I Love My Friend

I Love My Friend
Berhenti Menyalahkanku.


__ADS_3

Setelah 7 tahun kematian Alan, Amoy belum pernah bisa melupakan kejadian tersebut, Bagaimana ia akan lupa jika seseorang terus mengingat dan menyalahkannya. Mimpi buruk terkadang mampir di sela tidurnya, rasa bersalah terus saja menghantui. Kadang saat Amoy tertidur ia merasa ada Alan di sampingnya.


Terik matahari telah masuk ke celah celah jendela kamar Amoy. Sudah siang Amoy tak keluar dari kamarnya. Setelah kejadian malam tadi, Amoy menabrak kucing kesayangan Ibunya tak berani keluar dari kamar, ia bahkan menahan lapar karena dari kemarin sore belum makan apapun. Kalau bukan karena ada kuliah siang ini Amoy sementara tak akan keluar kamar dulu. Namun ia tidak bisa bolos kuliah karena ada MK yang penting.


Jantung Amoy berdegup kencang, takut ia berhadapan dengan Betry. Karen Henry dan Sella sedang tidak ada dirumah, bisa saja saking marahnya, Ibu bisa bisa membunuhnya.


Langkah Amoy terhenti didepan pintu, Betry baru saja keluar dari pintu mobil, raut wajah sedih dan lelah tertampang di wajah yang sudah menua itu. Sialnya Amoy tak sempat menghindar.


"Plakk." Tamparan keras yang entah berapa kali Amoy dapat, kini kembali Betry lakukan. "Anak sialan." Tangannya kini telah mencekam leher Amoy, hingga Amoy terbatuk batuk, ia mencoba melepaskan tangan Ibunya yang seperti orang kerasukan. "Kenapa bukan kamu saja yang mati, belum puas kamu membunuh anakku dan sekarang kamu membunuh kucingku." Benar saja kucing yang kemarin Amoy tabrak tak bisa diselamatkan.

__ADS_1


"Ibu sadarlah" Amoy berhasil melepas cengakaman tangan Betry, terlihat leher Amoy yang memerah terjeplak jari tangan.


"Kamu yang harus sadar, bisa saja besok kamu membunuh Ayah dan Kakak mu, atau bisa jadi kamu membunhku."


"Ibu." Air mata Amoy sudah tak bisa di bendung lagi.


"Aku harus membunuhmu, sebelum kamu membunuh yang lain." Tangan Betry mencoba menampar Amoy lagi, tapi Amoy berhasil menepisnya.


" Karena semua memang gara gara kamu, saat Alan masih hidup kamu tidak menyukainya kan kamu bahkan membenci Alan."

__ADS_1


"Ya, aku memang terkadang membencinya, aku iri padanya, Ibu terus saja membela Alan walau Ibu tau dia yang salah, Ibu juga selalu membandingkan ku dengan Sella. Ibu tak pernah membagi rata kasih sayang Ibu.Ibu selalu pilih kasih sayang. Ibu terkadang baik padaku jika hanya ada Ayah."


"Kamu memang egois, kamu terlalu serakah, harusnya kamu bersyukur karena aku masih mau mengurusmu. Tapi kamu malah menjadi monster yang ingin segalanya, pantas saja ada jiwa pembunuh dalam hidupmu."


"Serakah ? Apa salah bu, ketika seorang anak meminta kasih sayang Ibunya, aku tidak meminta semuanya, aku hanya ingin Ibu membaginya, menyisahkan sedikit kasih sayang Ibu untuk ku." Amoy sudah bingung mau mengatakn apalagi pada Ibunya, apa pun yang ia katakan selalu salah di mata Betry. "Ibu, dengarkan aku baik baik. Alan yang memaksa mengajak ku keluar." Mengingat memang Alan yang memaksa Amoy untuk pergi dengannya. "Kenapa hanya meyalahkanku, bukannya Sella juga terlibat, kalau saja Sella tidak mengumpatkan oleh oleh miliku, apa aku dan Alan akan keluar ? Ibu terus melemparkan semua kesalahan padaku. Ibu tak pernah menyalahkan Sella karena memang Ibu hanya sayang pada Alan dan Sella."


"Kenapa Ibu harus menyalahkan Sella yang jelas itu kesalahanmu, Ibu tau kamu melakuakn sesuatu pada Alan sebelum ia meniggal."


Amoy mengehla nafasnya, Ibunya benar benar terobsesi dengan Alan.

__ADS_1


"Alan juga saudaraku, kembaranku, bagaimana bisa aku tega melakukan hal yang dapat membahayakannya." Amoy menatap lekat Ibunya. "Ibu sadarlah, Alan sudah tiada, bukan hanya Ibu yang terpukul atas kehilangannya, aku juga sangat sedih bu."


Amoy meninggalkan Betry, Percuma saja Amoy bicara panjang lebar, Ibunya itu tak akan pernah mengerti.


__ADS_2