
Sejak tadi aku bergerak menuruti ajun Meti yang terus saja menyuruh ku, ini bahkan sudah sore namun ada saja perintah yang membuat ku terus kesana kemari.
"Ah lelah nya" Keluh ku yang tersandar di Sofa.
"DELLYY!"
Lagi lagi terdengar suara teriakan dari Meti, aku bergegas menghampiri nya. Wanita itu memang berniat menyiksa ku di rumah ini, ia tau itu.
"Ada apa lagi bibi?" Tanya nya untuk yang sekian kali.
"Tolong cucikan sepatu ku yang semalam ku pakai"
Aku yang lelah melirik Silvie yang juga ada di ruangan yang sama. Namun apa? Bahkan Silvie seperti tidak ada niat untuk menolong ku. Padahal aku berharap wanita yang ku anggap kaka itu memberi rasa kasihan pada ku.
Tak bicara lagi, aku pun mengambil sepatu itu lalu membawa nya ke ruang loundry. Tengah sibuk mencuci seorang pelayan pun mendatangi nya.
"Nona biar saya saja"
"Tidak apa bu Arin, nanti kalau ketahuan aku di marahin lagi"
"Tapi ini sudah keterlaluan nona anda juga nyonya di rumah ini. Kalau tuan Agha tau pasti dia marah" Khawatir nya
"Kalau gitu jangan beri tau dia, aku mengerti kenapa bibi Meti tidak menyukai ku. Ibu Arin kerjakan yang lain aja ya, ini cuman sepatu kok"
Bu Arin pun pergi dengan langkah yang berat, dia merasa kasihan dengan Delly "Pasti nona Delly capek banget" Gumam nya sembari melirik ke belakang.
__ADS_1
Usai makan malam aku langsung saja masuk ke kamar ku untuk istirahat, namun apa? Baru saja rebahan sekitar sepuluh menitan aku di kejutkan oleh pintu kamar yang secara tiba-tiba terbuka.
Aku terduduk menyambut kedatangan wanita paruh baya yang seenaknya masuk ke kamar ku.
"Bibi ada apa?" Tanya ku.
"Nyaman banget ya kamar mu, bukan nya kau hanya orang asing yang mengemis tumpangan hidup ya? Kenapa kamar untuk mu bagus sekali?" Gunjing nya dengan ekpresi yang menyebalkan.
"Cih, ingat setelah kau memberikan keturunan untuk Agha kau harus langsung pergi dari rumah ini" Katanya lalu pergi dengan membanting pintu.
Aku langsung berlari mengunci pintu "Enak saja, jika aku harus pergi maka aku akan membawa anak ku" Ucap ku yang tiba-tiba judes.
"Lagian kalau aku gak mau cerai, bang Agha pasti gak bakalan cerain aku. Mau bagaimana pun aku jauh lebih sempurna dari pada kak Silvie"
__ADS_1
Waw, sisi lain Delly muncul. Sepertinya perkataan Meti tadi sangat sensitif untuk dia dengar. Gadis penurut tak selamanya penurut, ia juga memiliki rasa tentang hak.
Rasanya kantuk ku tiba tiba hilang, aku beralih mengambil flashdisk yang ki simpan di dalam nakas. Aku baru ingat kalau aku memiliki benda itu, rasa penasaran ku pun bergelora.
"Memang apasih isi dari benda ini? kenapa mereka terlihat sangat panik saat kehilangan nya?" Tatap ku pada benda pipih persegi panjang.
Sekali lagi aku mengecek pintu memastikan pintu itu terkunci, aku takut isi nya sangat rahasia, kedatangan seseorang secara tiba tiba mungkin akan sangat berbahaya.
Clik~
Flashdisk pun terpasang sempurna di laptop, dengan sedikit pengetahuan tentang komputer, aku mengotak atik mulai membuka file file, untung nya tidak terkunci.
"Bagaimana bisa penjahat itu seceroboh ini?" Gumam ku.
TBC.
__ADS_1