
Entah dari mana Agha semalaman ini tapi kedatangan nya sekarang wajahnya tampak.. tidak ada yang beda sama saja seperti sebelumnya.
"Lewis sudah bangun?"
"Belum" Jawab ku.
Kemudian ada seseorang lagi yang masuk melalui pintu yang sama dengan Agha tadi, dia adalah Frank.
"Halo tante, Halo paman, kalian sudah sarapan? aku sempat membeli ini tadi sebelum ke sini" Tawar nya dengan tersenyum tipis.
"Terimakasih Frank, tapi apa kau tidak ke sekolah?" Aku suka dengan pemuda satu itu, dia ramah dan juga perhatian, Lewis beruntung sekali memiliki teman sepertinya.
"Kau membolos ya" Potong Agha.
"I-iya" Jawab nya gugup, aku memandang Agha dengan tatapan tidak senang, pria itu membuat anak itu merasa tidak nyaman.
Aku menerima makanan yang sudah di beli Frank, aku memang belum makan kebetulan sekali anak ini membawakan nya, tidak enak kan kalau di tolak?.
__ADS_1
Saat sibuk sibuk nya menguyah, erangan Lewis membuat kami semua berhenti sejenak.
"Frank~" Gumam nya yang terdengar pelan di telinga kami. Nama yang di panggil pun langsung berdiri menghampiri.
"Lewis, Lewis aku di sini, Paman tante Lewis sudah sadar" Kata Frank berlinangan air mata. Aku dan Agha sontak langsung berdiri mendekati Lewis.
"Lewis, syukurlah kau sudah sadar nak" Aku memeluk nya erat, tapi anak ini tidak membalas pelukan ku dan bahkan pegangan tangan nya dengan Frank sangat erat.
Ku tatap dua tangan yang saling berpautan itu, baru ku sadari nama yang di panggil Lewis pas sadar adalah teman nya Frank, bukan Aku, bukan Agha ataupun kak Silvie, ini aneh kenapa harus Frank? kalau memang dia tidak dekat dengan ku semenjak beberapa tahun ini bukan kah seharusnya dia menyebut kak Silvie ataupun bibi Meti.
"Dell"
"K-kenapa? dia tidak memandang ku bang? dia sudah tidak menganggap ku lagi ya?" Suara ku bergetar, hati ku terhenyak hanya kerna Lewis tidak menanggapi ku.
"Dell jangan berpikir seperti itu, dia baru sadar mungkin pandangan nya masih buram"
"Tapi t-teman nya? lihatlah mereka berpelukan" Tunjuk ku ke arah Lewis dan juga Frank yang saling berdekapan dengan Frank yang menangis tersedu sedu sedangkan Lewis mengelus kepala Frank. Keberadaan ku dan juga Agha seakan transparan, atau sebenarnya kami ini adalah hantu?.
__ADS_1
Agha kemudian menarik tubuh ku lebih dekat dengan nya, kemudian ku rasakan bibirnya di telinga ku, jangan berpikir macam macam! dia hanya sedang membisikkan ku.
"Apa?!" Kejutku bukan main, Agha langsung membekap mulut ku dengan tangan nya.
"Shuut jangan keras keras"
"Mereka gay?" Bisik ku dengan suara pelan.
"Itu yang di katakan Silvie sebelum meninggal, dan sekarang kenyataan nya terpampang jelas di hadapan kita"
"Oh Tuhan apa yang harus ku lakukan" Aku semakin prustasi.
"Untuk sekarang biarkan saja sampai Lewis benar benar sembuh, emosi nya sekarang belum stabil jika kita memisahkan mereka sekarang, entah apa yang akan di lakukan anak itu nanti"
Kembali lagi aku menoleh pada pasangan gay di sana, mereka seakan melupakan bahwa ada mata yang melihat mereka. Aku jadi teringat, dulu waktu kecil Lewis pernah ketahuan nonton film por*o BL.
Tbc.
__ADS_1