I Love You Mr.Detective

I Love You Mr.Detective
Bab ~ 99


__ADS_3

3 tahun kemudian.


Sudah tiga tahun, Delly tidak mengira selama ini dia menjalankan kehidupan yang sangat bahagia. Agha yang sangat perhatian, Lewis yang tampak menerima keadaan serta Theo yang tumbuh semakin pintar.


"Mama Papa," Teriak Theo berlari membawa piala besar di tangannya. Delly dan Agha yang tengah duduk berdua di depan TV pun langsung menoleh.


"Astaga apa ini?" girangnya bukan main.


"Piala, aku dapat juara satu umum di sekolah,” jawab Theo menampakkan gigi rapi nan putih.


"Pintar anak papa, sebagai hadiahnya papa akan belikan Theo sepatu roda yang Theo tunjuk di toko kemarin."


"Benarkah? tapi Theo juga mau skateboard."


"Baiklah itu juga boleh," Ucap Agha sambil mengangkat Theo ke atas pangkuannya. Theo sudah fasih berbahasa Indonesia sejak 2 tahun yang lalu berkat guru bahasa yang disewa Agha.


Delly kemudian menyadari keberadaan Lewis yang berjalan lesu naik ke tangga. "Lewis,” panggil Delly.


"Iya, Mah?"


“Sini duduk, mama dan papa mau lihat nilai lapormu,” pinta Delly melihat apa yang Lewis pegang, sebenarnya Delly tak banyak berharap pada anak itu, hanya saja dia ingin melihat perkembangan Lewis, itu saja.


Lewis kembali turun dari tangga kemudian duduk di sofa, setelah di buka laportnya Delly sudah tak terkejut lagi dengan nilai yang hanya sama dengan rata-rata, pasti guru Lewis berbaik hati memberinya nilai untuk sampai hanya ke rata-rata saja.


"Peringkat berapa kau di kelas? Di sini tidak tertulis."


"Enggak tahu juga."


"Bisa saja dia yang terakhir," Bisik Agha ke telinga ke telinga istrinya.

__ADS_1


"Shut diam, nanti dia patah semangat," Balas Delly berbisik juga. Agha tersenyum tipis pada Lewis, dia tidak boleh membandingkan Lewis dengan adiknya.


"Jadi hadiah apa yang kau ingin karena keberhasilanmu telah naik kelas?" tanya Agha, dia tak ingin Lewis berpikir ayahnya pilih kasih karena adiknya dapat hadiah.


"Liburan sendiri ke luar negeri."


Lewis minta enggak nanggung-nanggung, padahal dia hanya naik kelas, yang dapat juara umum saja tidak sebegitunya.


"Sendiri? Kau tak ada niatan untuk ketemu Frank kan?" curiga Agha.


"Kalau tidak boleh ya sudah padahal aku cuman mau liburan sendiri ke Paris." Lewis ngambek, dia langsung pergi naik tangga dengan langkah cepat.


Delly dan Agha saling tatap tatapan. "Bagaimana ini Dell?"


"Kasih aja sih bang, kan dia sudah melupakan Frank, lagian bukannya orang suruhanmu untuk mengawasi Frank bilang kalau anak itu sudah punya pacar."


"Abang takutnya Frank tahu kalau dia sedang di awasi, mungkin saja dia pura-pura"


"Hemm kasih enggak ya?"


"Kasih aja bang, kasihan dia enggak pernah liburan."


Agha mengangguk, sulit sekali baginya menolak permintaan Delly.




Malamnya Delly membantu Lewis berkemas untuk keberangkatannya ke Prancis. Dia melihat ada rasa sedih di mata anak itu, bukankah ini kemauannya kenapa dia tampak tidak semangat.

__ADS_1



"Lewis."



"Iya, Ma?"



"Kau akan kembali ke mama kan?" tanya Delly dan Lewis langsung mengangguk yakin.



"Kalau tidak ke mama ke mana lagi aku akan kembali?"



"Janji?"



"Iya aku janji."



Walaupun Delly merasa tidak yakin dengan ikatan kelingking ini namun dia berusaha percaya dengan Lewis, dia yang melahirkan anak itu, Delly yakin Lewis tak akan pernah meninggalkannya.


__ADS_1


Tbc.


__ADS_2