I Love You Mr.Detective

I Love You Mr.Detective
Bab 94. Nasehat Ayah


__ADS_3

Pukul 23.20, Ayah baru saja pulang dari toko dia melihat sosok wanita yang masih terjaga dengan tatapan sedih di halaman rumah.


"Delly, kenapa kau melamun nak?"


"Oh ayah kau baru pulang?" Kata ku yang baru sadar akan keberadaan Ayah.


"Iya hari ini memang banyak hal yang harus di urus, kau sendiri ngapain di sini? sepertinya banyak pikiran"


"Theo sudah tau papa nya yah, dia maksa ingin bertemu bahkan tadi nangis terus sampe ketiduran"


Ayah tersenyum tipis kemudian ikut duduk di sampingku, dia sosok yang berbeda dengan dulu, kini tangan nya terulur untuk mengelus surai ku halus. "Delly" Panggil nya.


"Iya?"


"Hidup ayah ini penuh dengan penyesalan, seandainya waktu bisa di putar kembali ayah ingin sekali bersujud di kaki ibu mu. Ayah kasar sekali dengan nya entah bagaimana cara meminta maaf padanya kerna dia sudah pergi jauh, mungkin dia jadi keras pada mu dulu kerna merasa tertekan dengan ayah dan kemudian melampiaskan kemarahan nya pada mu"


"Ayah kan sudah berubah menjadi lebih baik, pasti ibu melihat nya dari sana, jadi jangan terlalu di pikirkan"

__ADS_1


"Yang namanya penyesalan besar akan selalu terpikirkan Dell, Agha tadi siang menelpon ayah dia bercerita tentang penyesalan nya juga tentang penolakan mu terhadap nya.... enggg~ biarkan pria tua banyak dosa ini memberikan mu sedikit nasehat, memberikan kesempatan kedua pada orang yang kita kenal lebih baik dari pada mencari yang baru. Kerna apa? kerna kau tidak tau apa apa tentang orang baru dan juga mungkin keberengsekan nya, mungkin saja dia orang yang lebih buruk di banding kan Agha, tapi Dell orang yang kembali kerna penyesalan adalah pilihan yang terbaik"


Aku sedikit merenung tentang nasehat ayah, yang di katakan nya cukup masuk akal. Tapi apakah aku sanggup melupakan masalah masa lalu dan memulai lembaran baru dengan orang yang sama?. Kembali dengan penyesalan katanya? apakah Agha benar benar menyesal?.


"Kembalilah nak, ayah tau apa yang di rasakan Agha. Pasti dia tidak tenang dan menghayal ingin menciptakan mesin waktu, anak mu ada dua kan, kau mau putra mu tidak menganggap mu penting? mungkin sekarang kau sedang merasakan nya kan?"


Deg!


Seketika aku tersentak, Lewis putra pertama ku memang sudah tak menganggap ku penting lagi, itu terbukti saat di rumah sakit kemarin, dia sama sekali tidak merindukan ku.


"Ayaah~" Aku langsung menangis memeluk ayah ku, ini sangat membingungkan. Di sisi lain aku masih marah dengan Agha di sisi lain nya lagi aku takut peran ku sebagai ibu tak begitu penting bagi Lewis.


"Ayah benar"


"Lewis?"


"Iya"

__ADS_1




Setelah berpikir hingga dini hari, aku pun memutuskan untuk kembali bersama Agha. Nasehat ayah menyadarkan ku kalau amarah ku pada Agha akan semakin membuat ku jauh pada Lewis, di tambah Theo bahkan belum mengenal abang nya sendiri.



"Maafkan mama ya nak" Ucapku sembari mengelus rambut Theo.



"Ayah~" Gumam Theo pelan dalam tidur nya, bahkan matanya mengeluarkan cairan bening. Jelas sekali dia sangat ingin bertemu dengan Ayah nya. Keinginan nya itu semakin besar setelah mengetahui bahwa ayah nya adalah paman detektif yang menemani nya saat terpisah dari ku dulu.



"Tunggu lah sebentar lagi"

__ADS_1



Tbc.


__ADS_2