
Amoy datang menghampiri Miko yang sedang duduk di sofa, semerbak harum sampo memenuhi penciuman hidung Miko. Miko menepuk tempat duduknya. Mengisyaratkan Amoy untuk duduk di tengah celah diantara kedua kaki Miko. Amoy lalu duduk, posisi Amoy sekarang duduk membelakangi Miko. Miko mengambil handuk yang dipegang Amoy, kemudian mengeringkan rambutnya dan sesekali Miko mencium rambut wangi Amoy.
Amoy memejamkan kepalanya, menikmati sentuhan tangan Miko , Miko mengeringkan rambut Amoy sambil memijatnya.
"Enak banget ko, kayanya lu cocok jadi tukang pijat".
"Kalau ada tukang pijat seganteng gue, nanti tukang pijat aslinya gak laku".
"Iya giman lu aja deh, Sebelah kiri ko". Amoy menunjukan kepalanya untuk dipijat.
"Udah ah, lagian rambutnya juga udah kering". Miko meletakan handuk. Melingkarkan tangannya di perut Amoy, dan menempelkan hidungnya di tengkuk leher.
Amoy masih sibuk dengan hp nya, walaupun tak ada laptop ia tetap harus belajar, Amoy tidak meperdulikan apa yang sedang Miko lakukan.Miko merasa lebih rilex saat ia mencium aroma tubuh Amoy, terutama bau dibagian leher yang paling ia sukai.
"Moy, belajarnya udah dulu dong, nggak bosen apa ?". Masih melingkarkan tangannya, posisi kepala Miko sekarang ada dipundak kecil Amoy.
"Kalau bosen belajar, apa kabar masa depan gue". Masih fokus dengan hpnya.
"Masa depan lu kan bareng gue".
__ADS_1
"Emang hidup lu mau bareng gue terus ?".
"Emang lu nggak mau bareng gue ?". Miko membalikan pertanyaannya.
"Miko, masa depan gak akan ada yang tau kita akan hidup dengan siapa, gue gak bisa bergantung terus sama kehidupan lu". Entah kenapa Amoy merasa sedih dengan perkataanya, membayangkan berpisah dengan Miko saja membuatnya seolah tak sanggup untuk hidup.
Miko terdiam dengan perkataan Amoy, ia benar di masa depan nanti tidak akan ada yang tau hubungannya dengan Amoy akan seperti apa.
"Nonton yu". Amoy memecahkan keheningan, ia tau Miko juga memikirkannnya. "Gue mau nonton film horor". berdiri dari duduknya dan mencari tas untuk mengambil flashdisk yang berisi film yang ia dapat minta tadi.
"Kaya yang berani aja lu nonton begitun".
Mereka berdua menonton film dengan ditemani cemilan yang Miko beli tadi, Amoy sesekali menjerit dan bersembunyi dibelakang tubuh Miko untuk menghalangi pandangannya.
"Diem apa lu, dari tadi kuping gue berasa budek". Amoy memang menjerit cukup kencang.
"Kan serem ko". Amoy melingkarkan tangannya ditangan Miko.
"Ya tau takut, malah mau nonton film kaya gini ?".
__ADS_1
"Penasaran abisnya". Amoy menjerit lagi ketika hantu itu muncul kembali di layar tv. Miko hanya mendengus tidak bisa menikmati film tersebut.
Setelah filmnya hampir selesai, Miko bangun dari duduknya. membuat Amoy seketika panik. " Kenapa ko?".
"Denger Moy, ada yang lebih serem lagi".
Wajah Amoy sekarang benar benar terlihat ketakutan " Apa ? lu jangan nakutin gue dong".
Miko membungkukan badannya. Pantatnya tepat sekali di depan muka Amoy.
"Dutttttttt". Suara panjang kentut Miko mendominasi dari suara film tersebut. "Bhhahaha". Miko dengan puas tertawa, tak memperdulikan wajah Amoy yang sedang sangat kesal .
"Anjiirr, nyebelin bangut lu". Amoy menendang pantat Miko dengan keras.
"Ahhh, pantat gue sakit Moy". sambil mengelus pantatnya.
"Makanya jadi orang tuh jangan nyebelin".
Setelah cape dengan pertengkaran tadi. Miko dan Amoy sekarang sudah naik ke tempat tidur . Mengistirahatkan badannya. Amoy tidur membelakngi tubuh miko dan Miko memeluknya dari belakang.
__ADS_1