
Berkumpul bersama dengan keluarga adalah moment yang tak bisa di lewatkan, Begitu pula dengan Henry dan keluarganya. Karena jarang bertemu istri dan anak anaknya. Saat libur kerja Henry pasti akan meluangkan waktu bersama mereka. Begitu pula dengan istri dan anak anaknya akan membatalakan semua jadwal mereka demi berkumpul dengan sang ayah.
"Ayah punya oleh oleh buat kalian." Henry membawa banyak oleh oleh yang ada di tangannya.
Semua berteriak senang, terutama Amoy yang paling heboh.
"Yeyyy, punya Amoy mana Yah." mendekat pada Henry.
"Amoy, sabar dong, nanti juga kebagian." Ujar Betry.
"Ahhh." Amoy berteriak, tangannya tergores oleh hiasan vas bunga.
"Tuh kan gamau diem sih." Betry memegang tangan Amoy, melihat goresan yang cukup panjang. "Sini Ibu obati dulu, nanti berbekas kalau nggak segera di tangani." Membawa Amoy untuk mengobati lukanya.
"Nanti oleh olehya buat Kakak." Sella tertawa melihat eksperesi Amoy yang ketakutan, mengejek adiknya memang hal yang menyenangkan.
"Kakak." Amoy menatap sebal Sella.
"Sella" Tegur Betry, karena Sella selalu mengejek adik adiknya. "Yu obatin dulu, oleh olehnya nanti aja ya dibukanya."
Amoy merasa enggan harus meningglkan oleh olehnya, namun ia masih tetap mengikuti Betry.
"Ibu perih." Rengek Amoy dengan manja.
__ADS_1
"Iya makannya diem, kalau gerak gerak nanti malah tambah perih."Meniup niup tangan Amoy agar tidak merasa perih.
"Ibu." Amoy memeluk Betry.
Ibu kalau Alan tidak ada, apa aku akan mendapat semua kasih sayang Ibu. Amoy.
"Kenapa ?"Betry merasa khawatir karena Amoy menangis dan memeluknya. "Kenapa sayang, lukanya perih banget ya. kerumah sakit aja ya."
"Nggak papa kok bu, Perihnya bentar lagi juga ilang." Melepas pelukannya.
"Beneran gak papa ? jangan nangis ya." mengusap sisa air mata yang ada di pipi Amoy.
"Iya." Amoy tersenyum pada Betry.
Alan dan Sella sibuk dengan hadiahnya masing masing, sementara itu Henry mengubak abik belanjaan yang ia bawa, mecari oleh oleh milik Amoy yang lupa ia simpan.
"Ayah punyaku mana ?" Duduk di samping Henry
"Maaf ya Amoy, Ayah rasa oleh oleh punya Amoy ketinggalana di bandara." Walapun masih tak yakin, Karena Henry rasa ia membawanya tadi.
Raut sedih dan kecewa terpampang jelas di muka Amoy, air matanya mengalir begitu saja.
"Kok bisa ketinggalan." Berbicara dengan terpotong potong karena isak tangis.
__ADS_1
"Nanti Ayah beliin lagi ya, Amoy jangan nangis ."
"Nggak mau, bilang aja kalau Ayah memang nggak beli buat Amoy." Amoy pergi ke kamarnya. masih meangis.
"Sayang kenapa sampai ketinggalan begitu." Betry berbicara pada suaminya. "Biar aku aja ya ke kamar Amoy." Betry menghentikan Henry yang akan menyulus Amoy, dikahawatirkan Amoy akan marah padanya.
Betry beberapa kali mengetuk pintu kamar Amoy dan Alan karena memang satu kamar.
"Moy, Ibu masuk ya." membuka pintu perlahan melihat Amoy yang sudah berbaring dengan muka di tutupi bantal. "Jangan nangis, besok terserah deh Amoy mau beli apa aja, nanti Ayah yang beliin."
"Nggak mau kalian emang nggak sayang sama Amoy."
"Amoy, jangan bicara kaya gitu."
Pintu kembali terbuka, Alan masuk menghampiri Ibu dan Amoy. Mengisyaratkan pada Ibunya, biar Alan yang berbicara pada Amoy. Betry mengerti lalu meninggalkan anak kembarnya untuk saling bicara.
"Amoy." Alan menidurkan badannya dengan kepala yang berada diatas perut Amoy.
"Alan jangan tidur di perut Amoy, nanti Amoy jadi makin susah nafas." Masih dengan bantal yang berada di mukanya.
"Kalau nggak mau mati, lepas bantalnya." menarik paksa bantal itu. Terlihat wajah sembab Amoy. "Jangan nangis, Amoy udah jelek nanti nambah jelek." bukannya menghibur Alan malah mengejek Amoy.
"Alannn, sana pergi." Menghantam wajah Alan dengan bantal.
__ADS_1
"Ayo siap siap, kita pergi beli barang yang Amoy mau."