
Bagaimana rasanya ketika dirimu di rendahkan? Tidak kah kau merasa sudah melakukan hal yang terbaik? Pasti tidak. Rasa itu selalu ada dalam pikiran manusia, ingin menjadi sempurna bahkan sudah terlukis dalam angan angan dan mengharapkan tuhan untuk mewujudkan mimpi itu.
Tidak semua orang seperti itu, kata siapa? Ketidakpuasan selalu datang bahkan jika kau memiliki segalanya. Usaha usaha usaha, persetan! Itu melelahkan.
Silvie, nama wanita yang sekarang menangis dalam kamar seorang diri. Sakit hati ketika sang mertua mengabaikan dirinya dan membawa orang baru di rumah nya untuk berjalan jalan, hanya berdua saja.
"Hiks Tuhan kenapa aku tidak bisa hamil?"
Manusia memang mahluk yang unik, ia akan terus bertanya pada sang Pencipta walaupun tidak mendapat jawaban. Apakah sebab itu banyak orang yang tidak mempercayai keberadaan nya? Lupakan!.
"Aku cacat" Isak nya merendahkan diri
Aku merasa tidak enak hati di sela sela aktifitas ku menemani mama Reva yang sibuk memilih pakaian untuk ku, iya untuk ku.
"Delly ini cantik sekali, pegang lah kita akan membeli ini juga"
"Tente tapi ini sudah terlalu banyak, kita udahan yuk"
"Apa maksud mu banyak? Bahkan kita belum memilih heels untuk mu, ayo jangan sungkan pilih saja apa yang kau mau Dell"
Pasrah, Aku hanya bisa menerima pemberian Reva. Satu hal yang tak ku mengerti, kenapa wanita paruh baya itu hanya membelikan untuk diriku saja? Ayolah aku hanya orang asing yang numpang di rumah orang lain, menerima keroyalan seperti ini sangat berlebihan bagi ku. Terus bagaimana dengan Silvie?.
Pukul delapan malam, aku dan Reva baru sampai ke rumah. Ada tatapan mata di ujung tangga sana, ia memasang wajah ramah sambil berjalan menuruni anak tangga melangkah lebih dekat untuk duduk di sofa di samping Reva.
"Mama capek?" Ucap nya.
__ADS_1
"Enggak usah sok perhatian, menyingkirlah aku ingin istirahat" Berlalu ia pergi.
Aku yang melihat itu menebak kalau Silvie pasti sangat sedih sekarang.
"Kak Silvie udah makan?" Tegur ku mencoba mencairkan suasana.
"Belum Dell, kaka menunggu kalian pulang"
"Kita makan yuk kak, aku juga belum makan"
"Makan sih tapi aku masih lapar"
Itu hanya alasan ku saja, sebenarnya aku bahkan hampir muntah sangking kenyang nya. Mendengar Silvie yang menunggu nya aku jadi merasa bersalah.
Makan lah aku bersama Silvie berdua, saat selesai aku mengundang Silvie ke dalam kamar ku.
.
.
"Kau mau menunjukkan apa?"
__ADS_1
"Lihat ini, jeng jeng" Ucap ku memperlihatkan papar bag yang banyak sekali berserak di ranjang.
"Mama membelikan nya untuk mu? Aku iri"
"Untuk apa iri? Ini ini ini dan ini punya kak Silvie mama memilih nya untuk mu"
"Benarkah?"
Girang Silvie menerima yang ku tunjuk tanpa rasa sungkan, ia tidak tau saja kalau aku berbohong agar Silvie tidak sedih.
"Ternyata mama masih memperhatikan ku, em sisanya punya mu ya Dell?"
"Iya, kerna aku yang milih jadi ini milik ku"
Silvie terkekeh, Delly terlihat gemes kerna berbicara dengan bibir manyun seakan takut mainan nya di rebut.
Setelah sekiranya 30 menit berbicara dengan ku, Silvie kembali ke kamar nya.
"Maafkan aku kak, aku berbohong pada mu" Gumam ku menatap pintu kamar yang sudah terkunci.
Tbc.
__ADS_1