
Sudah satu jam lamanya Agha menunggu Lewis keluar, namun yang di tunggu belum menampakkan batang hidung nya padahal rasanya semua murid sudah pulang.
Hingga keluar lah pak Security yang habis mengunci seluruh kelas dan kemudian hendak mengunci gerbang sekolah.
"Eh pak kenapa di kunci?" Kata Agha.
"Sudah gak ada orang lagi pak, makanya harus di kunci kalau tidak barang barang di sekolah bisa hilang"
"Anak saya belum keluar"
"Semua murid sudah pulang pak, saya baru saja ngecek, anak bapak siapa namanya?"
"Lewis"
Security tampak berpikir sebentar, dan akhirnya pun dia teringat sesuatu. "Anak bapak sudah di bawa tante nya tadi pagi jam sepuluh"
"Tante? dia tidak punya tante di sini pak, mungkin Lewis yang itu bukan anak saya"
__ADS_1
"Lewis Dellgha kalau tak salah namanya tadi"
Agha semakin bingung jelas sekali itu nama anak nya, tapi di negara ini tidak ada keluarga Agha yang lain selain Silvie dan Meti yang ia kenali. Sibuk berpikir sebuah pesan text pun masuk ke ponsel nya, Agha mengecek nya cepat mengira itu adalah soal pekerjaan yang seminggu ini ia serahkan pada Javer dan Dario.
[Gha, Herna pergi ke New York juga, lu ada jumpa? semalam aku liat dia di bandara] *Dario
Jantung Agha berdetak kencang, tangan nya mulai dingin dengan rasa takut yang menyelimuti kalbu nya, pesan singkat dari Dario barusan mampu membuat nya tercekik dengan pikiran negatif yang belum tentu terjadi.
"Ada apa pak?" Tanya Security yang masih berada di posisi yang sama.
"Tidak tau pak, tadi mereka naik taxi"
"Saya ingin lihat CCTV pak" Kata Agha sambil melihat CCTV yang berada di post gerbang.
Security membawa Agha ke ruang pengawasan di sana lah mereka mengecek video yang terekam. Napas Agha tercekat ketika melihat wajah yang ia kenali tengah membawa putra nya.
Tak membuang waktu lagi, dia segera menghubungi polisi untuk melacak plat taxi yang terekam jelas di video. Security jadi ikut panik setelah mendengar penjelasan Agha bahwa anak nya di culik oleh wanita itu.
__ADS_1
"Maafkan atas kelalaian saya pak"
"Pak jika ada orang asing yang ingin menjemput murid bapak harus cek dulu identitas nya, mentang mentang dia bilang Tante dari murid, bapak langsung mengizinkan" Geram Agha menahan kesal.
Beberapa saat kemudian polisi berhasil melacak serta menghubungi taxi yang di maksud Agha, Untung nya supir taxi mudah di ajak kerja sama. Agha bersama beberapa polisi menuju ke lokasi, sesampainya di sana mereka mencar mencari di seluruh penjuru gedung.
Tiba tiba terdengar suara tawa wanita yang menggema di ruang kosong, perhatian polisi dan Agha pun tertuju pada suara itu.
"Ahaha mati kau, tenang saja nak aku berniat mengantar mama mu juga ke alam baka" Ucap nya di iringi gelakan. Lewis sudah terkapar beku di lantai dengan pisau dapur yang menancap tepat di jantung nya. Mata anak itu terbuka lebar, entah merasakan sakit atau malah sudah tidak bernyawa lagi.
DOR!
Satu tembakan lepas bersarang di kaki Herna, Agha yang berada di ruangan yang sama sempat membeku melihat keadaan putra nya.
"Pak cepat pak, bawa dia ke rumah sakit!" Teriak Polisi menyadarkan Agha, tak berpikir lagi Agha membawa Lewis dengan tangan gemetaran melihat anak nya tidak ada pergerakan selain mata nya saja yang terbuka namun tidak berkedip.
Tbc.
__ADS_1