
1 bulan telah berlalu, Amoy akan memberikan jawabannya sesuai dengan janjinya pada Malvin.
Sore ini cuaca nya sedikit mendung, Malvin sedang menunggu Amoy di sebuah kafe dekat kampus, dengan sedikit resah ia terus menghentak hentakan kaki nya. Sudah 1 jam menunggu, namun Amoy tak kunjung datang hingga membuat perasaan Malvin semakin tidak enak.
2 jam, 3 jam, 4 jam berlalu, langit sudah berubah untuk pergantiaan malam, tak ada kabar apapun dari Amoy. Malvin sangat khawatir terjadi sesuatu pada Amoy.
Hari sudah semakin malam, Malvin memutuskan untuk pergi dari Kafe, pikirannya terus tertuju pada Amoy, bahkan tanpa sadar dan pertimbangan Malvin mengemudi ke arah rumah Amoy. Setelah sampai depan gerbang Malvin tidak langsung menemui Amoy. Malvin berpikir pada kemungkinan Amoy tidak datang karena tidak ingin menemuinya.
Langit yang mendung kini telah menumpahkan isi nya pada bumi, semerbak bau tanah yang terkena air hujan menimbulkan aroma yang khas, Malvin terus berjalan menuju rumah Salsa bahkan ia belum pulang ke rumah nya, hujan yang membasahi tubuhnya seolah tak berarti apa-apa. Malvin harus menemukan jawabannya, bagaiamana jika memang terjadi sesuatu pada Amoy.
Baru saja akan mengetuk pintu rumah Salsa, pintu itu telah terbuka.
"Malvin." Ujar Salsa yang bingung melihat Malvin yang sudah basah kuyup.
"Ada yang ingin gue bicarakan."
"Ahh ayo masuk."
"Kita mengobrol di situ aja." Menunjuk pada kursi kayu yang diletakan di teras.
"Sebentar." Salsa masuk kembali. Lalu membawa handuk dan coklat panas yang ia buat tadi.
"Keringin dulu rambut nya, nanti sakit." Memberikan handuk dan Malvin menerimanya.
"Makasih."
__ADS_1
"Minum dulu Vin, coba tenangin diri dulu."
"Sal, gue boleh minta tolong ?"
"Apa."
"Bisa tolong telpon Amoy."
"Kenapa emang ?" Mendengar kata Amoy, membuat perasaan Salsa menjadi tidak enak.
"Harusnya tadi kita ketemuan, tapi Amoy enggak dateng, gue udah beberapa kali telpon tapi enggak dijawab."
"Amoy memang suka susah dihubungi."
Salsa kemudian menelpon Amoy namun sama dengan Malvin, Amoy tidak mengangkat telponnya.
"Enggak di jawab."
Malvin menyandarkan kepalanya pada kursi, kemudian mengacak acakan rambut nya sendiri, sangat terlihat jelas ia begitu menghkawatirkan Amoy. Salsa yang melihat Malvin seperti itu membuatnya merasa sedih, bahkan ada rasa marah pada Amoy, kalau memang ia tidak benar-benar menyukai Malvin harusnya dari awal Amoy tidak memberikan kesempatan pada Malvin.
"Malvin, enggak usah khwatir, Amoy memang kadang suka susah di hubungi." Salsa menepuk pundak Malvin untuk menenangkannya.
"Harusnya jika emang enggak bisa datang, dia kabarin gue." Kecuali memang Amoy tidak peduli pada Malvin.
"Makasih Sal, maaf malam-malam mengganggu." Malvin baru saja akan beranjak pergi.
__ADS_1
"Malvin, lu beneran cinta sama Amoy ?" Entah apa yang dipikirkan Salsa, kalimat itu dengan sendiri keluar dari mulut nya.
"Ya, gue rasa gue benar-benar mencintai nya, belum pernah gue sampai seperti ini." Hadirnya Amoy di kehidupan Malvin seperti membuat kehidupannya lebih menyenangkan atau bahkan akan membuat luka.
"Coba lu telpon Miko, gue rasa dia tau jawabannya." Lagi lagi Salsa berbicara dengan refleks, mungkin ini akan membantu Malvin atau menghancurkan Malvin.
Malvin kemudian menelpon Miko.
📞Miko : 'Hallo.'
📞Malvin : 'Halo, ini gue Malvin.'
📞Miko : 'Malvin ? oh kenapa ?'
📞Malvin : 'Lu lagi bareng Amoy'
📞Miko : 'Enggak usah khawatir, besok lu hubungi dia lagi.' Miko tau apa yang di pikirkan Malvin.
📞Malvin : 'Kenapa harus besok, apa ada seuatu yang terjadi ?'
📞Miko : 'Gue rasa untuk hari ini lu jangan hubungi dia dulu.'
Miko kemudian memutuskan panggilannya, lalu bernjak menghampiri Amoy yang sudah teridur.
Enggak bosen buat ingetin, jangan lupa like nya 😊
__ADS_1