
"Mama? Ke sini kok gak bilang" Ucap Silvie yang baru saja pulang entah dari mana.
Meti berdiri menghampiri anak nya yang berada di ambang pintu sambil menenteng beberapa paper bag di tangan nya.
"Kau dari mana Sil?"
"Dari luar mah, jalan bareng teman teman"
"Suami mu mana?"
"Ya kerja lah mah, kemana lagi?"
Silvie berjalan masuk, meletakkan bawaannya di atas meja. Kemudian ia membawa mama nya untuk ikut duduk.
"Ada apa? Kenapa mama terlihat kesal begitu?"
"Di mana istri ke dua nya Agha?"
Tak tak tak
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu, suara langkah kaki itu terdengar cepat yang mungkin pelakunya tengah berlari.
"Kak Silvie aku pulang..." Kata ku sambil membuka pintu dengan semangat.
"Eh? Sepertinya aku salah waktu lagi" Gumam ku ketika lagi lagi aku melihat tamu.
Baru saja aku ingin kabur ke kamar tapi langkah ku terhenti kerna merasa terpanggil.
"Eh tunggu kamu mau ke mana?" Tahan Meti.
__ADS_1
"A-aku? Engg aku hanya ingin ke kamar"
"Kemarilah duduk dulu"
Aku menurut, di pikiran ku mungkin wanita itu ingin mengobrol atau hanya sekedar ingin berkenalan saja.
"Ada apa bibik?"
PLAK
"Mamah!" Sontak Silvie
Aku yang baru saja di tampar merasa bingung, otak ku masih mencerna alasan kenapa aku di tampar?.
"Silvie kau diam! Mama ingin memberi pelajaran pada si pelakor ini!"
"Mah hentikan!"
"Sakit?" Sambung nya, aku mengangguk dengan menahan suara nya sendiri, jujur saja dia takut.
"Kenapa mama menampar nya?"
"Kau bertanya kenapa Agha? Dia pelakor! berani sekali kau menduakan putri ku!" Marah Meti.
"Putrimu yang meminta ku menikahi nya"
"Itu semua kerna tekanan dari ibu mu! kalau tidak pasti Silvie tidak mau, istri mana yang mau di duakan? Aku tidak mau tau pokoknya kau harus menceraikan wanita itu"
Agha di buat pusing oleh keadaan, baru saja ia pulang kerja dengan rasa letih sang mertua malah hadir dengan tuntutan nya.
__ADS_1
"Bisakah kalian berhenti mengatur ku? selama ini apa yang tak ku turuti untuk kalian? Perjodohan dengan Silvie, poligami dan sekarang perceraian, tidak kah kalian terlalu seenaknya?"
Agha pun berlalu membawa ku ke kamar, ia membiarkan Silvie yang menenangkan ibu nya sendiri.
"Mah, dengerin Silvie dulu. Mama jangan jahat dengan Delly"
"Kenapa emang nya Sil?"
"Mama tau kan Silvie mandul? maka dari itu Silvie butuh Delly"
Meti yang sedang menahan kesal, di buat bingung oleh putri nya sendiri. Apa maksudnya membutuhkan Delly?
"Kau ini bicara apa?" Ujar Meti.
"Jadi begini mah, nanti setelah Delly hamil dan melahirkan, anak nya untuk Silvie dan Agha. Setelah nya barulah Delly pergi dan bercerai dengan Agha"
"Kau yakin Agha akan menceraikan nya?" Meti mempertanyakan apakah hal itu benar benar bisa terjadi? Terus bagaimana jika tidak?. Sedangkan Silvie nampak percaya diri membuat Meti tambah kasihan dengan putri nya sendiri.
"Tenang lah mah, Delly itu anak yang polos dan penurut. Lihatlah mama tadi menampar nya, tapi apa? Bahkan dia tidak bersuara sedikit pun"
"Kau seyakin itu Silvie?"
"Iya mah, aku sangat yakin. Jadi mama jangan khawatir"
"Baiklah tapi jika terjadi sesuatu yang di luar kendali mu katakan saja pada mama"
"Iya, jadi hari ini mama nginap atau langsung pulang"
"Mamah nginap deh untuk beberapa hari"
__ADS_1
Tbc.