
Sudah tiga hari sejak kedatangan ku ke Indonesia, aku memutuskan untuk pergi ke Amerika setelah berpamitan dengan keluarga mertua ku. Walaupun aku akan bertemu Agha di sana nanti aku akan bersikap biasa saja, konflik di antara kami itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu jadi ku pikir tak masalah kalau bertemu dengan nya kembali sebagai orang asing.
Keluarga Agha tak bisa ikut menjenguk kerna mama Reva dan papa Calvin sudah tua, perjalanan jauh tentu saja sangat melelahkan bagi mereka, sedangkan Yara dia menunggu jadwal Ray kosong.
Setelah berjam jam penerbangan sampai lah aku di tanah yang memegang julukan negara Paman Sam. Sebelum ke rumah sakit aku singgah dulu ke toko buah baru lah aku bergegas ke rumah sakit menggunakan taxi.
"Ruangan pasien bernama Lewis Dellgha di mana ya?" Tanya ku pada wanita Resepsionis.
"Tunggu ya nona saya cek dulu" Wanita itu mengutak atik komputer nya lalu menyebutkan nama, umur dan waktu pasien di bawa, aku menganguk tanda iya baru lah kemudian wanita itu memberitahu.
"Terimakasih" Ucap ku setelah mendapat jawaban dan kemudian pergi.
Ku buka knop pintu kamar itu, dua kepala langsung menoleh ke arah ku, persetan dengan keberadaan Agha aku hanya ingin melihat anak ku. Malang sekali anak ku, dia masih terpejam di sana.
Agha tampak celingak celinguk entah apa yang ia cari sebenarnya. "Di mana Theo?" Tanya nya membuat ku sesak nafas, bagaimana bisa di tau tentang Theo?.
__ADS_1
"Kau ini menanyakan siapa?" Kata ku berpura-pura tidak mengerti. "Apa Lewis belum ada sadar?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, tidak! sejak awal kedatangan aku ke sini memang untuk Lewis.
"Belum"
Pandangan ku tertuju pada anak laki laki yang tak ku kenal, apa dia sahabatnya Lewis? terlihat jelas matanya bengkak entah berapa lama dia menangis, apa dia menangisi Lewis?.
"Kau teman nya Lewis ya?" Tanya ku.
"Iya tente, nama saya Frank"
Tatapan Agha menyeringit sebenarnya dia sudah mencurigai Frank semenjak mendengar perkataan Silvie mengatakan bahwa Lewis Hom*se*sual.
"Iya tante"
"Lewis tidak banyak berubah ya, dulu dia meninggalkan rumah waktu umur delapan tahun dia tidak setinggi ini waktu itu, sayang sekali aku tidak menyaksikan pertumbuhannya"
__ADS_1
Tiba tiba kepala Agha tertunduk, dia merasa bersalah dan bahkan tidak berani menatap mata Delly dengan benar. Dia juga tidak bisa menanyakan tentang Theo lebih lanjut, tadi dia keceplosan saat menanyakan keberadaan Theo, tidak di pungkiri dia menginginkan bisa berkumpul dengan istri dan anak nya lagi.
"Apakah aku pantas berharap seperti ini?" Ucap nya dalam hati, Agha cukup sadar diri atas kesalahan nya.
"Setelah Lewis pulih dia ikut dengan ku ya" Ucap ku tak melepaskan genggaman ku di tangan Lewis. Jujur saja aku ingin memperkenalkan dia dengan adik nya, Theo pasti senang mengetahui kalau dia punya abang.
"Tidak!"
Aku terkejut tiba tiba Frank membantah seakan tidak Terima Lewis di bawa, kenapa dia yang tidak senang? padahal aku berbicara dengan Agha.
"Ada apa Frank?" Ujar ku kerna anak itu tiba tiba menangis dan berlutut di kaki ku.
"Tante a-aku, aku tidak mau jauh dari Lewis, tidak bisakah kalian tinggal di sini saja?"
"Maaf Frank, tente tidak bisa"
__ADS_1
"Frank, ikut paman sebentar" Ajak Agha membawa Frank keluar, aku tidak mengerti kenapa mereka harus keluar, mungkin Agha ingin menenangkan anak itu.
Tbc.