
Ruangan ini menjadi sunyi, mereka sibuk dengan kegiatan masing masing. Miko, yang masih fokus dengan tugasnya, dan Amoy yang masih fokus memperhatikan wajah Miko terutama dibagian bibir. Mereka tak ada yang berbicara, kini di ruangan ini hanya terdengar suara ketikan keyboard laptop.
Amoy masih berperang dengan dirinya sendiri untuk menahan agar ia tidak mencium Miko, ya, walaupun jika Amoy memintanya Miko tak akan keberatan sama sekali. Tapi tetap saja ada rasa gengsi. Sebelum Miko menciummya apakah Miko memikirkan dulu apa yang Amoy pikirkan. Seperti rasa gelisah ? Amoy terus bertanya pada dirinya sendiri.
Gue juga pengen bisa cium lu semau gue, tanpa ada rasa bersalah, tanpa harus gue pikirin dulu, Miko kenapa lu bisa cium gue seenaknya, apa lu gak takut melebihi batas ? saat lu nyium gue adakah rasa bersalah pada Cessa ? atau saat lu ciuman sama gue lu ngebayangin lagi ciuman sama Cessa ? Ahhhhh mana mungkin Miko ngebayangin gue sebagai Cessa ,sedangkan gue hanya bongkahan upil. Apa gue cuma pelampiasan nafsu lu karena lu gak bisa ciuman sama Cessa. Tapi masa sih lu belum pernah ciuman sama Cessa ? pasti pernah kan ? Ya tuhan kacau sudah pikiranku. Amoy.
"Lu mikirin apaan sih ? dari tadi ngelamun." Setelah Miko menyelesaikan tugasnya ia melihat Amoy sibuk dengan pikirannya sendiri melamun lalu tiba tiba menggelengkan kepala.
"Nggak, udah selesai ko."
"Udah." Miko bediri . lalu ia pindah duduk di sebelah Amoy, Melingkarkan tangannnya pada pinggang ramping Amoy. Lalu mendekatkan hidugnya pada leher putihnya. Melakuakan yang biasa ia lakukan.
Jagan gini ko, pikiran gue lagi nggak waras, gue takut nggak bisa nahan. Amoy.
__ADS_1
"Moy"
"Hmm"
"Bikinin makan yang manis."
"Iya." Amoy melepaskan pelukan Miko, lalu berdiri.
Melihat Amoy yang begitu patuh membuat Miko bingung sendiri. "Lu gak papa kan ?" menempelkan telapak tangannya pada kening Amoy.
"Ya abisnya gak biasanya lu nurut kaya gitu."
"Eh gue bukan nurutin lu ya, karena emang gue juga lagi pengen makan yang manis."
__ADS_1
Sekarang Miko paham, memang mana mungkin Amoy nurutin kemauannya segampang itu.
Sambil menunggu Amoy membuat makanan manis. Miko mengambil hpnya, ia melihat pesan masuk dari Cessa lalu menelponnya lagi, karena memang Cessa dan Miko sedang tak sibuk, mereka berdua tak bosan dengan kegiatannya ini. jika tak bertemu langsung, bertanya kabar lewat telpon bisa mengurangi rasa rindu.
Amoy sibuk dengan bahan makanan yang ada didepannya. ia mengalihkan pikirannya untuk tidak berpikir yang bukan bukan. Cara ini memang ampuh mengusir pikiran kotornya karena dengan memasak ia bisa fokus pada apa yang ia kerjakan.
Amoy membuat kue brownis rasa coklat kesukaan Miko. Setelah selesai dipotong potong ia membawanya masuk kedalam kamar. Amoy melihat Miko sedang telponan lagi.
Belum puas ya tadi telponannya.Amoy.
Kue itu Amoy letakan di meja. Miko menghampirinya duduk di sebelah Amoy. lalu mengambil potongan kue dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih sibuk menempelkan hp pada telinga.
Udah dulu dong telponannya, gak baik makan sambil bicara. Amoy.
__ADS_1
Brownis coklat yang lumer meninggalkan sisa di bibir bawah Miko. Amoy melihatnya seperti seorang singa yang siap menerkam mangsa. Pikiran kotornya datang kembali setelah ia susah payah bergelut dengan pikirannya sendiri. Amoy merasa sangat susah mengendalikannya, kini tubuhnya secara spontan mendekatkan diri pada tubuh Miko.