I Love My Friend

I Love My Friend
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Setelah memikirkan dengan matang, Amoy akan mengambil keputusan yang beresiko, setelah mengatakan ini semua Amoy siap untuk kehilangan Salsa, Malvin dan bahkan Miko. Amoy harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, karena hidupnya sudah banyak menyakiti perasaan orang lain maka Amoy akan menanggung semua perbuatannya. Orang pertama yang akan Amoy datangi yaitu Miko, Amoy akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Miko.


~Siang hari di rumah Miko.


"Miko, kamu udah menemukam jawabannya ?" Sebelum berbicara lebih jauh, Amoy akan mendengarkan pendapat Miko tentang masalah hubungannya.


"Jawaban aku, jawaban kamu." Miko bahkan belum mendengar keputusan yang akan Amoy ambil.


"Miko, ayo kita membuat batasan, jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi, saling membatasi diri dan bertemu sewajarnya saja."


"Ternyata sampai di sini berakhirnya. Ada hal yang ingin aku tanyakan, keputusan yang kamu ambil karena kamu malu ketauan sama yang lain, apa karena kamu mencintai Malvin ?" Miko tidak ingin mendengar jawabannya tapi ia tetap bertanya, sebelum nya Amoy tidak pernah bersikap seperti ini.


"Aku mencintainya, selama aku berpacaran, aku belum pernah merasa seperti ini, aku merasa Malvin mencintaiku dengan tulus, dia mampu meredam ego ku, dia mau bersabar dengan sikap ku, dan dengan dia aku menemukan hal yang baru, kehidupan normal yang selama ini aku inginkan."


"Kamu pacaran sama Malvin belum lama, Kenapa begitu yakin ? menurut mu apa yang akan dipikirkan Malvin jika mengetahui kebenaran hubungan kita ."


"Malvin orang yang hangat, dia mempunyai keluarga yang sangat ku inginkan, aku memang hanya beberapa kali bertemu dengan keluarganya, tapi mereka begitu menyambutku dengan baik, aku mendapatkan kasih sayang yang tidak bisa di berikan oleh orang tua ku sendiri. Aku akan jujur pada Malvin tentang hubungan kita, aku akan siap dengan konsekuensi nya."


"Aku akan mengikuti keputusanmu, tapi jangan katakan apapun pada Malvin tentang hubungan kita, tutupi saja dengan rapat, kamu tau konsekuensi nya, mungkin saja Malvin akan memutuskanmu." Miko menyadari betapa Amoy mencintai Malvin dan jika Malvin memutuskan Amoy, Miko tau Amoy akan begitu sedih dan tertekan.


"Jika Malvin memutuskan ku, aku akan menerimanya,aku tidak akan menyesalinya, Malvin percaya padaku dan aku tidak ingin membohinginya, aku tidak ingin hidup seperti ini lagi, aku juga tidak ingin terus menerus membohongi diriku sendiri dan orang lain."


"Amoy, jika semuanya tidak berjalan dengan lancar, kamu bisa kembali padaku kapan saja kamu mau."


"Aku benar-benar berterimakasih karena tuhan mempertemukan ku dengan mu, aku sangat bersyukur selama ini kamu selalu ada untuk ku, aku tau kamu sangat menyayangi ku dan aku pun sangat menyayangi mu, kamu selalu mengkhawatirkan ku, kamu memberiku semangat untuk hidup, kamu mau berada di sisiku saat yang lain meninggalkan ku, begitu banyak hal yang harus ku ucapakan untuk berterimakasih padamu. Miko aku akan menjalani hidupku tanpa bergantung dengan siapa pun lagi, sekali lagi aku ucapkan terimakasih." Amoy kemudian memeluk Miko rasanya begitu lega saat Amoy mengatakan semuanya. "Kamu juga harus jujur pada Cessa."


Sebelum meninggalkan halaman rumah ini, Amoy menatap sebentar rumah Miko, begitu banyak kenangan di rumah ini, Amoy juga tidak tau keputusannya untuk meninggalkan Miko benar atau tidak, untuk kedepannya Amoy juga tidak tau hidupnya akan seperti apa tanpa Miko.


Setelah menyelesaikan masalah nya dengan Miko, Amoy kemudian akan menyelesaikan masalahnya dengan Salsa, karena Salsa tidak menjawab telpon dari Amoy dan tidak membalas chat nya, Amoy memutuskan untuk pergi ke rumah Salsa.


"Amoy, ayo masuk." Ibu Salsa yang membukakan pintu.


"Salsa nya ada tan ?"


"Ada di kamarnya, kamu ke kamar nya saja."


"Iya."


"Moy."


"Kenapa tan."

__ADS_1


"Kamu tau Salsa kenapa ? setelah pulang liburan, dia terus mengurung diri di kamar, Salsa juga jadi sering nangis."


"Aku akan bicara sama Salsa."


Setelah mengetuk pintu, Amoy membuka pintu kamar Salsa, Salsa masih berbaring di tempat tidur.


"Sal, ayo kita bicara."


"Pergi saja."


Bukannya pergi, Amoy mendekat dan duduk di tepian tempat tidur.


"Maaf, gue enggak menyadari lu suka sama Malvin, gue ngerti kenapa lu enggak bilang, sebelum nya terimakasih karena gue tau lu mencoba merelakan Malvin untuk gue dan gue ngerti merelakan orang yang kita cintai pasti sangat sulit, lu pasti kecewa karena perbuatan gue sama Miko. Gue juga enggak bisa menyalahkan lu karena lu enggak bilang dari awal karena mungkin saja gue bisa merelakan Malvin, tapi sekarang gue benar-benar mencintainya, mungkin lu enggak percaya karena lu tau gue cewek yang seperti apa. Gue enggak akan mutusin Malvin kalau bukan Malvin yang mutusin gue, gue akan bilang semua perbuatan yang udah gue lakuin sama Miko, untuk kesananya biar Malvin yang memutuskan hubungan gue dengannya akan berlanjut atau hanya sampai disini." Amoy berbicara tanpa sedikitpun melihat Salsa, mereka saling membelakangi, karena tidak sanggup jika harus saling berhadapan. "Salsa Maaf, karena gue enggak bisa menjadi teman yang baik, bahkan untuk sekarang pun gue masih bersikap egois." Amoy tau Salsa menahan tangisannya, sekarang Amoy merasa bahwa dirinya sangat jahat.


Setelah berbicara dengan Salsa dan Miko, Amoy merasa energinya benar benar terkuras, Amoy tidak tau apakah ia akan sanggup berkata jujur pada Malvin, karena sekarang saja Amoy merasa hatinya sangat sakit, tapi Amoy sudah berjanji dengan dirinya sendiri ia akan menyelesaikannya hari ini.


Rani melihat mobil Amoy yang terparkir di halamannya, karena Amoy tidak kunjung turun dari mobilnya, Rani kemudian mengetuk kaca mobil Amoy. Amoy membuka pintu mobilnya.


"Kenapa Moy, ko enggak langsung keluar."


"Enggak papa ko Mah."


"Baru beberapa hari Mamah enggak ketemu sama kamu rasanya udah kangen banget." Rani memeluk Amoy dengan manja, seperti ia baru di tinggal putrinya sendiri.


"Ayo masuk, Mamah baru buat kue dari resep kamu, nanti kamu cobain ya." Rani begitu semangat jika sudah mengobrol dengan Amoy.


"Moy, kapan datang." Malvin yang akan turun dari tangga.


"Baru aja nyampe." Amoy tersenyum pada Malvin.


"Jangan mendekat, hari ini Amoy milik Mamah, kakak sana main aja sama Deva." Rani menggandeng tangan Amoy untuk menuju dapur.


Malvin yang tidak rela, kemudian mempercepat langkah nya untuk mendekat pada Amoy dan Rani.


"Kenapa jadi milik Mamah." Malvin memegang tangan Amoy, kemudian menyembunyikan Amoy di belakang tubuhnya seperti melindungi Amoy yang akan di culik penjahat.


"Heii, anak ini." Rani memukul lengan Malvin. "Mamah juga ingin mengobrol dengan Amoy."


Melihat kelakuan Rani dan Malvin, membuat Amoy jadi semakin sedih dan tidak sanggup untuk mengatakan kebenarannya.


"Aku mau nyoba kue buatan Mamah dulu, nanti kita ngobrolnya."

__ADS_1


"Tuh kan, awas sana." Rani menyingkirkan Malvin kemudian membawa Amoy ke dapur.


Setelah mencicipi kue sambil mengobrol banyak hal, Amoy kemudian menghampiri Malvin yang berada di taman samping rumah.


"Kenapa lama banget." Malvin yang sudah cemberut menunggu dari tadi.


"Mamah kalau di ajak ngobrol orangnya asik, jadi enggak terasa hehe."


"Sini duduk." Malvin memegang tangan Amoy untuk duduk disampingnya.


Amoy terus menatap Malvin, hingga membuat Malvin menjadi salah tingkah.


"Kenapa ?" Ujar Malvin yang malu di tatap terus menerus. Amoy kemudian memeluk Malvin, setelah berkata jujur mungkin saja Malvin tidak akan menginjinkan Amoy untuk menyentuhnya.


"Malvin, aku enggak tau harus bicara di mulai darimana."


"Kenapa bingung ? bilang saja."


"Malvin maaf, setelah mendengar ini kamu mungkin akan membenci ku dan kecewa pada ku, aku akan memberanikan diri untuk berkata jujur, karena aku mencintaimu aku enggak mau membohongimu dan aku tidak ingin menyembunyikannya.


"Aku akan mendengarkannya." Malvin mengelus rambut Amoy, kemudian menatapnya. "Jangan ragu, katakan saja."


Amoy menceritakan semua kelakuannya dengan Miko, selain sering berciuman Amoy juga mengakui kalau ia sering tidur bersama Miko, menjelaskan bagaimana ia begitu dekat dengan Miko.


Sesuai yang dikatakannya tadi, Malvin mendengarkan Amoy dengan baik tanpa sedikit pun memotong perkataan Amoy. Amoy juga menceritakan tentang keluarganya yang membuat hidup Amoy sangat bergantung pada Miko.


Setelah selesai berbicara, Malvin belum merespon apapun, ia hanya menatap ke bawah dengan tatapan kosongnya. Sementara itu Amoy sudah menangis.


"Aku enggak tau mau bilang apa." Setelah saling terdiam Malvin baru berbicara, itu pun ia tidak tau harus mengatakan apa, karena masih tidak menyangkabhubungan Amoy dan Miko seperti itu.


"Aku enggak akan menyuruh mu untuk memaafkan ku, karena aku mengerti kamu pasti sangat kecewa."


Malvin kemudian memeluk Amoy, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan Amoy.


"Ya aku sangat kecewa, aku juga ingin marah, tapi aku sangat mencintai mu, hingga aku tidak bisa melakukan apapun, mejalani hidup seperti itu pasti sangat berat dan penuh tekanan, tapi aku juga tidak bisa membenarkan kelakuan mu, tetap saja itu salah Moy, kalian tidak bisa seperti itu."


"Malvin maaf." Sekali lagi Amoy berkata maaf, walaupun tidak meminta malvin untuk memaafkannya, Amoy terus menangis, air matanya terus saja keluar.


"Aku akan memaafkanmu, jangan lakukan hal seperti itu lagi, kamu boleh bercerita apapun padaku."


"Terimakasih telah memberiku kesempatan."

__ADS_1


"Aku tau pasti sangat sulit untuk mu bilang jujur padaku, terimakasih telah memberanikan diri untuk berkata jujur, aku tau kamu tulus mencintaiku."


Udah banyak nih, jangan lupa setelah membaca klik tombol like nya 😊


__ADS_2