I Love You Mr.Detective

I Love You Mr.Detective
Bab 07


__ADS_3

Tok Tok Tok.


Bunyi ketukan pintu mengusik Delly yang tengah enaknya terlelap. Dengan langkah berat Delly membuka pintu, berhadapanlah muka bantal Delly dengan Silvie yang menyengir kuda.


“Kak Silvie? Ada apa?”


“Maaf mengganggumu, aku tidak tahu kau masih tertidur.”


“Tidak apa-apa, Kak.”


“Boleh kakak masuk?”


“Em iya kak silakan, tak perlu minta izin ini kan rumah kakak.” Delly menyingkir dari pintu agar Silvie bisa masuk.


Silvie merasa tenang Delly mengatakan hal itu, setidaknya dia dapat menilai gadis yang menumpang di rumahnya ini cukup sadar diri.


Kini duduklah mereka di birai ranjang, Delly penasaran sebenarnya apa yang membuat Silvie memasang wajah bersalah seperti itu.


“Ada apa kak?” tanyanya terlebih dahulu karena Silvie tak kunjung buka suara.


“Em ini Dell, sebenarnya aku datang ke sini ingin minta maaf soal semalam.”


“Soal yang semalam? Yang mana? Perasaanku kakak tidak memiliki salah padaku.”


“Semalam aku memasang raut tidak enak kan? Itu salahku, harusnya aku tidak seperti itu. Maafkan aku yang jahat ini.”


Mata Delly membulat, ya dia tidak mungkin melupakan ekspresi Silvie semalam. Tidak masalah, itu hal yang wajar sebagai bentuk kecemburuan istri pada suaminya.


“Kak jangan meminta maaf padaku, sejujurnya aku tidak tahu Agha sudah memiliki istri maka dari itu aku berani meminta tolong padanya. Saat pertama kali melihat kakak aku terkejut dan ingin pergi saja takut kalau kakak salah paham dan tidak nyaman dengan keberadaanku, tapi aku tidak tau lagi mau minta tolong sama siapa, jadi.. Maafkan aku.”


“Ok begini saja, aku akan menganggap kau adalah adik kandungku, bagaimana?”


Begitu tiba-tiba, Delly tidak mengerti arah pemikiran Silvie, namun ia ladeni saja. “Kalau begitu kakak adalah kakakku, mulai sekarang kita bersaudara,” balas Delly tersenyum tipis dengan raut ceria.



__ADS_1


Di meja makan Delly dan Silvie tampak bercakap cakap sambil sesekali tertawa, mereka sedang menunggu sarapan di hidangkan.



“Kak sudah pukul tujuh, suami kakak enggak dibangunkan?”



“Sudah pulul tujuh? Wah aku tidak sadar! Kaka pergi ke kamar dulu ya, tunggu kami jangan makan sendiri.”



“Iya,” jawab Delly sebelum akhirnya Silvie hilang dari pandangan.



“Ternyata begini rasanya punya teman yang bisa di anggap saudara,” humam Delly sendiri. Karenanya Delly sudah tak merasa canggung lagi walaupun baru beberapa hari dia menginjakkan kaki di rumah ini, percakapan dengan Silvie tadi pagi mampu membuat rasa tidak enak itu perlahan pudar.




“Selamat pagi bang Agha,” sapa Delly dengan ramah.



“Abang?” Agha “Abang?” Agha sedikit asing dengan panggilan Delly barusan, adiknya saja memanggil Agha dengan sebutan, Kak Agha.



“Iya abang kan lebih tua, enggak sopan kalau panggil nama. Di Indonesia begitukan cara panggilannya.”



“Hmm terserah kau saja.”


__ADS_1


Tak ambil pusing, Agha membiarkannya saja, lagi pula Silvie tampak tidak keberatan akan hal itu.



Agha dapat melihat Delly dan Silvie tampak akrab pagi ini, tak usah bertanya pun Agha tahu, jawabannya pasti karena Silvie sudah menerima Delly sepenuh hati untuk tinggal di sini.



“Sil, nanti siang antarkan makanan ke kantor ya,” pinta Agha.



“Eh, kenapa tidak beli di luar saja?”



“Ada banyak dokumen yang harus kuselidiki, aku tak punya waktu untuk mengantre makanan di luar.”



“Em iya deh,” jawab Silvie tampak malas.



Usai sarapan Agha langsung pergi ke luar berangkat kerja, sedangkan Silvie sibuk dengan HP-nya chatingan sama teman-teman.



Tampak biasa saja pasangan suami istri itu, bahkan saat Agha pergi berangkat kerja Silvie malah sibuk dengan Hp nya.



“Mereka tak saling pamitan?” gumam Delly terheran, padahal Delly sempat berpikir mereka adalah pasangan yang romantis mengingat kecemburuan Silvie padanya semalam.



Tbc.

__ADS_1


__ADS_2