko sudah menarik tangan Amoy hingga Amoy ikut berbaring di samping Miko.
"Apa ini mimpi ?" Miko dengan erat memeluk Amoy dari belakang. Setelah lama tidak berjumpa rasa rindu begitu sangat kuat hingga terasa sesak. "Maafkan aku, karena egois ingin memiliki mu."
"Kamu nangis." Amoy merasa tengkuk lehernya basah.
__ADS_1
"Aku enggak nangis, aku sedang sakit, mataku jadi perih hingga airnya keluar sendiri."
"Udah makan, udah minum obat ? aku akan mempersiapkanya" Baru akan bangun namun pelukan Miko begitu erat.
"Bukannya ini keterlaluan, apa kamu serius akan meninggalkanku."
"Kita masih berteman."
"Jangan pergi."
Amoy teridam sebentar sampai Miko melonggarkan pelukannya, Amoy kemudian melihat Miko yang sudah tertidur dengan air mata yang sedikit keluar dari pejaman matanya.
Sebelum pulang Amoy akan membuat bubur untuk makan malam Miko, melihat Amoy yang sedang di dapur kemudian Lily menghampirinya.
"Kalian sedang ada masalah." Ujar Lily.
"Kak Amoy bohong."
"Bubur nya udah jadi, nanti kasih ke Miko, aku mau pulang."
"Kak Amoy enggak nginep ?"
"Enggak, aku harus pulang."
"Kakak mau membuang Kak Miko ?"
"Apa maksud mu, kita masih berteman."
__ADS_1
"Kak Miko merokok, kadang juga minum minuman beralkohol." Lily jadi merasa kesal melihat Amoy yang membuat Kakak nya begitu depresi, Lily tau karena saat sedang tidur Miko kadang menyebut nama Amoy.
Amoy merasa kaget, Miko melakukan hal itu lagi, Saat sedang merasa depresi Miko kadang memang merokok, tapi itu sangat jarang sekali, karena Amoy akan memarahinya.
~Sudah Malam, Miko merasa tidurnya lebih nyenyak, saat melihat ke sampingnya dan tidak ada siapapun Miko jadi merasa sedih.
Itu mimpi yang menyakitkan. Miko.
"Udah bangun." Lily membawa bubur yang Amoy masak tadi. "Ayo makan dulu, terus minum obatnya."
"Nanti saja."
"Kak Amoy yang buat, ayo makan."
"Amoy ?"
Ternyata itu memang bukan mimpi. Miko.
karena seringnya bermimpi tentang Amoy, Miko jadi tidak bisa membedakan antara nyata dan tidak nyata.
"Suapin." Ujar Miko bermanja pada Lily.
"Kakak udah gede, makan sendiri aja."
"Ya udah kalau enggak mau nyuapin, enggak mau makan."
"Mental kakak ternyata lebih sakit." Lily merasa heran pada Kakaknya ini, karena begitu kekanakan.
__ADS_1
Setelah membaca jangan lupa like nya.😊