
Tak butuh waktu lama, Agha dan aku kini sudah sah menjadi pasangan suami istri. Acara pernikahan nya di laksanakan tadi siang secara sederhana serta tamu yang tidak banyak di undang.
Aku terlebih dahulu masuk kamar pengantin kerna merasa lelah seharian ini menjadi tokoh utama sasaran mata para undangan.
Gugup, aku sangat cemas sekarang. Apakah dia akan melakukan hal 'itu' ? Membayangkan nya saja membuat ku ingin lari saja.
Tap tap Tap
Langkah kaki terdengar samar di kuping nya, cepat cepat aku masuk ke dalam selimut lalu kemudian menutup mata seolah ia sedang tidur.
Cklek~
Bunyi suara pintu terbuka menambah kesan horor, mati matian aku berusaha menenangkan jantung ku yang seakan akan ingin meledak. Siapa lagi yang datang kalau bukan orang yang sudah sah menjadi suaminya.
"Tenang Delly, Bang Agha orang baik tidak mungkin dia memaksa" Benak ku membatin.
"Dell kau tidur?"
"Aku tau kau hanya pura pura, tidak usah takut, ada yang ingin ku tanyakan dulu pada mu"
Kerna ketahuan aku pun membuka mata ku dan langsung mengambil posisi duduk dengan kepala yang tertunduk.
"Apa yang kau harapkan dari pernikahan ini?" Tanya Agha.
Aku kebingungan, aku tidak tau mau jawab apa. Tidak ada harapan, hanya ingin memenuhi permintaan Silvie yang memohon pada ku.
__ADS_1
"T-tidak ada" Jawab ku.
"Huh~"
Agha membuang napas nya kasar, ia merutuki kebodohan nya yang menanyakan hal yang ia sudah tau jawabannya. Delly terpaksa menikah dengan nya beriming iming kata membalas budi.
"Aku tak ingin memaksa mu jadi aku akan bertanya padamu, apa kau ingin mengandung anak ku?" Tanya Agha kembali.
"Bukankah itu tujuan kita menikah bang? Kak Silvie kan mandul"
"Ok bersiaplah abang akan mandi terlebih dahulu"
Astaga aku benar benar mati kutu sekarang, apa aku salah bicara? tidak, itu adalah kenyataan nya.
Suara jarum jam semakin membuat ku takut, aku terus menatap ke arah pintu kamar mandi di mana terdengar suara gemericik air di dalam nya, dalam benak ku berdoa semoga Agha pingsan di dalam sana.
Kreek~
"Mati aku" Benak ku ketika melihat Agha di ambang pintu hanya dengan handuk terlilit di pinggang nya.
"Sudah siap?" Tanya Agha.
Entah kerasukan setan apa aku tanpa ragu mengangguk, ini tanda siap atau ketakutan?.
Perlahan Agha mengikis jarak nya pada ku "Jangan takut aku akan lakukan pelan pelan"
__ADS_1
Setelah nya Agha meraup bibir ku sembari menyesap nya pelan. Aku benar benar payah, aku tidak tau cara membalas Agha.
"Kau belum pernah berciuman sebelum nya?"
"Belum"
"Baiklah abang akan mengajarkan mu caranya"
Aku kegelian ketika merasa tangan Agha menjalar kemana mana menyentuh setiap inci tubuh ku dan memainkan aset pribadi ku.
Pasrah, tubuh ku semakin melemas oleh rang*sangan yang di berikan Agha.
Melihat ekpresi horny ku, Agha menghentikan pemanasan nya untuk melanjutkan tahap inti.
"Tahan lah ini akan sakit"
Jeritan ku menjadi awal hilang nya kegadisan yang selama ini ku jaga. Usai menumpahkan hasrat nya, Agha menyudahi kegiatan panas nya setelah melakukan nya dalam beberapa kali merasakan kenikmatan yang luar biasa membuat nya enggan berhenti. Namun apa daya, aku terus merengek padanya meminta untuk berhenti, ini sangat melelahkan.
"Tidur lah"
"Hiks katanya tadi cuman bentar, dasar pembohongan! aku hampir saja mati"
"Iya maaf, lagian gak bakal mati kok" Kekeh nya lalu mengecup kening Delly sekilas.
Tbc.
__ADS_1