
Alan menunggu Amoy yang sedang siap siap untuk pergi membeli sesuatu, Setelah susah payah akhirnya Alan bisa juga mengajak Amoy keluar. Alan membujuk Amoy agar ia tidak marah dan sedih karena oleh olehnya yang tertinggal.
"Alan, maaf Ayah nggak bisa menemani kalian pergi, ada telpon dari perusahan yang menyuruh Ayah untuk kembali."
"Nggapapa Yah, Alan sama Amoy nanti pergi sama Pak Wagi saja." Supir yang bekerja di rumah ini.
~Alan dan Amoy pergi berbelanja, Diperjalan tiab tiba, awan yang sudah cerah sekarang telah berubah menjadi gelap kembali, gemuruh petir terdengar sangat menakutkan seolah ia sedang marah pada isi bumi. Hujan begitu deras tak henti hentinya menuangkan air pada bumi. Jalanan di penuhi dengan kabut sehingga menghalangi pandangan para pengemudi.
"Alan, Amoy takut." Terdengar kembali suara petir.
"Jangan takut Moy, Alan ada disini." Memeluk Amoy, sesekali menutup telinga Amoy untuk menutupi suara petir.
Mobil yang ditumpangi Amoy dan Alan tiba tiba kehilangan keseimbangan, menjadi tak terkendali melaju dengan cepat tanpa bisa dikontrol.
__ADS_1
"Alan, Amoy takut. Mobilnya kenapa ?" Jerit Amoy dengan suara tangisan. Sementara lengannya mencekam baju Alan, rasa takutnya menjadi semakin besar. Alan mencoba untuk menenangkan Amoy, dan masih memeluknya.
"Pak ini kenapa ya." Panik Alan, bertanya pada supir.
Belum sempat sang supir menjawab, tiba tiba dengan keras mobil ini menghantam truk berukuran besar hingga mobil terbalik,sedikit demi sedikit Asap keluar dari mobil tersebut, semenatara hujan masih belum berhenti.
"Alan." Suara lirih Amoy memanggil Alan yang masih ada dipelukannya. "Alan." tangis Amoy kembali lagi, namun matanya mulai terpejam. Semenatar itu sang supir meninggal di tempat.
"Alan." Amoy memanggil Alan, namun ia tak ada disampingnya. Amoy mecabut semua selang dan jarum yang menancap pada tubuh, tak memperdulikan rasa sakitnya, ia berjalan dengan perlahan untuk mencari Alan.
Terlihat Ayah, Ibu dan Sella yang menunggu di depan ruangan operasi. Semua orang yang ada disana menangis, terutama Betry yang histeris, Henry mecoba menenangkan istrinya walaupun ia juga tak kuasa menahan tangisan. Betry berlutut pada sang dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Amoy yang melihat tak berani untuk mendekat, kakinya seperti tak mampu untuk berjalan.
"Tolong selamatkan anak saya dok." Masih menangis dan berlutut, semenatara itu Henry mencoba membangunkan Betry.
__ADS_1
"Maaf bu, kami telah berusah sebisa mungkin, terlalu banyak organ yang rusak pada tubuh." Dokter itu sejenak terdiam.
"Dia punya kembaran, Anda boleh menggantikan organ tubuhnya yang rusak." Walaupun Betry tau Alan sudah tidan bisa di selamatkan lagi. Betry masih belum menguasi tubuh dan pikirannya. "Tolong selamatkan anak saya dokter, anda bilang organ tubuhnya banyak yang rusak, Anda boleh menggantikan hatinya, paru paru, ginjal bahkan saya akan menyetujui jika ada trnasplantasi jantung."
Henry dan Sella yang mendengar omongan Betry sangat kaget, terutama Amoy. ia mematung mendengar semuanya, Ibu sama sekali tak memperduliaknnya, Betry melihat Amoy yang berdiri tak jauh darinya, lalu menghampiri Amoy.
"Plakkk." Tamparan keras menghujani pipi Amoy. Bukan pelukan yang ia dapat atas kejadian tadi namum semua orang seperti menyalahkannya,
"Gara-gara kamu, Kita harus kehilangan Alan."
Pipi Amoy sekarang telah dipenuhui cucuran air mata.
"Seharunya kamu yang mati." Betry melanjutkan perkatannya, Sungguh Amoy yang mendengar merasa sangat sakit.
__ADS_1