
"Kak Mikooo." Rengekan Lily yang mencoba membangunkan kakaknya sambil merebut selimut berharap Miko bangun. "Kakak bangunm"
"Kenapa Li, pagi pagi gini jangan gangguin kakak. " Miko merapatkan kembali selimutnya.
Lily melihat ke arah jendela kamar Miko, memastikan bahwa sekarang bukanlah pagi. "Pagi apanya. Matahari udah naik begini." Miko menutup telinganya dengan bantal, berharap Lily pergi dari kamarnya.
"Bangun ih, ade mau curhat penting banget menyangkut masalah hidup."Lily tersenyum karena Miko akhirnya mau bangun juga.
"Kenapa, kamu berantem ya."Miko bangun masih dengan suara serak dan mencoba memposisikan duduknya agar tidak tertidur kembali.
"Bukan. jadi gini kak." Lily mulai dengan ceritanya, menatap Miko dengan serius. "Ade kan kemarin ke toko buku bareng temen temen, awalnya ade nggak nyadar di ikuti, temen ade yang yang tau. Tau gak yang ngikutin Siapa ?" ujar Lily dengan semangat. Sementara Miko hanya diam " Ih kakak coba bilang, ade dikutin siapa gitu." Lily menatap sebal Miko karena ia hanya diam saja.
"Ade emang di ikuti siapa?" Miko berbicara sesuai dengan perintah Lily.
"Ketua Osis di sekolah Ade, kata temen Ade dia suka ngikutin Ade. " Lily berbicara dengan heboh.
"Ya terus ?" bingung Miko.
"Kakak tau ngga?" belum selesai Lily berbicara tapi ucapannya di potong Miko.
__ADS_1
"Engga mau tau" ejek Miko.
"Ihhh kakak." Lily mulai ngambek. sementara Miko hanya tertawa.
"Iya iya jangan ngambek gitu." Miko mencubit gemas hidung Lily.
"Ketua Osis itu minta nomer hp Ade, katanya mau kenal ade lebih deket." Lily bercerita kembali dengan penuh semangat, sementara wajah putihnya memerah karena malu.
"Ngapain dia mau kenal Ade lebih dekat." Miko paham dengan perkataan adiknya tapi ia hanya memastikan.
"Katanya dia suka sama Ade." Sekarang wajah Lily benar benar memerah seperti orang yang terkena demam.
"Wily andreaga." Lily mengucapkannya dengan pelan.
"Ok, besok kakak tunggu dia di gerbang sekolah."
"Mau ngapain ?" bingung dengan maksud kakakanya.
"Mau bilang jangan berani deketin, jangan jadi penguntit, enggak boleh terlalu dekat pokonya, kamu itu masih kecil. Sekolah yang benar dulu aja, enggak usah mikirin kaya gitu." Miko menahan nada bicara nya, tapi masih dengan suara tegas.
__ADS_1
"Kenapa ? Ade itu udah remaja, wajar dong kalau Ade mulai suka seseorang."
"Iya kakak tau, tapi di usia kamu yang sekarang coba hindari hal seperti ini, kalian itu masih labil. Emang sopan ya mengikuti seseorang dengan jadi penguntit. Mungkin sekarang kamu gak masalah, karena kamu juga suka sama dia, coba kalau kamu di ikuti sama orang yang enggak kamu suka, emang kamu mau diikuti seperti itu, emang kamu nggak marah, emang kamu nggak takut ? "
"Ade kan mau curhat. kenapa kakak marah." Lily beranjak pergi sambil marah.
"Awas aja ya kamu kalau berani pacaran." Teriak Miko yang dari tadi sudah mulai kesal.
"Pokonya, jangan pernah kesekolahan ade, tau gitu Ade gak akan cerita sama Kakak". Lily pergi membanting pintu kamar Miko dengan kesal.
Miko tau Lily sekarang bukan anak kecil yang selalu minta mainan. Tapi adik kecilnya ini sudah beranjak remaja. Masih labil dengan hubungan percintaan. Miko hanya takut adiknya salah bergaul dengan orang orang yang akan membuat adik polosnya menjadi nakal. Walaupun dia yang posisinya sebagai ketua Osis, Mungkin walaupun dia di kenal karena kebaikannya, tapi dia juga laki laki, Miko paham betul Pikiran seorang laki laki itu seperti apa. Apalagi yang baru beranjak remaja, Keingintahuannya besar tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
Ketika akan tertidur kembali. Suara pintu terbuka. Amoy menerobos masuk ke kamar Miko. berjalan mendekati kamar tidur Miko dan duduk di tepian kasur.
"Miko.. Ayo kita pacaran."
__ADS_1