
Setelah sampai ke rumah, dengan langkah seperti maling Delly mengendap-endap masuk, memastikan Agha tidak memergokinya.
Setelah berhasil sampai kamar, Delly menelefon kepala sekolah malam itu juga, dia tidak memiliki kesabaran untuk menunggu sampai pagi.
Setelah terhubung Delly meminta kepala sekolah untuk memberitahu ke guru lainnya agar tidak meminjamkan ponsel pada Herna. Awalnya kepala sekolah heran namun Delly menggunakan cara licik dengan menyumpal mulutnya itu menggunakan uang.
Delly juga bertanya berapa gaji Herna, kepala sekolah pun menjawab 800.000, wanita itu bernapas lega karena itu angka yang kecil dan tidak cukup untuk Herna membeli HP, belum lagi biaya kontrak rumah serta makan minumnya sehari-hari.
“Apa pun itu aku akan menghalanginya,” gumam Delly dengan tatapan tajam yang tertuju pada jendela.
Bukankah sekarang Delly terlihat seperti antagonis? Dia berhasil memonopoli Agha dari Silvie dengan membiarkan ia bebas dengan putranya Lewis, sekarang misi Delly bertambah satu dengan menghadang cinta pertama Agha untuk bertemu dengan Agha.
Paginya entah kenapa Agha sudah berada di depan pintu kamar Delly di saat wanita sedang mengumpulkan nyawa.
“Dell cepat buka pintunya,” gedor Agha.
Kreek~
“Ada apa sih bang? Tumben bangun jam segini?”
“Laptopku ada di kamarmu.”
Agha masuk, dia mengambil laptopnya lalu pergi ke ruang kerja yang letaknya berseberangan dengan kamar Delly.
Setelah selesai mandi Delly pergi melihat Lewis yang sedang bersama kak Silvie, anak itu terlalu lengket dengannya.
__ADS_1
“Kak kapan kakak akan menjalani operasi?” tanyanya.
“Lokasi tumornya tidak memungkinkan untuk dibedah.” Silvie tersenyum getir, mungkin ini salah satu alasannya, kenapa ia begitu sedih, padahal operasi adalah tindakan paling efektif.
“Bang Agha sudah kakak kasih tahu?”
“Sudah.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang akan mengirimku ke Amerika untuk pengobatan.”
“Itu bagus juga, rumah sakit di sana lebih canggih kan? Kakak pasti bisa sembuh.”
Silvie mengangguk kemudian melirik Lewis yang juga ikut mendengarkan percakapan mereka.
“Hah? Siapa yang akan mengurusnya di sana kak? Kakak fokus saja ke pengobatan.” Keget Delly bukan main.
“Aku membawa mamaku Dell, jika aku sedang berobat mama yang akan menjaganya.”
“Lewis mau ikut ibu Silvie?” tanya Delly pada anak itu. Lewis mengangguk dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kalau Lewis ikut, ibu Silvie akan sembuh kan?” tanya penuh harap.
“Lewis adalah semangat ibu, tentu saja ibu akan sembuh kalau ditemani Lewis.”
__ADS_1
Melihat mereka berdua yang berpelukan penuh haru, sepertinya Delly butuh waktu untuk memikirkan semua ini.
Ku lihat mereka berdua berpelukan dengan haru, sepertinya aku butuh waktu untuk memikirkan ini semua.
“Kak, aku bicarakan dengan bang Agha dulu ya.”
“Ya sudah sana pergi bicara dengannya, mumpung dia lagi ada di rumah.”
Delly pun langsung pergi ke ruang kerja Agha, pria itu sibuk dengan kertas-kertas bergambar yang ada di mejanya.
“Bang.” Panggilnya.
“Hmm.”
Delly main duduk aja di pangkuan Agha, ini adalah cara yang paling efektif untuk mengalihkan perhatian pria itu dari pekerjaan.
Agha menarik leher Delly agar bisa melu-mat bibirnya, pria ini sebenarnya nafsuan, tapi kemampuannya untuk menahan hasrat itu sangat hebat.
Tangannya langsung menelusup ke dalam rok mini Delly.
Plak!
Refleks Delly menepis tangannya hingga Agha merajuk dan menurunkan Delly dari pangkuannya.
“Nah kan merajuk lagi kalau ditolak.”
__ADS_1
Dia tidak merespons Delly dan malah memilih untuk melihat kertas-kertas sialan itu.
Tbc.