
Di perjalanan Miko hanya terdiam saat mengantar Amoy pulang, tak sepatah katapun ia keluarkan, Amoy juga terdiam tak berani mengajak Miko berbicara.
Miko menurunkan Amoy di depan rumahnya, hanya ucapan terimaksih yang bisa Amoy katakan. Setelah menatap jauh kepergian Miko sampai mobilnya tak terlihat lagi. Amoy baru meninggalkan gerbang rumah untuk masuk kedalam.
Pertemuannya dengan Dion membangunkan kembali rasa yang tak seharunya ia pertahankan. Amoy kira dirinya telah mampu melupakan Dion, namun saat menatap matanya tadi sepercik rasa berharap untuk kembali timbul begitu saja, Amoy mengharapkan Dion meminta maaf padanya dan jika ia mengajak balikan lagi, Amoy mungkin akan mepertimbangkannya. Namun hatinya begitu kecewa dan sedih, Dion seperti tak merasa bersalah apapun pada Amoy.
Dasar bodoh, kenapa bisa menyukai laki laki
seperti itu. Amoy.
__ADS_1
Amoy membuka pelan pintu rumah, menyembulkan kepalanya sebelum seluruh badan masuk kedalam. Helaan nafas lega keluar dari mulutnya, ia tak melihat Ibunya, dan berpikir mungkin ia sudah pergi.
Saat ada dikamar Amoy hanya merebahkan badannya, mengembalikan energi sebelum ia belajar. Namun tak ada semangat belajar yang terlintas, memang saat sedih seperti ini sangat sulit untuk bangkit. Mungkin setelah ia menyegarkan badan, otaknya akan kembali fress.
Duduk menghadap tumpukan buku, namun pikiran masih belum terkumpul sepenuhnya. Amoy segera menyadarkan diri untuk kembali pada sebuah kenyataan. Saat mulai fokus pada buku buku yang ada dihadapnnya, ia baru tersadar satu buku yang ada jawabannya tertinggal di rumah Miko.
"Dasar pembunhhhhh." Betry berteriak marah pada Amoy, ia menatap kucing manisnya yang sekarang telah berlumuran darah.
"Ibu." Amoy memanggil takut Ibunya, suara seraknya masih terdengar di kesunyiaan.
__ADS_1
"Berhenti panggil aku Ibu." Mata Betry dengan penuh kebencian menatap Amoy yang masih tak bergeming " Ya tuhan, bagaimana bisa seorang iblis pembunuh keluar dari rahim ku." Suara teriakan yang bercampur isak tangis keluar dari mulut Betry, ia mengambil kucing yang sudah lama ia rawat lalu pergi meninggalkan Amoy tanpa menatapnya kembali.
Amoy sudah tak memiliki energi lagi, bahkan hanya untuk sekedar menopang badannya. Amoy terduduk disamping tempat ia menabrak kucing tadi, bahkan lumuran darah sudah terkena pakainnya. Amoy tak bisa menahan tangisannya
"Ibu, aku bukan seorang pembunuh, tolong berhenti memanggilku seorang pembunuh, kecelakaan itu bukan hal yang disengaja." Amoy terus berbicara pada dirinya sendiri, mengeluarkan kata itu secara berulang ulang dan isak tangis masih terus keluar dari mulutnya.
Aku terus meyakinkan diriku bahwa kamu telah tiada, namun sepertinya kamu belum bisa meninggalkanku, kadang aku seperti orang gila yang terus mendengar dan melihat kehadiranmu. kamu tau ? bagaimana aku bertahan dengan semua ini, kadang semangat untuk hidup saja terputus ketika Ibu memanggil ku seorang pembunuh. Sungguh ini sangat menyakitkan, seringnya Ibu bilang aku pembunuh, membuat kata itu seperti tertancap di jiwaku dan seperti bagaian dari hidupku.
Yuk klik tombol 👍
__ADS_1