I Love You Mr.Detective

I Love You Mr.Detective
Bab ~ 97


__ADS_3

Tadi malam aku tidur dengan nyenyak, rasanya seperti bernostalgia sebelum aku dan bang Agha memiliki masalah yang rumit. Tentu saja aku rindu dengan semua momen itu, tak di pungkiri hingga detik ini aku masih kesulitan untuk membuang perasaan ku pada bang Agha.


Mungkin kalau bukan kerna ketakutan ku akan perasaan yang tak di anggap oleh anak sendiri aku tidak akan kembali ke sini. Seperti saat ini, saat aku berbicara dengan Lewis namun anak itu segan seakan aku orang asing.


"Terimakasih ma" Ucap nya tersenyum tipis ketika aku datang membawakan nya segelas susu.


Bukan aku tidak senang dia mengucapkan terimakasih tapi... kalau mengingat dia waktu kecil dia sangat cerewet dan lasak, dia juga banyak mengeluh dan menangis jika keinginan nya di tolak. Apa aku terlalu berlebihan membandingkan dia saat kecil dengan saat ini?.


"Cepatlah, sebelum berangkat sekolah kau harus sarapan dulu"


"Iya"


"Apa sekolah di sini enak?"


"Engg lumayan"


"Mama tau kau tidak suka di sini kan? kau mau dekat Frank kan?. Sadarlah kau lahir di tanah Indonesia, di mana hal yang semacam itu tidak lah wajar di negri ini. Keluarga kita juga tidak akan menerima hal yang semacam itu" Kata ku sembari memperhatikan raut nya yang berubah sendu, genangan air sudah menetes dari pelupuk matanya.




Di sini di meja makan kami ngumpul bersama, maksud ku.. dengan keluarga Agha juga. Mereka datang kerna mendengar tentang ayah ku yang juga ada di sini.



"Ahahaha" Ketawa Yara ketika melihat ekpresi orang tuanya yang bingung kerna ayah ku menggunakan bahasa china.



"Hus Yara! diam dulu, Ray tutup mulut istri mu itu" Tegur mama Reva.



"Lucu ma" Kata Yara.

__ADS_1



Pada akhirnya mereka hanya saling menyapa dan bertanya ala kadarnya melalui aku yang menerjemahkan.



"Delly kau jahat banget, nih cucu nenek udah sebesar ini tapi tidak pernah memberitahu tentang kami sedikitpun padanya"



"Ma-maaf ma"



"Duh mirip nya dengan Agha waktu kecil, Lihat nih, ini foto papa mu waktu kecil" Reva menunjukan foto yang ada di HP nya pada Theo.



"Ini Theo?"




"Iya"



"Dia sempat menyangkal kalau Theo bukan anak ku mah" Adu Agha sambil mengunyah sosis nya. Aku mencubit paha nya geram, kerna dia berada di samping ku.



"Eh mana bisa, orang mirip nya sama Agha kok. Kau tidak bisa berdalih Dell, ni anak ibarat kan pinang di belah dua dengan papanya" Bela papa Calvin membuat ku tersenyum kikuk.


__ADS_1


"Masih marah tu dia sama kak Agha" Sambung Yara.



"Kesalahan Agha memang sulit di maafkan, tapi Dell sebagai mama nya Agha, kalau mama yang meminta maaf kau mau maafin gak?. Dia udah jers tuh, please ya jangan di perpanjang lagi marahan nya"



"I-iya ma~"



"Janji"



Aduh kalau kaya gini aku jadi rerpojok, ku lihat ayah ku yang seperti nya mengerti apa yang kami bicarakan, dia tersenyum tipis sambil mengangguk.



"Iya janji" Balas ku.



"Makasih Dell, mama pastikan kalau Agha menyakiti mu lagi dia akan mama tabrak pake mobil" Ancam nya sambil menunjuk wajah Agha dengan tatapan marah.



"Yah, mamaku ingin mrnabrak ku menggunakan mobil kalau aku menyakiti putri mu lagi" Terjemah Agha pada mertuanya.



"Ayah setuju dengan mama mu" Katanya membuat Agha tertawa.


__ADS_1


Tbc.


__ADS_2