
Melihat Agha yang merajuk seperti ini memang sangat menggemaskan, tapi nanti pada akhirnya Delly juga yang lelah, dia tak akan berbicara kalau tidak dipujuk terlebih dahulu.
“Ok setelah aku selesai bicara kita bisa lanjutkan yang tadi,” tawar Delly dan Agha pun akhirnya menoleh.
“Bicaralah,” ucapnya.
“Kak Silvie ingin membawa Lewis ke Amerika bersamanya.”
“Hah?”
“Dia bilang bibi Meti akan ikut bersamanya, bagaimana menurut abang?”
“Enggak, Lewis di sini saja.”
“Tapi kan abang tahu, kalau Lewis itu lengket banget dengan kak Silvie. Lewis adalah semangat kak Silvie.”
Agha tampak berpikir sejenak, hal yang paling ia pikirkan adalah pergaulan bebas di sana. Apalagi mereka akan tinggal di sana dalam jangka panjang, walaupun Silvie membawa ibunya untuk mengawasi Lewis tetap saja kedua wanita itu tidak bisa menolak apa pun permintaan Lewis, anak yang terlalu dimanja dan selalu mendapatkan apa yang ia mau pasti akan tumbuh menjadi karakter yang buruk.
“Bagaimana bang?” tanya Delly lagi namun Agha masih diam.
__ADS_1
“Ini demi kesembuhan kak Silvie juga bang, jujur saja aku juga merasa berat, pikirkan sisi lainnya bang, kalau abang memikirkan sisi buruknya maka semuanya akan terlihat buruk.”
“Kau yakin Dell?” tanya Agha.
“Y-yakin kok.”
“Ya sudah kalau begitu biarkan Silvie membawa Lewis, biasanya naluri ibu kandung itu lebih tajam,” kata Agha yang percaya pada Delly.
Mendengar perkataan Agha malah membuat Delly takut, sebenarnya dia sendiri merasa sangat-sangat ragu, tapi ini semua demi Silvie.
“Ayo lanjutkan yang tadi,” ucap Agha tiba-tiba.
“Hilangkan kebiasaan larimu itu,” ujarnya sambil menggiring Delly duduk di pangkuannya kembali.
Begitulah kebiasaan Delly, namun setiap dia berusaha lari dari tanggung jawab pasti Agha tidak akan membiarkan itu.
“Bang kunci dulu pintunya, nanti Lewis masuk bagaimana?” pinta Delly.
Agha berdiri untuk mengunci pintu, kemudian dia kembali mengangkat tubuh Delly ke dalam pangkuannya untuk melanjutkan yang tadi tertundah.
__ADS_1
Delly benci posisi itu, posisi yang di mana mengharuskan dirinya untuk bergerak, sedangkan Agha dengan enaknya menyimpan tenaga untuk menggempur Delly setelah wanita itu benar-benar lelah. Brengsek memang. Agha suka sekali melihat Delly yang terkapar tak berdaya di dalam kukungannya.
“Ahh capek!” keluh Delly.
“Ok sekarang giliran abang”
Nah kan sudah ku duga, 🎶dan terjadi lagi.. kisah lama yang terulang kembali 🎶
Walaupun digempur batin Delly kini sedang bernyanyi, ini adalah tanda kepasrahannya.
Melihat Lewis yang bersepeda di halaman, benak Silvie berdoa pada Tuhan agar membiarkannya melihat Lewis tumbuh dewasa. Pikirannya begitu parno ketika dinyatakan tumor otak walaupun dokter bilang masih bisa disembuhkan.
Yang ia tahu banyak sekali orang-orang yang berakhir dikubur karena penyakit yang sama, entah karena mereka tidak memiliki biaya atau memang penyakit ini yang terlalu berbahaya?
“Tuhan apakah ini balasan atas semua kesabaranku selama ini? Aku mandul, aku di hina mertuaku, bahkan aku merelakan suamiku menikah dengan wanita lain agar dia memiliki keturunan, dan sekarang? Itu semua menyakitkan, keberadaan Lewis membuatku sangat bahagia, jadi biarkan aku menyaksikan pertumbuhannya, hanya itu saja tuhan,” ucap Silvie dalam hati menangis menatap langit.
Tbc.
Tinggalkan jejak sebelum lanjut.
__ADS_1