I Love My Friend

I Love My Friend
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Amoy berlari meninggalkan mereka Ayah, Ibu dan Kakanya, rasa sakit di tubuhnya seolah hilang, Kakinya terus melangkah hingga sampai ia di atas gedung rumah sakit. Angin malam terasa sangat dingin, seolah menembus tulang pada tubuh. Air mata belum terhenti. Kakinya kini berada di ujung atas bangunan, Angin yang kencang meniup rambut panjang Amoy yang beranatakan, penampilannya memang sungguh sangat kacau. Depresi, ya kata itulah yang mewakilinya sekarang.


"Bahaya berdiri diatas sana." Seorang anak laki laki yang kira kira seusianya mengampiri Amoy dengan perlahan, takut perempuan yang ada dihadapannya ini nekat melompat dari atas gedung, yang bisa dipastikan akan langsung mati di tempat.


"Jangan mendekat." Amoy tak ingin ada yang menggoyahkan hatinya untuk melompat, Amoy merasa hidupnya di dunia ini sudah tak ada yang menginginkannya.


"Mau lompat ?" Masih menjaga jarak dengan Amoy.


"Bukan urusan kamu, pergi saja dari sini, anggap kamu tidak melihat apapun."


"Aku juga tadinya mau melakuakan hal yang sama dengan mu." Anak laki laki itu menghela nafasnya sebelum ia melanjutkan perkataannya. " Aku nggak tau masalah kamu, bisa di pastikan itu sangat berat, tapi apa dengan bunuh diri bisa menyelesaikan semuanya ? Banyak orang yang sakit berjuang untuk hidup." Anak laki laki itu teringat perjuangn Ibunya. "Jangan sia siakan hidupmu, jangan larut dalam kesedihan, jangan biarkan orang lain yang mengontrol hidup dan matimu." Perlahan mendekat pada Amoy "kamu percaya tuhan ? Aku yakin dibalik skenarionya ia memberikan yang terbaik pada umatnya,anggap saja ini ujian." Menatap Amoy dan meyakinkannya. "pegang tanganku,jangan takut." laki laki itu mengulurkan tanggannya. Amoy dengan ragu akhirnya menggenggam erat tangan itu.


"Minum dulu." Memberikan sebotol air mineral untuk menenangkan Amoy. "Aku Miko, sepertinya usia kita sama." Memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Siapa nama mu."


"Amoy." Menjawab dengan pikiran yang masih kosong.


"Namanya unik."


"Terimakasih, kamu bilang tadi ingin melompat juga, kenapa ?" Tanya Amoy dengan penasaran.


"Aku baru saja kehilangan Ibuku, orang yang paling aku sayang, Karena sakit yang dideritanya ia tak bisa bertahan lebih lama dari dugaan."

__ADS_1


"Aku turut berduka cita."


Miko tersenyum pada Amoy. "Terimakasih, Aku rasa kamu juga baru kehilangan seseorang."


Amoy tersenyum getir. " Saudara kembar ku baru saja meninggal."


"Hari ini kita menghadapi hari yang sulit." Ujar Miko yang menatap Amoy.


Mereka saling terdiam, hembusan angin malam tak membuat Amoy dan Miko merasa kedinginan, mereka juga masih enggan untuk turun kebawah, saling menenangkan diri diatas sini.


"Ayo turun,jangan di sini." Miko mengajak Amoy untuk pergi dari atas gedung ini.


"Nggak mau."


"Aku takut." Amoy belum siap untuk menemui yang lain.


"Tidak apa apa, aku akan menemanimu." Miko melihat tubuh Amoy yang penuh luka dan lebam.


"Kamu tidak akan mengerti, orang tua dan kakak ku tidak akan pernah menerima ku kembali."


"Jangan pikirkan mereka dulu, obati saja lukamu." Miko takut luka luka itu akan menjadi lebih parah.

__ADS_1


"Miko." Amoy menyebut namanya. Entah kenapa Miko menyukainya.


"Iya."


"Kamu mau jadi temenku ?"


"Obati dulu lukamu, baru aku akan mempertimbangkannya." Miko tersenyum pada Amoy dan di balas senyum oleh Amoy.


"Dimana rumah mu ?" Tanya Amoy pada Miko.


"Di kota XX."


"Rumah ku juga sekitar sana, mungkin sekitar 15-20 menit untuk sampai kerumah mu."


"Wahh, kita bisa sering bertemu."


"Miko, kalau aku di tendang dari rumah,aku boleh ke rumah mu ?" Dengan gampang Amoy berbicara seperti itu pada Miko, membuat Miko kaget, Amoy yang tadinya sangat jutek menjadi orang yang sangat terbuka.


"Kita baru ketemu, kamu percaya sama aku ?"


"Kamu orang yang menggagalkan ku untuk mati, kamu juga harus bertanggung jawab pada hidupku yang mungkin sebentar lagi akan terlantar."

__ADS_1


Miko cukup tercengang dengan jawaban Amoy, entah kenapa ia juga merasa menjadi terlibat dalam hidup gadis yang ada disampingnya ini.


Amoy merasa Miko akan menjadi teman yang baik bagi hidupnya.


__ADS_2