
Kami beramai ramai mengantarkan ayah ku ke bendara, Ayah tidak bisa berlama lama di sini kerna di sana dia memiliki toko yang beberapa hari ini tutup.
Setelah Ayah lepas landas, keluarga Agha yang lain nya juga ikut pamit untuk pulang, kini tinggalah aku bang Agha dan juga anak anak kami di dalam mobil.
"Kita ke makam Silvie" Ujar Agha kerna mengingat Lewis belum menjenguk Silvie sama sekali.
Lewis termenung, entah apa yang ia pikirkan sekarang, mungkin penyesalan atau hal lain?. Entahlah.
Setelah sampai di TPU Agha menyuruh ku dan Theo menunggu di dalam mobil saja, sementara dia mengantarkan Lewis lalu kemudian kembali lagi ke mobil membiarkan Lewis sendiri di sana.
"Kenapa abang tinggalkan dia sendiri?"
"Biarkan dia menangis sendiri di sana, pasti banyak hal yang ingin dia katakan, jika kita ada di sana mungkin dia akan diam saja kerna malu"
Ya, Lewis baru saja di beritahu tentang Silvie tadi pagi setelah sarapan. Dari sini kami dapat melihat punggung Lewis yang membelakangi kami, walaupun demikian kami dapat melihat tangan nya bergerak mengusap matanya.
"Eh dia datang bang, cepat banget"
"Biarkan saja, berlama lama hanya akan membuat nya semakin sedih"
Lewis membuka pintu mobil dan duduk kembali di sebelah Theo.
"Selama ini kau kurang ajar dengan nya kan, lihat lah pengorbanannya untuk mu"
"Bang!" Gertak ku, kerna Agha memarahi Lewis padahal air mata belum kering dari pipinya.
"Tebus lah rasa bersalah itu dengan menjadi pria normal. Silvie juga tak ingin kau jadi uke" lanjut nya tanpa memperdulikan gertakan ku. Sekarang aku mengerti kenapa bang Agha seperti ini, dia hanya ingin menanamkan rasa bersalah agar Lewis kembali ke jalan normal.
Sedangkan yang di tegur hanya diam membuang muka ke jendela yang terlihat deretan kuburan manusia.
"Mereka ngomongin apa sih?" Batin Theo yang tidak mengerti.
Sampai di rumah hari sudah malam, Lewis membawa Theo ke kamarnya. Aku membiarkan saja ke dua kaka beradik itu.
"Dell" Panggil Agha.
__ADS_1
"Apa bang?"
"Malam ini tidur dengan abang ya"
"Enggak"
"Nomor mama mana ya?" Agha berakting dengan tangan yang memegang ponsel ingin menghubungi mamanya.
"A-apa apaan, abang mau ngadu ya?"
"Iya, abang ingat tadi pagi ada orang yang berjanji" Sindir nya membuat Delly sadar diri.
"Tidak ada yang bisa melarang sih sebenarnya, termasuk kau" Katanya langsung mengangkat tubuh Delly menuju kamar, tentu saja wanita itu terkejut.
\>\>\>
"Woi woi, ngapain abang buka baju?"
"Ya ambil jatah lah, apalagi?. Sudah bertahun-tahun aku puasa"
__ADS_1
"Bohong, paling sama Herna sudah begituan"
"Ngapain ngungkit orang yang udah ninggal"
"Meninggal? Herna meninggal?"
"Ah lupakan cepat buka baju mu atau abang bukakan?"
"Enggak Aaaaaa!!!!"
.
.
Paginya aku bangun dengan badan yang rasanya remuk, sudah lama tidak melakukan *itu* rasanya kembali saat masih segel. Tapi berkat itu sepertinya hubungan ku dengan bang Agha tidak canggung lagi.
Ku lihat di samping ku dia sudah tidak ada, mungkin sudah berangkat kerja tanpa membangunkan ku. Tiba tiba aku teringat dengan perkataan bang Agha tentang herna, aku tidak sempat bertanya tadi malam kerna mulut ku sibuk mende\*ah.
"Benar ya dia sudah meninggal" Ku ambil HP ku untuk menghubungi polisi di sana. "Halo pak saya kenalan dari tahanan bernama herna yang di tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan, apa dia ada di tempat?
" *Herna, tahanan itu sudah hilang buk kami masih mencari keberadaan nya*"
"Ah benarkah, b-baiklah saya kira dia ada, kalau gitu sata tutup ya pak"
__ADS_1
Sambungan telpon pun tertutup, aku termenung masih berada di tempat tidur. "Kenapa bang Agha bilang semalam kalau Herna sudah mati? emm mungkin dia hanya muak dengan wanita itu" Pikir ku mencoba positif thinking.