
Karena kekacauan yang di buat Miko akhirnya Amoy tidak melanjutkan memasaknya, Amoy berada dikamar Miko tapi setelah kejadian tadi Miko belum memunculkan batang hidungnya, entah sekarang ia ada dimana.
Miko masih bimbang untuk masuk kedalam kamarnya sendiri, setelah berhasil kabur dari Amoy ia bersembunyi di kamar Lily sekalian numpang mandi.
Sial, ini kan kamar gue, kenapa jadi enggak berani masuk kamar sendiri. Miko.
Sedikit demi sedikit Miko membuka pintu, ia melihat Amoy sedang mengeringkan rambutnya. Amoy yang mendengar suara pintu terbuka lalu ia menengok ke arah Miko. Miko baru saja akan menutup pintunya lagi, namun Amoy memanggilnya.
"Ngapain di situ, sini masuk." Seolah mempersilahkan tamu masuk ke kamarnya sendiri, padahal ini kamar Miko.
"Emang mau masuk." Miko menghampiri Amoy dan duduk di sebelahnya. "Sini gue bantu keringin rambutnya."
"Enggak usah, sana jauh jauh."
"Tadi di suruh masuk, udah dong jangan marah, gue kan enggak sengaja."
"Gue harus lama lama dikamar mandi, gara gara lu rambut gue kenapa tepung semua, lu tau enggak sih ngebersihinnya susah." Amoy terus mengomel, karena tepung tepung dirambutnya susah dihilangkan.
"Iya tau, rambut gue juga kan kena."
"Tapi rambut lu kan pendek, terus kenanya juga dikit."
"Iya Moy, gue yang salah, maaf ya." Memegang tangan Amoy dengan kedua tangannya. Amoy akan melepaskannya namun Miko malah menggenggamnya dengan erat. "Anggap aja kejadian tadi kejadian romantis, bayangin aja kaya sepasang kekasih lagi masak masak bareng terus jadi main tepung."
Amoy hanya menghela nafasnya, bagaimana kakak dan adik dua duanya jadi seperti ini. "Gue maunya main tepung bareng sama Malvin enggak mau sama lu." Amoy akan memukul Miko lagi namun tertahan melihat luka di kening Miko, dan memegangnya. "Ini kenapa ?"
"Perih Moy, lu sih kasar banget jadi cewek." Miko sengaja membuat Amoy menjadi merasa bersalah, walaupun memang lukanya tidak terlalu sakit, tapi Miko ingin Amoy bersikap lembut dan perhatian.
__ADS_1
Amoy mengambil beberapa obat yang bisa ia pakai untuk mengobati luka dikening Miko. Amoy menjadi merasa bersalah karena kesal ia menjadi keterlaluan.
Dengan perlahan Amoy menempelkan obat merahnya setelah itu menempelkan kain kasa, Miko kadang menjadi lebay dan pura pura sakit agar mendapat perhatian Amoy.
"Moy." Miko menatap wajah Amoy yang sedang panik.
"Hmm" Masih fokus mengobati
"Besok lu jadi nonton sama Malvin."
"Jadilah."
"Gue pengen ikut."
"Ngapain, mau jadi nyamuk ?"
"Enggak boleh, yang ada lu malah jadi pengacau, udah selesai nih." Amoy membersihkan sisa sisa kapas bekas. "Miko gue laper, suruh pegawai lu bawa makanan kesini."
"Udah gue suruh." Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar dan menghidangkan beberapa makanan.
"Makasih." Ujar Amoy pada laki laki setengah baya itu.
"Lily udah makan ?"
"Nona Lily sudah makan tuan."
Setelah pegawai itu keluar kamar, Amoy dan Miko mulai menyantap makanannya. Miko mencoba tumis daging yang dibuat pegawainya.
__ADS_1
"Cobain dagingnya." Miko menyuapi Amoy untuk mencobanya. Amoy membuka mulutnya lalu menyicipinya.
"Apa yang salah ?"
"Lebih enak kalau lu yang masak."
"Sama aja rasanya ya rasa daging."
"Beda, sisa tumis daging yang lu masak tadi ada dimana ?"
"Dimakan Lily."
"Yahh, kenapa dikasih ke Lily."
"Lu kan udah makan banyak, lagian mau ngapain sih."
"Ya mau gue makan lagi lah."
"Makan aja yang udah ada, jangan bawel deh." Kesal Amoy.
Miko menjadi sedikit menyesal harusnya ia jangan mengganggu Amoy yang sedang masak, karena Amoy marah Miko tidak jadi makan malam masakan Amoy.
Setelah selesai makan, Amoy meyempatkan untuk belajar sedangkan Miko bermain game. 2 jam kemudian mereka selesai dengan aktifitas masing masing.
Secara bersamaan Amoy mendapat telpon dari Malvin, dan Miko mendapat telpon dari Cessa. Amoy beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat tidur, sedangakn Miko pergi ke balkon.
Mengingatkan lagi nih, jangan lupa ya klik tombol like nya 😊
__ADS_1