
Miko merasa ragu untuk memasuki rumah Amoy karena dari tadi Amoy sangat susah dihubungi. Jika ada keluarga Amoy ia akan marah bila Miko datang kerumahnya. Hingga akhirnya Miko memutuskan untuk kembali.
~ Tengah malam Miko mendapat telpon dari Salsa.
Setelah mendapat telpon dari Salsa untuk menyuruhnya menjemput Amoy. Miko tak perlu pikir panjang ia langsung berangkat menuju alamat yang di berikan Salsa.Di perjalanan hati Miko tak begitu tenang, ia sangat khawatir pada Amoy, tadi siang ia tak masuk kuliah, tak bisa dihubungi dan sekarang saat mendapat kabar dari Salsa, Amoy malah tekapar di sebuah bar.
Miko mencari Amoy di tengah kerumunan orang orang yang sedang menari. Matanya mencoba menemukan di gelapnya ruangan yang hanya diterangi lampu warna warni. Dentuman musik yang keras memenuhi ruangan ini.
Salsa melambaikan tangannya pada Miko, Miko menghampirinya, ia melihat Amoy yang berbaring di sofa. Hatinya sedikit lega karena telah menemukan Amoy tapi masih ada kepanikan, karena Amoy bukanlah orang yang cerobah masuk ketempat seperti ini.
"Sal, Amoy kok bisa disini." Tanya Miko, yang tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya.
"Gue juga gak tau kenapa nih anak masuk tempat kaya gini, gue tau dari temen gue katanya dia liat Amoy yang udah mabuk." Setengah berteriak karena suaranya kalah oleh dentuman musik.
"Thanks ya, udah nemenin Amoy." Ujar Miko, yang benar benar bersyukur Salsa ada disamping Amoy.
__ADS_1
"Yaelah lu segala pake terimakasih, gue jugakan temennya, cabut yu. Di sini telinga gue lama lama sakit, bisa budek nih" Salsa sudah dari tadi menahan suara yang masuk kedalam telinganya.
Miko menggendong Amoy yang sudah kehilangan kesadarannya. Salsa membukakan pintu mobil, karena kedua tangan Miko masih menopang badan Amoy.
"Lu mau ikut gue gak." Ujar Miko sebelum masuk kedalam mobil.
"Gue bawa mobil, lu duluan aja."
"Beneran nih ? udah malem bahaya."
"Oh ok. Hati hati bawa mobilnya, gue cabut dulu."
"Iya, bye."
Lu berdua sweet banget sih, gemes gue liatnya. Salsa.
__ADS_1
Jalanan cukup sepi, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, mungkin karena sudah tengah malam juga.
Miko menggendong lagi Amoy sampai ke kamarnya, ia terduduk ditepian tempat tidur, tangannya merapihkan rambut Amoy yang menutupi wajah. Saat akan beranjak untuk menggambil segelas air, Amoy menggenggam tangannya.
"Miko." Panggil Amoy yang masih setengah sadar. Amoy mendudukan tubuhnya, mendekat pada Miko."Jangan pergi." Memeluk Miko.
"Mau ngambil minum dulu." Melepas pelukan Amoy.
"Jangan pergi." Menatap Miko, wajahnya kini saling berdekatan, dengan jarak yang sangat dekat tercium bau alkohol pada hembusan nafas Amoy.
"Iya, aku enggak akan." Belum Miko menyelasaikan kalimatnya, bibir Amoy telah membungkam bibir Miko. "Cup." Satu ciuman Amoy lontarkan kembali. Miko hanya terdiam, tak menolaknya. Saat akan menciumnya lagi kemudian Amoy muntah, mengotori baju Miko dan bajunya sendiri.
"Siall, lu nggak sekalian muntah di mulut gue Moy." Kesal Miko, yang tentu tak direspon Amoy, yang sekarang sudah tertidur kembali. Bau muntahan semerbak menimbulkan bau tak sedap.
Miko mengganti bajunya, tak lupa membawa baju ganti untuk Amoy. Satu kancing kemeja Amoy ia lepaskan, Miko berhenti pada kancing yang ketiga, ragu untuk melanjutkannya. Semoga akal sehatnya masih waras. Tapi sialnya ada dorongan yang tak bisa ia kendalikan.
__ADS_1
Klik tombol 👍 ini ya.