
Miko masih menatap sesuatu dibalik baju itu, pikirannya sedang tarik menarik berlawanan dengan hasratnya. Miko tidak akan melakukan lebih jauh, ia hanya ingin menyentuh dan merasakan seberapa besar dan kenyalnya itu. Tangannya mulai terangkat, ia meneguk ludahnya sendiri.
Telponnya yang berdering membuat Miko kaget sendiri. Dilihatnya siapa yang menelpon di tengah malam begini dan tersentak nama Cessa yang muncul dari layar hpnya.
📞 Miko : 'Halo, kenapa yang ?' menjauhi tempat tidur.
📞Cessa : 'Eh enggapapa kok.' Sebenarnya Cessa Refleks menelpon Miko.
📞Miko : 'Udah malem, tumben belum tidur.'
📞Cessa : 'Yang, kamu enggapapa kan ?'
📞Miko : 'Aku baik baik aja kok.'
📞Cessa : Perasaan aku nggak enak, kamu enggak ngelakuin hal yang aneh aneh kan.
Miko belum menjawabnya, masih terdiam. Bagaimana Cessa tau pikiran kotornya ini.
📞Cessa : 'Halo sayang, jangan buat aku takut ih.'
📞Miko : 'Enggak, emangnya aku mau ngelakuin apa tengah malem gini.'
Maaf Cessa, aku baru saja memikirkan dan bahkan akan melakukan hal gila. Miko.
__ADS_1
📞Cessa : 'Iya sih, Yaudh aku mau tidur ya, udah ngantuk nih.'
📞Miko :' Selamat tidur.'
Miko bergidik, insting Cessa memang luar biasa.
Miko tak melanjutkannya, takut tak bisa mengontrolnya, apalagi Amoy sedang tak sadarkan diri, Miko menelpon pegawai perempuan yang bekerja dirumah ini.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu kamar terdengar. Miko menyuruhnya masuk. Terlihat pegawai itu yang kebingungan tak biasanya tuannya memanggil di tengah malam seperti ini apalagi menyuruhnya untuk memasuki kamar yang hampir tidak terjamah ini. Untung saja pegawai ini masih terjaga kalau tidak Miko pasti akan marah.
Pegawai itu membawa air hangat dan lap, sesuai dengan perintah Miko. Miko menghampirinya.
"Bersihkan tubuhnya dengan perlahan, jangan sampai mengganggu tidurnya, setelah itu tolong gantikan pakaiannya." Setelah memberi perintah, Miko lalu duduk di sofa yang membelakangi tempat tidur.
Ia tau siapa perempuan yang sedang terbaring ini, dia adalah orang yang seenaknya memasuki kamar ini. Orang yang berani memarahi tuannya.
Satu persatu pegawai itu menanggalkan pakain Amoy, sebenarnya ia ragu karena Miko masih ada didalam walaupun posisinya membelakangi. Tapi ia tetap melanjutkannya, jika memang tuannya ingin melakuakan sesuatu pasti ia tak akan di panggil ke sini dan menyuruhnya mengganti pakaian perempuan ini.
"Sudah selesai tuan." Menghampiri Miko. "Sprei nya juga kotor, apa perlu saya ganti."
"Ganti saja." Masih menyenderkan kepalanya di sofa. Pegawai itu belum pergi, masih berdiri disampingnya.
"Anu tuan, bagaimana saya mengganti sprei nya, jika nona masih berbaring disana." Ujar pegawai dengan ragu, mencoba berbicara dengan hati hati.
__ADS_1
Miko mengerti, lalu ia menggendong Amoy dan membaringkannya di sofa tempat Miko duduk tadi, Miko menjadikan pahanya sebagai pengganti bantal.
Agghhh tuan manis banget sih, aku juga mau diperlakuakn seperti itu. Pegawai.
mengingat bahkan berharap karena memang usianya hanya 3 tahun lebih tua.
Setelah selesai mengganti sprei, pegawai tersebut lalu pamit untuk keluar.
"Tunggu, besok sediakan obat dan makanan yang bisa menghilangkan pengar."
"Baik tuan."
Siapa perempuan itu, tuan terlihat sangat menyayanginya, seperti ia menyayangi nona Lily. Mungkin dia pacarnya ? tapi sepertinya bukan, nona itu terlalu kasar memperlakukan tuan. Pegawai.
Amoy masih berbaring di pangkuan Miko. Miko belum memindahkan Amoy ke tempat tidur lagi, ia masih menyenderkan kepalanya pada sofa, memejamkan matanya walau tak tidur, Pikirannya masih berlari lari.
" Besok-besok awas aja kalau lu mabuk kaya gini lagi." Ujar Miko yang berbicara pada Amoy, yang masih tertidur.
Setelah memindahkan Amoy dan menyelimutinya. Miko ikut berbaring di samping Amoy.
Setelah membaca jangan lupa Like,
klik tombol 👍.
__ADS_1