
Ku pikir waktunya sudah cukup untuk melihat keadaan di dalam sana, aku bersenandung senang sambil berjalan menuju pintu.
Aku keheranan kenapa Fred begitu lambat menyeret Herna pulang, mobil nya masih terparkir di dapan sini, makanya aku berpikir begitu.
Saat aku membuka pintu depan, ku lihat ada Agha yang tengah melawan tiga orang sendiri, kaki ku berhenti bergerak kerna otak ku tengah berpikir kenapa Agha ada di sini.
Rencana ku gagal, aku semakin ketakutan hingga kaki ku enggan melangkah. Hingga pada puncak nya tiga pria itu terkapar dan Agha berlalu pergi membelakangi mereka.
"P-pistol? Tidak jangan!" Gumam ku ketika melihat tangan Fred yang menyodorkan senjata api laras pendek itu ke Agha.
"AGHAAA"
Ku dengar suara Herna berteriak keras.
Dan..
DOOR!
Darah mulai keluar dari punggung nya, Herna mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi Agha. Dia memeluk Agha erat menahan sakit yang luar biasa.
"Herna!"
__ADS_1
Agha kembali menghampiri Fred dan menghajar nya habis habisan, lalu kemudian menggendong Herna pergi untuk ke rumah sakit. Dia melewati aku yang berada di ambang pintu, seolah tidak melihat ku, ini kenyataan yang sulit di terima, Herna yang di tembak tapi seakan aku yang merasakan peluru nya.
"Siapa?" Tanya ku, pada para pembantu yang menonton di pojok.
"SIAPA!!!" Suara tinggi ku membuat mereka semua terkejut dan menunduk.
"Pasti ada yang menghubungi Agha, katakan pada ku siapa orang nya?!"
"Cepat jawab sialan!"
PRANG!
Ku tendang vas bunga ukuran setengah meter hingga pecah di lantai.
"Buk Arin, kau orang yang paling ku percaya, katakan pada ku siapa"
Semua kembali terdiam, mereka ketakutan melihat ku yang seakan ingin meledak.
"M-merry non" Tunjuk buk Arin dengan tangan yang gemetar. Merry seketika bersimpuh kaki di bawah ku.
"Nona ampuni saya nona, jangan pecat saya" Tangis nya.
__ADS_1
Merry adalah pembantu termuda di rumah ini, usia nya baru 22 tahun dan sudah berkerja selama dua tahun. Aku mengerti kenapa dia menghubungi Agha, kerna Merry adalah gadis yang baik, pasti dia tidak tega melihat Herna di seret seret.
"Merry" Ucap ku lembut, gadis itu pun mendongak untuk melihat ku, posisi nya masih bersimpuh lutut di kaki ku.
"Aku hanya ingin menyingkirkan duri di dalam rumah tangga ku Merr, apa itu salah? Lagian pria yang di sana itu suami nya, apa salah aku menyuruh nya pulang ke rumah sendiri? kalau kau jadi aku apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan diam saja? Kau masih muda kau akan mengerti kalau kau sudah menikah, istri mana yang Terima saat suaminya membawa wanita lain?"
Aku terisak dengan air mata yang terus jatuh, Merry bahkan sudah bersujud di kaki ku memohon maaf.
"Nona" Lirih Arin.
Aku tidak memperdulikan Merry yang bersujud, aku terlampau kecewa pada gadis itu. Aku tak mengatakan tindakan ku ini benar, hanya saja kecemburuan ini yang terlampau besar.
"Tuan Fred?" Panggil ku pada pria yang terkulai lemas di lantai.
"Nona Delly, Herna benar benar mencintai suami mu" Ucap nya, mata Fred menghadap ke langit langit dengan buliran bening yang jatuh ke samping.
"Kau ingin menyerah sekarang?"
"Sepertinya begitu, dia rela mengorbankan dirinya untuk Agha, nona Delly? Apakah selama ini aku terlalu memaksa nya?. Agha dan Herna saling mencintai, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Aku terdiam, kenyataan adalah sesuatu yang sangat pedih. Pertanyaan itu ku abaikan dengan menyuruh satpam membawa tuan Fred dan bawahannya ke rumah sakit, mereka terlalu banyak lebam.
__ADS_1
Tbc.