
(Ehem maaf sebelumnya, author tak begitu mengerti tentang ilmu medis, sudah bolak balik rasanya ke google untuk mencari jawaban yang bersangkutan namun tak menemukan hal yang membantu, apapun yang tertulis di sini mungkin terlihat tidak masuk akal, namanya juga fiksi, apapun bisa terjadi sesuai kehendak penulis jadi bagi kalian yang berpengetahuan luas mohon di maklumi)
Agha memandangi wanita yang terbaring pucat dengan perasaan kagum sekaligus sedih. Wanita di hadapan nya itu adalah Silvie, sosok malaikat yang mendonorkan jantung nya untuk Lewis. Dia sudah tidak lagi bernyawa, pengorbanan begitu besar sangking besar nya Agha sampai tidak tau harus berkata apa.
"Sil" Gumam nya menatap kosong dengan mata yang sudah bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Flasback~~
"Jantung nya sudah rusak, satu satu nya cara agar dia bisa tetap hidup adalah dengan cara menerima donor jantung" Kata dokter yang berhadapan langsung dengan Agha.
"Apakah ada dok? saya akan membayar berapa pun itu"
"Ada beberapa jantung yang tersedia pak, tapi sayang nya tak ada yang pas untuk anak bapak"
"Saya! pakai jantung saya saja dok"
Agha menoleh ke belakang, sosok Silvie berdiri dengan kaki yang gemetar. Sepertinya dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Meti yang di sebelah nya tampak terkejut dan menatap Silvie tidak percaya.
__ADS_1
"Silvie, apa yang kau katakan!" Bentak Meti.
"Bu, umur ku emang sudah tidak lama lagi tapi setidaknya jantung ini bisa memberikan kesempatan hidup untuk Lewis"
"Nak jangan tinggalkan wanita tua ini sendiri" Tangis Meti.
"Bu aku ini sakit sakitan sedangkan Lewis masih muda, ku mohon bu mengertilah aku tidak akan bisa hidup jika anak ku itu mati" Pasangan ibu dan anak ini ber tangisan sambil saling mendekap erat.
"Silvie kau tidak perlu melakukan hal itu, biar aku saj-"
"Diam kau!" Gertak Silvie memotong ucapan Agha, tentu saja Agha tersentak beberapa detik.
"Saya ibu nya dok, tolong priksa saya, mungkin jantung saya cocok"
Dokter kembali melirik Agha, tapi pria itu hanya diam menatap kosong kertas di hadapan nya. "Jika bukan jantung ku yang di pakai, maka aku akan bunuh diri, sama saja kan aku akan mati" Ancam Silvie, membuat semua orang yang ada di situ ternganga.
Pada akhirnya setelah pemeriksaan ternyata jantung Silvie pas dengan Lewis, mengingat Lewis yang tinggi badan nya sebahu Silvie mungkin itu bukan lah hal yang mustahil.
__ADS_1
Sebelum oprasi di mulai Silvie berpamitan dulu dengan Agha dan juga Meti, tak lupa juga ia mengirim pesan teks ke Delly, dia hanya ingin mengucapkan salam perpisahan serta penyesalan nya yang memutus kontak beberapa tahun ini.
"Nak~" Pilu Meti menggenggam tangan putri nya erat erat.
"Bu, aku bahagia sekali bu, jantungku akan berdetak memberikan kehidupan untuk Lewis, aku akan hidup di dalam diri anak itu, tidak apa apa jangan menangis, sejak awal aku tidak pernah berpikir untuk melihat mayat ibu, pada akhirnya ibu lah yang akan melihat mayat ku. Terimakasih sudah merawat dan menemani ku hingga detik ini, aku menyayangimu" Katanya dengan tersenyum manis.
Meti mengangguk dan rasanya enggan untuk melepaskan putri nya, namun apa daya yang di katakan Silvie ada benar nya, umur wanita itu tidak lama lagi kerja tumor yang di derita, setidaknya sebelum kematian nya kerna tumor lebih baik kematian demi Lewis yang masih memiliki harapan.
"Gha, kau belum menceraikan Delly kan?"
"Dari maan kau tau?"
"Aku tau kau sangat mencintai nya, jemput dia pulang dan besarkan anak kalian sama sama, dan mengenai Lewis ada alasan kenapa aku memutus kontak dengan kalian, anak itu homoseksual dan kurang ajar tolong didik dia dengan baik, maafkan kegagalan ku ini"
Itu adalah kata kata terakhir yang Agha dengar dari nya, Silvie di bawa ke ruang oprasi, tidak ada ekpresi takut yang tergambar dari wajah wanita itu, dia ikhlas merelakan semuanya.
Flashback End.
__ADS_1
TBC.