
Cuaca siang ini sangat cerah, burung burung berterbangan lalu berkicau dengan suara yang indah. Saking cerah nya hari ini membuat keringat terus menetes. Amoy di depan rumahnya sedang menunggu Miko untuk menjemput. Sesekali tangan putihnya ia kibaskan untuk mengkipasi wajah manisnya
yang memerah karena kepanasan.
Amoy sedari tadi terus menggerutu karena Miko belum sampai juga.
Mana sih tuh anak, dari tadi otw nggak nyampe nyampe . Awas aja kalo Otw nya baru ke kamar mandi. Amoy.
Sebuah mobil mendeketainya, namun itu bukanlah mobil Miko. Seorang laki laki turun dari mobil tersebut. Wajah tampannya yang dibalut setelan jas yang rapih membuat penampilannya sangat elegan. Seketika Amoy terpaku dengan laki laki tersebut.
Gila tuh cowok, ganteng abis. Ceweknya pasti cantik . Apalagi postur tubuhnya, tinggi banget, mungkin tingginya sekitar 183 cm. Mukanya juga seperti model yang sering muncul di tv, majalah, atau apupun itu. Aku kayanya pernah liat deh .Amoy.
Saat memujianya dan sedang memikirkan siapa laki laki itu. Amoy memang merasa pernah melihatnya.
Laki laki itu membukakan pintu mobilnya terlihat kaki seorang wanita yang akan turun dari mobil tersebut. Amoy benar benar penasaran siapa wanita beruntung yang di perlakukan semanis itu oleh laki laki tampan tadi. Wajah Amoy tercengang karena wanita tersebut adalah Sella, Kakaknya. Amoy terus berpikir apa hubungannya dengan Sella. Laki laki itu tersenyum manis pada Sella. Lalu ia melihat Amoy yang tak jauh berdiri dari Mobil tersebut. Sella melihat ke arah tatapan laki laki yang ada dihadapannya. Laki laki tersebut lalu menatap kembali Sella,
Sella datang menghampiri Amoy yang masih bengong. "Amoy kenalin ini calon suami Kakak." Sella mengenalkan laki laki tersebut pada Amoy.
Tunggu, ini nggak salah laki laki itu calon suami Sella. Amoy.
Amoy tau Sella memang akan menikah, tapi ia tak percaya Sella dapat laki laki setampan itu.
"Haii Amoy. Aku Bryan, senang bertemu dengan mu." Bryan mengulurkan tangannya pada Amoy, namun Amoy masih terbawa oleh pikiranyna. Hingga Sella menyenggol tangan Amoy karena Amoy belum juga membalas uluran tangan Bryan.
Setelah senggolan Sella yang cukup kasar membuat pikiran Amoy kembali ke dunia nyata.
"Aku Amoy, adiknya Sella." Akhirnya Amoy meraih tangan Bryan. Sekarang ekspresi Amoy terlihat seperti tidak menyukai Bryan. Namun begitulah Amoy, wajah seriusnya seperti wajah ketika seseorang sedang marah, padahal ekspersi wajah seperti itu menandakan Amoy sedang berpikir keras. Namun banyak yang menyalahartikan.
Bryan tersenyum pada Amoy. Tapi lagi lagi ekspresi Amoy seperti itu, tak membalas senyum Bryan
Manis banget senyumnya, jadi melting kan.Amoy.
"Amoy mau pergi kemana." Tanya Bryan dengan ramah.
"kampus." Amoy membalasnya dengan singkat.
"Kuliah dimana, ngambil jurusan apa ?"
"Kuliah di Universitas Xy, aku ngambil jurusan Agroteknologi."
__ADS_1
"Oh pertanian ya? Mau aku anter ke kampus, sekalian aku lewat sana." Bryan menawarkan tumpangan pada Amoy.
"Ngga usah, makasih." Amoy melihat mobil Miko berhenti dan Amoy meninggal Sella dan Bryan tanpa mengucapkan apapun.
"Sell, Kaya nya Amoy nggak suka sama aku." Bryan menatap Sella, karena melihat dari Mimik muka Amoy, Amoy seperti tidak menyukainya.
"Bukan begitu sayang, Amoy emang orangnya nggak mudah akrab sama orang baru." Sella mecoba menenangkan Bryan yang tampak kecewa. " Katanya mau balik ke kantor lagi".
" Ah iya, Aku ke kantor dulu ya."
"Iya hati hati di jalan."
~Miko melihat Amoy yang dari tadi tidak bicara apapun. Miko kira Amoy akan marah karena menjemputnya telat. Atau saking marahnya Amoy menjadi diam begitu.
"Moy lu gak serupan setan pendiemkan ?".
Miko melirik Amoy dengan takut.
"Iya gue inget". Amoy berteriak, seperti orang yang baru saja mendapat ingatannya kembali.
"Lu inget apa ?" Tanya Miko yang masih bingung.
"Calon suami Sella."
"Iya, tau nggak calonnya siapa". Amoy melirik Miko
"Siapa emang?"
"Bryan Savian Alteza."
"Pemilik perusahan pakain brand ternama itu". Miko mengetahuinya dari Cessa, karena Cessa memang ingin bekerja di perusahan itu.
"Iya, gila si Sella dapetin cowoknya keren juga."
"Hati hati Moy."
"Kenapa ?"
"Gue takut, lu nanti godain cowok kakak lu
__ADS_1
"
"Sialan lu, emang gue cewek apaan." Amoy mencubit tangan Miko yang sedang mengemudi.
"Ya lu kan gampang banget tertarik sama yang bening." Miko berbicara dengan meringis, karena menahan perih dari cubitan Amoy.
"Yang ada dia yang godain gue, gue kan cantik."
"Jijik gue dengernya."
" Hahaha, akui aja kalau gue cantik."
"Iya lu cantik gue akui itu, tapi bohong haha."
Amoy mecubit tangan Miko lagi, sampai benar benar merah,
"Moy katanya Cessa lu nelpon gue, kenapa ?"
"Nggakpapa, Cessa bilang apa sama lu?"
"Dia cuma bilang, Lu telpon gue, terus suruh gue telpon balik lu, tapi sama lu nggak di jawab."
Gue kira Cessa gak akan kasih tau Miko gue telpon. Selain cantik ,ternyata memang benar Cessa bukan wanita yang egois, pantas saja Miko menyukainya. Amoy.
"Eh lu kok diem." Miko berbicara lagi pada Amoy.
"Ohh kemarin gue bosen aja, tadinya gue mau minta lu buat main kerumah, ternyata lu lagi bareng sama Cessa."
"Sorry, gue gak tau, padahal gue bisa ajakin lu main bareng,
Eh tapi untungnya gak gue ajakin, karena bisa aja lu ngeganggu moment kemarin." Miko mengingat kembali ciuman itu dan tersenyum sendiri.
"Lagian siapa juga yang mau ikut."
" Lu jomblo sih haha."
"Gue jomblo bukan berarti gak laku ya, liat aja gue bakalan punya pacar lagi."
"Lu jangan pacaran sembarangan Moy."
__ADS_1
"Kenapa emang? hidul hidup gue."
"Karena gue gak mau lihat orang yang gue sayang nangis karena hal itu."