
Baru saja menginjak tanah Paris, Lewis dikejutkan oleh sosok pria di depannya. Malas berurusan dengan pria itu, Lewis melewatinya begitu saja.
Tep.
Tangan Lewis ditahan olehnya, kemudian dia menarik kuat tangan Lewis masuk ke sebuah Taxi.
“Apa apaan kau Frank!” bentak Lewis ingin menangis.
“Menurut saja dulu aku akan menjelaskan semuanya.”
“Oh ya? Mana pacarmu.”
“Lewis pleaseee~”
Sopir taxi melihat dua pemuda yang bertengkar seperti sepasang kekasih hanya diam saja, karena di Prancis hal yang seperti itu bukanlah sesuatu yang asing.
Sesampainya di hotel pilihan Frank, mereka masuk ke dalam satu kamar. Lewis tampak merengut sedangkan Frank menghempaskan dirinya di atas kasur.
“Lewis ke mari, apa kau tidak merindukanku?”
“Enggak,” jawab Lewis ketus, membuang pandangannya ke arah lain.
“Jangan bohong.”
“Buka pintunya, aku mau pesan kamar yang VVIP. Dari sini menaranya tidak kelihatan!”
“Dasar anak orang kaya,” kekeh Frank melihat Lewis yang tidak ingin mendekatinya bahkan protes soal kamar yang hanya mampu dia sewa sendiri. “Ayahmu mengawasiku,” ucapnya tiba-tiba, namun bisa menarik perhatian Lewis.
“Apa maksudmu?”
“Dia mengirim orang untuk memataiku, kau tahu setiap hari aku dibuntuti ke mana pun. Maka dari itu aku menerima ungkapan perasaan gadis yang menyukaiku, itu semua demi mengelabui ayahmu, Lewis.”
“Terus?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak mungkin mempan, mata-mata itu masih terus membuntutiku bahkan saat aku ingin pergi ke sini.. Aku menyuruh sepupuku menyamar menjadi aku dan aku jadi dia, aku harap dia belum sadar.”
“Tapi kau berciuman dengan gadismu itu!”
“Ahh dia memfotoku ternyata, Lewis percayalah aku hanya mencintaimu, aku tahu kau bakal ke nagara ini berkat postinganmu di media sosial. Aku meminjam uang untuk membeli tiket agar bisa bertemu denganmu. Gadis itu hanya kuperalat, ini semua gara-gara ayahmu kau mengerti maksudku kan?”
Frank mencoba mendekap tubuh Lewis, tak ada penolakan yang diterima, Frank yakin Lewis mulai luluh dan percaya. “Ikutlah bersamaku, ayo kita kabur bersama-sama.”
“Tapi Frank aku sudah berjanji untuk kembali dengan mamaku.”
“Kalau kau kembali kita tidak akan pernah bertemu lagi, ini kesempatan terakhir kita.”
“Ayahku pasti akan menemukan kita.”
“Ayahmu pasti akan menyerah.”
“Kenapa?”
“Demi kebahagiaanmu, aku yakin dia mengalah dan membiarkan kita, tapi mungkin risikonya dia tak akan pernah berbicara denganmu lagi walaupun kalian berhadap hadapan.”
“Keputusan ada di tanganmu.”
Hari ini rasanya lelah sekali karena mengajak Theo seharian main di taman hiburan. Jantung Delly bahkan hampir copot saat naik roller coaster, berbeda dengan Agha dan Theo yang tampak menikmati wahana.
Tiriring~~~
“Bang HP-mu bunyi,” tegur Delly memberitahu, orang yang dipanggil pun datang dari dapur membawa dua kotak jus jeruk untuk Delly dan satu susu coklat untuk Theo.
Di saat Delly sibuk menyedot jus jeruk kotaknya, di sisi lain raut Agha tampak menahan amarah. Setelah dia mematikan telpon barulah Delly bertanya, “Kenapa bang?”
“Frank hilang dari pengawasan, ternyata dia menyuruh sepupu yang mirip dengannya untuk menyamar sebagai Frank. Sudahku duga anak itu sadar kalau sedang d awasi.”
“Hmm terus?”
__ADS_1
“Abang yakin sekarang dia sudah bersama Lewis.”
“Apa!” Delly buru-buru membuka tasnya mengambil HP untuk menghubungi Lewis, tapi yang dia dapati setelah HP hidup adalah sebuah pesan teks dari Lewis.
[Mama maafkan aku, aku tidak bisa menepati janji, kalian pasti kecewa denganku kan? Aku tahu itu tapi aku sungguh sangat mencintai Frank, aku ingin hidup bersamanya. Dan untuk papa tolong jangan meneror kami ya, papa sangat mengerikan jika seperti itu, aku mohon. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, biarkan aku bersama pilihanku, aku menyayangi kalian titipkan salamku pada Theo juga ya.] ~Lewis~
“Bang...” Delly terisak menunjukkan pesan teks yang ia terima.
“Mama ada apa?” tanya Theo.
Agha menarik Delly ke dalam pelukannya, ekspresinya datar Delly tahu dia sedang menahan emosi yang mungkin ingin meledak.
“Cari dia, Bang.”
“Tidak usah, biarkan saja dia.”
“Bang! Tidak mau tahu pokoknya harus cari!”
“Dell dengarkan abang, kalau kita menyeretnya pulang pun dia hanya akan terus ke pikiran karena mungkin saja Frank sudah meluruskan masalah mereka, takutnya dia nanti depresi kalau kita terlalu memaksa. Kita sudah melakukan semampu kita, jika itu pilihannya maka kita lepaskan dia.”
Benar juga, itu pilihannya. Menangis darah pun Delly, anak itu tetap akan pergi, dia memilih Frank dari pada keluarga. Ini adalah kenyataan pahit yang harus Delly terima, walaupun demikian ia berharap Lewis tidak menyesali pilihannya suatu saat nanti.
“Theo kamu jangan seperti abangmu, ya,” isak Delly memeluk anak usia tujuh tahun itu.
“Iya, Ma. Theo tidak meninggalkan mama dan papa seperti bang Lewis, Theo ingin membuat mama papa bangga, lihat saja Theo akan jadi detektif hebat seperti papa.” Anak ini sepertinya mengerti apa yang sebelumnya terjadi melalui percakapan Delly dan juga Agha, dia memang cepat tanggap.
“Anak pintar, sebagai seorang laki-laki kau harus menepati janji, ok,” puji Agha mengelus kepala Theo.
“Tentu saja papa, aku adalah laki-laki sejati.”
Ya, Delly punya satu anak laki-laki lagi yang selalu membuat mereka bangga. Dia pintar dan tentu saja cara didiknya sejak awal selalu diperhatikan, dia adalah Theo. Mungkin Lewis adalah contoh gagal mereka dalam mendidik, Delly tidak akan menyalahkan Silvie tentang ini dan juga tak mengatakan Lewis adalah anak yang gagal, dia sempurna, hanya saja pilihannya membuat mereka kecewa.
Kekecewaan dan kebanggaan yang datang di saat yang berbeda, Delly dan Agha menerimanya dan tetap melanjutkan hidup mereka seperti biasanya tanpa kehadiran anak pertama, dan tetap menantikan kepulangannya.
__ADS_1
...TAMAT
...