
Amoy bangun sangat pagi,karena begitu semangat, sebelum pergi ke rumah Malvin, Amoy akan menyempatkan waktu untuk membuat brownis coklat untuk ibu nya Malvin. Setelah selesai membuat kue, kemudian Amoy langsung menyiapkan pakaian yang mau ia pakai dan berdandan agar terlihat lebih cantik namun tidak terlalu berlebihan. Setelah siap kemudain Amoy baru menyuruh Malvin untuk menjemputnya.
~Rumah Malvin
Sebelum membuka pintunya Malvin memperingati Amoy tentang ibu nya.
"Hmm Moy, jangan kaget ya kalau Mamah nanti banyak nanya sama kamu."
"Nanya apa." Amoy menjadi panik, takut tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu nya Malvin.
"Aku juga enggak tau Mamah nanti nanya apa, yang pasti dia bakal sedikit cerewet, eh bukan sedikit sih, nanti juga tau, ayo masuk." Membuka pintu dan mempersilahkan Amoy masuk.
Seorang perempuan menghampiri Amoy dan Kevin.
"Selamat siang Kak." Memperkenalkan diri sesopan mungkin pada keluarga Malvin.
"Dia Mamah ku." Ujar Malvin yang mendengar Amoy memangil Ibu nya dengan sebutan Kakak.
"Eh, Maaf tante, aku kira tante Kakak nya Malvin." Amoy tak menyangka wanita di hadapannya ini seorang Ibu, karena terlihat masih sangat muda dan segar.
Rani tentu senang di bilang Kakak nya Malvin, karena wajah nya bisa menyembunyikan umur.
"Haha, aduh jadi malu di sangka muda."
"Mamah senangkan." Ujar Malvin yang tak percaya kalau Ibu nya malu disangka masih muda.
"Ishh kamu." Rani menatap jutek Malvin. "Ini Amoy ya, di foto cantik, aslinya lebih cantik."
"hehe, makasih tante, ini aku buat brownis coklat, kata Malvin tante menyukainya."
"Wahhh makasih ya, btw jangan panggil tante dong, panggil aja Mamah." Rani menggandeng tangan Amoy.
Malvim mentap Ibu nya.
"Jangan tatap mamah kaya gitu." Ujar Rani pada Malvin.
"Oh iya, Mamah belum selesai masaknya, Deva lagi rewel mauya di temenin terus, Mamah jadi enggak enak sama kamu Moy."
"Aku bantuian masak ya tan, eh Mah." Amoy sebenarnya masih canggung untuk berbicara santai pada Ibu nya Malvin.
"Boleh, tapi enggak papa nih, kamu udah rapi cantik gini masuk dapur."
__ADS_1
"Enggak papa dong."
"Kalau gitu ayo ke dapur."
"Yu."
"Oh ya Kak, Kakak jagain Deva dulu ya, Mamah sama Amoy mau masak dulu."
"Aku mau ikut." Jika Amoy di tinggalkan berdua dengan Ibu nya, Malvin takut Ibu akan menginterogasi dan bertanya macam macam pada Amoy.
"Jangan khawatir, Mamah enggak suka gigit manusia." Rani tau apa yang di pikirkan anak nya itu. "Udah sana, temenin Deva."
Amoy tersenyum pada Malvin, mengisyaratkan ia tidak apa apa, Malvin dengan berat akhirnya mau meninggalkan Amoy dan Ibu nya.
"Oh ya Mah, Deva itu adik nya Malvin ?"
"Iya, Deva masih berumur 2 tahun jadi masih manja manjanya."
" Usia segitu pasti lagi lucu lucu nya."
"Hehe Iya, Malvin deket banget sama adek nya, kalau Malvin pergi, Deva suka nangis pengen ikut.
"Oh ya, aku jadi pengen ketemu Deva pasti lucu banget."
"Selain cantik Amoy jago masuk ternyata."
"Ah enggak kok Mah, masih belajar."
"Ish ga usah malu, Mamah bisa bedain mana cewek yang suka main di dapur sama yang pura-pura."
"Haha Mamah bisa aja."
"Mamah suka cewek yang bisa masak, jaman sekarang anak muda kaya kamu jarang banget terjun ke dapur, udah lama Mamah menginginkan hal seperti ini, masak bareng kamu rasanya mamah seperti punga anak perempuan.
Aku juga senang bisa masak bareng seperti ini, karena aku juga menginginkan hal yang sama, bisa masak bareng dengan seorang Ibu. Amoy.
"Moy, kamu enggak papa kan." Ujar Malvin yang tiba-tiba muncul.
"Dasar anak ini, di bilangin Mamah enggak gigit." Rani kesal melihat Malvin yang dari tadi melihatnya dengan curiga. "Sana temenin Deva, nanti bangun."
"Udah bangun, ini mau ngambil susu." Setelah mengambil susu Malvin kemudian kembali ke kamar Deva.
__ADS_1
"Oh ya Moy, kamu kalau lagi berduan sama Malvin ngapain."
"Hah." Amoy menjadi gugup, takut di tanya ke hal yang lebih sensitif.
"Maksud Mamah, Malvin sering ajakin kamu ngobrol enggak, Malvin kan orang nya pendiem."
"Sering ngobrol, tapi emang suka pendiem."
"Tau enggak, Mamah sempat khawatir Malvin enggak normal, malah tadi nya Mamah mau bawa dia ke psikiater."
"Maksudnya Mah ?"
"Mamah kira Malvin enggak suka cewek, abis nya jutek banget, tapi setelah Mamah tau Malvin punya pacar, Mamah seneng banget Moy, makasih ya." Rani memegang tangan Amoy dengan tulus ia berterimakasih karena Amoy mau karena mau melibatkan hidupnya dengan kehidupan Malvin.
Amoy juga begitu bersyukur karena Malvin mau mencintainya, dan hal yang membuat Amoy sangat senang yaitu kenyataan bahwa ia adalah pacar pertama Malvin. Amoy begitu terharu Malvin mau membuka hati untuk mencintainya.
~Makan siang.
Setelah makanan sudah di hidangkan di meja, Rani baru memanggil Malvin.
"Coba masakan Amoy Kak." Rani menyuapi Malvin, mungkin jika tidak tau mereka Ibu dan anak, Amoy yakin orang akan beranggapan mereka berdua pacaran. "Enak kan."
"Iya enak." Malvin kemudian mentap Amoy dan tersenyum, hingga membuat Amoy tersipu.
"Calon mantu idaman." Ujar Rani yang membuat Amoy semakin tersipu.
Setelah makan siang Malvin kemudian akan mengantar Amoy pulang.
"Nanti main lagi ya, Ketemu sama Papah nya Malvin juga."
"Iya Mah, nanti aku main lagi."
"Nanti kita ke salon bareng, terus shoping, jalan-jalan."
"Mah, ngobrol nya nanti lagi ya." Ujar Malvin yang melihat Ibu nya yang dari tadi tidak berhenti bicara. Amoy hanya tersenyum melihat kelakuan Ibu dan anak ini.
"Aku pulang dulu ya Mah." Pamit Amoy
"Ok." Rani tampak sedih karena Amoy akan pulang, padahal masih ingin mengobrol.
Amoy kira pertemuan pertamanya dengan Ibu Malvin akan canggung, namun Rani orang yang begitu asik, hingga pertemuan pertama terasa seperti orang yang sudah kenal lama dan begitu akrab.
__ADS_1
udah banyakan ya.☺
jangan lupa like nya😊