
Dengan langkah yang terasa lemah ku masuki area pemakaman, tidak ada siapapun di sini kerna mayat langsung di kuburkan setelah sampai tadi pagi sedangkan aku baru saja sampai. Aku tidak sendiri, ada Yara juga yang menemani ku di sini.
"Yang mana kuburan nya Ra?"
"Itu kak yang baru" Lirik nya ke arah dua kuburan yang tak jauh dari kami.
Mata ku memicing kerna dua kuburan yang saling bersebelahan itu, kuburan siapa yang ada di samping makam kak Silvie?. Yara berjalan duluan dan berdiri di tengah antara dua kuburan itu.
"Kaka bingung kan kenapa ada dua? yang ini kuburan bik Meti, tadi pagi pas kak Silvie di timbun tiba tiba bik Meti tumbang, setelah di cek ternyata bik Meti sudah tiada" Jelas Yara dengan raut sedih.
Di umur bik Meti yang rentan, pasti dia tidak kuat di tinggal anak nya, sejak dulu wanita itu emang paling sayang dengan kak Silvie, yang bisa ku lakukan hanyalah menerima semuanya dengan mendoakan mereka yang terbaik.
Kini aku kembali ke rumah yang sudah lama tidak ku injak, aku keheranan kenapa tidak ada orang di sana. "Gak di adakan kenduri ya Ra?"
"Di rumah paman nya kak Silvie kak, bang Agha dan kak Silvie kan dah lama cerai gak mungkin di sini sementara dia masih punya keluarga"
"Oh iya juga, kalau gitu kenapa kau bawa aku ke sini! ayo ke sana kita bantu bantu"
__ADS_1
"Kaka tidak bilang sih, ku kira kaka ingin istirahat setelah penerbangan jauh"
"Bukan saat nya untuk istirahat, ayo pergi nanti kita singgah dulu ke toko jangan datang dengan tangan kosong" Ucap ku sambil menggetok kepala nya itu. Dia hanya nyengir tipis sambil menggosok gosok kepala nya.
"Aku sih sudah bawak tadi sama mama papa, kerna kaka telpon minta jemput aja keluar deh dari rumah itu. Oh iya nanti Mama papa pasti akan terkejut liat kaka"
"Apa yang harus ku katakan nanti ya?"
Aku hanya diam saja mendengar ucapan Yara, ternyata mertua ku benar benar menganggap ku anak ya. Mereka tau gak ya tentang Theo? entahlah yang jelas untuk sekarang aku akan ke rumah duka.
.
.
Di sini Agha hanya termenung menatap anak nya yang terpejam. Ada rasa bersalah dalam kalbu nya kerna tak dapat ikut ngelayat, mau bagaimana lagi? siapa yang akan menunggu Lewis di sini.
__ADS_1
"Setelah ini habis kau Herna" Gumam nya sendiri, rasa dendam itu muncul menghapus segala perasaan yang pernah ada. Anak nya terkapar seperti ini kerna ulah wanita gila itu, sebagai seorang ayah yang jarang memiliki waktu dengan anak nya tentu saja pemandangan ini membuat nya gelap mata.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki nyaring di lorong rumah sakit, seorang pria remaja datang dengan segala kepanikan nya.
"Lewis!" Sentak nya dengan membuka pintu kamar dengan kencang.
"Apa apaan kau!" Agha yang tersulut emosi kerna memikirkan Herna membuat nya menggunakan suara tegas pada orang yang baru saja datang.
"Maaf kan aku paman, bagaimana dengan Lewis?" Remaja ini adalah Frank, dia bolos dari pelajaran sekolah setelah mendengar gosip yang beredar di kelas nya.
"Dia belum sadar" Kata Agha dengan raut yang kembali santai.
__ADS_1
Tbc.