
Karena hujan, Matahari terbenam jadi tidak terlalu kelihatan jelas, sayang sekali padahal Miko dan teman teman nya sedang menunggu moment itu, tapi walaupun sedikit kecewa rasanya masih terbayar dengan pemandangan indah yang dilihat di atas sini.
"Balik ke Villa yu guys." Salsa.
"Ayo, udaranya jadi semakin dingin."Kevin
Amoy melihat ke arah Miko, ia yang memakai jaket saja dingin nya masih terasa, apalagi Miko yang hanya memakai kaos tipis.
Kevin, Salsa dan Alex sudah beranjak pergi, namun Amoy masih duduk, Miko kemudian menghampiri Amoy.
"Kenapa ? ayo ke villa."
"Lu aja yang pake jaketnya." Amoy akan membuka jaket, namun Miko malah merapatkan jaketnya pada tubuh Amoy.
"Enggak usah, ayo jalan."
Miko pergi duluan kemudian Amoy menyusul nya dan gantian ia yang memegang tangan Miko.
"Tangan lu dingin banget." Amoy baru ingat ada sarung tangan di saku celananya, kemudian memakianny pada jari jari Miko.
"Ppfttt." Saruang tangan berwarna pink muda dengan boneka kecil di punggung tangan, membuat tangan Miko jadi kelihatan imut namun menggelikan. Amoy yang berusaha menahan tawa agar Miko tidak melepas sarung tangannya, namun hal seperti ini sangat sayang untuk di lewatkan. "Hahaha kenapa jadi keliatan kaya gini." Amoy tidak bisa menahan tawanya, wajah Miko yang kelihatan cowok banget sangat tidak cocok memakai warna seperti ini.
"Gue lepas nih sarung tangannya." Melihat Amoy yang tidak bisa berhenti ketawa.
"Jangan dilepas, tahan dulu aja sampai ke Villa, ayo jalan udah dingin banget nih."
"Tangan lu lebih hangat." Miko memegang tangan Amoy dan mulai menariknya pergi dari tempat ini.
~Hujan terus saja membasahi tempat ini, rencana mereka untuk bakar-bakar di luar jadi terhambat.
"Kenapa hujan nya enggak berhenti-berhenti." Kevin terus melihat ke arah jendela.
"Harusnya kita datang jangan pas musim hujan." Salsa.
"Liburnya di musim hujan, jadi enggak bisa milih mau libur kapan." Alex.
"Sal, lu enggak mau bantuin Amoy masak." Miko.
"Gue enggak bisa masak."Salsa.
"Lu berdua." Tanya Miko pada Alex dan Kevin.
__ADS_1
"Sama enggak bisa masak." Ucap Kevin dan Alex.
"Lu sendiri enggak bantuin Amoy." Alex.
"Sama gue juga enggak bisa masak." Terakhir kali Miko membantu Amoy masak ia malah mengacaukannya.
Mereka berempat hanya memandang ke luar jendela melihat rintikan hujan sambil menahan lapar, karena sadar tidak bisa memasak, mereka lebih memilih diam daripada membuat kekacaun di dapur dan yang ada malah tidak bisa makan.
"Guys, makanan nya udah siap nih." Amoy memanggil Miko, Kevin, Salsa dan Alex.
Tidak ingin membuang waktunya, mereka segera menuju dapur, karena sudah sangat lapar.
"Wahh, kayanya enak." Salsa
"Udah lama enggak makan masakan lu."Kevin.
"Enak Moy." Alex sudah makan dengan lahap.
Amoy merasa senang karena mereka menikmati makanannya, setelah selesai makan gantian mereka yang mebersihkan bekas makannya, walaupun sedikit ribut karena tidak biasa mengurus hal seperti ini.
Setelah mengobrol sebentar mereka langsung pergi ke tempat tidur masing masing karena sangat lelah di perjalanan yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke tempat ini.
"Astaga, kaget gue, ngapain lu." Miko mendekati Amoy. Ruangan yang cukup gelap membuat Miko sedikit parno melihat Amoy dengan rambut panjang yang berantakan.
"Minum." Menunjukan botol minum yang di pegangnya.
Miko membuka pintu kulkas berharap ada sesuatu yang bisa ia makan.
"Nyari apa." Menaruh kembali botol minum ke dalam kulkas.
"Moy, ada mie instan kan ?"
"Ada, disana." Menunjuk pada lemari di samping kulkas.
"Bikinin gue mie dong."
"Bikin sendiri."
"Lu kan tau gue enggak bisa masaknya." Memohon dengan wajah yang sengaja di buat seimut mungkin, tapi tetap saja Amoy menggapnya seperti wajah yang sedang memelas.
Amoy hanya menghela nafasnya, Miko kadang memang tidak bisa melakukan hal yang sederhana. Karena merasa kasihan atau merasa tidak enak, akhirnya Amoy membuatkan mie untuk Miko, tidak butuh waktu lama untuk membuat mie, Setelah selesai Amoy memberikannya pada Miko.
__ADS_1
"Mau kemana." memegang tangan Amoy.
"Tidur."
"Temenin gue makan dulu." Menarik tangan Amoy hingga Amoy terduduk di kursi sebelah Miko.
Tangan kiri Miko memegang tangan Amoy, sementara tangan kanan nya ia gunakan untuk menyendokan suap demi suap mie instannya.
"Harus gini ya." Melihat tangannya yang masih di pegang Miko.
"Nanti lu kabur, lu mau enggak." Menawari mie instan yang sedang di makan. "kalau mau gue kasih, tapi jangan banyak-banyak mintanya."
"Ishh, enggak tau diri banget orang gue yang bikin, Ko lu emang enggak kenyang ? perasaan tadi makan banyak." Heran melihat muatan perut Miko yang seperti tak penuh-penuh.
"Makanan yang tadi udah di cerna, jadi laper lagi."
Setelah selesai makan Miko masih belum melepas Amoy.
"Lu suka sama gue, dari tadi megangin tangan gue terus ?"Amoy bertanya semau mulut nya berbicara.
Pertanyaan yang di anggap Amoy tidak berarti apapun membuat Miko memalingkan wajah nya di tengah redup nya cahaya lampu.
"Udah ah gue mau tidur." baru akan beranjak dari duduk nya, Amoy yang menghadap ke Miko, dan Miko yang memalingkan wajah nya pada Amoy, membuat wajah mereka saling berdekatan, bahkan bibir mereka sudah saling menempel.
Degup jantung berirama sangat cepat, sudah lama mereka tidak berciuman, karena saling menahan dan ketika bibir saling bertemu lagi rasanya sulit untuk di hindari, yang awal nya hanya menempel kini berubah menjadi kecupan ringan. Sampai lampu utama memancarkan cahaya nya, membuat Miko dan Amoy melepas ciumannya, dan melihat Salsa yang sudah menatap mereka dengan geram.
"Apa yang kalian lakukan ?"
"Sal, gue jelasin besok." Amoy menarik tangan Salsa untuk membawanya ke kamar, namun dengan kasar Salsa melepas tangan Amoy.
"Jelasin sekarang." Salsa duduk menghadap Miko dan Amoy.
"Amoy yang akan jelaskan." Miko baru saja akan pergi namun Amoy menahannya.
"Kenapa gue ? lu mau seenaknya pergi gitu aja." Amoy menjadi merasa kesal pada Miko, rasanya seperti ia ketahuan selingkuh dan Miko membebankan nya pada Amoy.
"Bukan gitu, hanya saja akan berbeda jika dari sudut pandang gue yang jelaskan, semuanya akan semakin rumit."
"Cukup." Salsa jadi semakin kesal melihat Amoy dan Miko yang malah bertengkar. "Sejak kapan kalian begini ? Jika kalian saling menyukai kenapa harus di tutupi, kalian berdua itu udah punya pacar, enggak mikir apa, tindakan kalian bisa menyakiti perasaan Malvin dan Cessa , kalian tuh teralalu egois, terlalu serakah, menginginkan lebih dari satu orang tanpa kalian pikirin ada orang yang sakit hati karena lu pada."
Jangan lupa like nya 😊
__ADS_1