
Pukul 19.00 Agha tampak celingak-celinguk seakan mencari sesuatu, hanya ada Silvie di meja makan membuatnya bertanya tentang ke mana perginya Delly.
“Apa yang kau cari sayang?” tanya Silvie.
“Di mana Delly kenapa dia tidak ikut makan malam?”
“Ah dia makan dengan para pembantu lainnya.”
Kening Agha menyeringit, ia tidak ingat mengatakan kalau Delly akan menjadi pembantu di rumah ini.
“Dia bukan pembantu jadi untuk apa makan di sana?” ujar Agha dengan tatapan intimidasi.
“Sayang dia menumpang di rumah kita, tak mungkin dia tidak melakukan apa-apa.”
Agha berdiri dari duduknya berjalan ke dapur tempat para maid berkumpul menikmati hidangan.
“Delly,” tegurnya.
Merasa namanya dipanggil Delly pun menoleh dengan mulut yang masih mengunyah.
“Iya tuan?”
“Apa maksudnya ini? Kau bukan pembantu ayo makan bersamaku di meja sana.”
“Tapi kak Silvie bilang-”
“Sudah jangan hiraukan itu, kalian di sini harus ingat Delly bukan pembantu di sini”
“Baik tuan.” Jawaban serempak dari mereka diakhiri dengan Agha yang menarik tangan Delly menuju meja makan yang ada Silvienya di sana.
Delly di dudukan di hadapan Agha sementara Silvie di samping Agha.
Tatapan menusuk Silvie menerkam Delly, gadis itu langsung menunduk menyadari kalau Silvie tidak suka satu meja bersama Delly, siapa pun pasti bisa menyadarinya.
“Tuan-”
“Jangan panggil tuan.”
“Agha?”
“Itu lebih baik.”
“Aku akan jadi pembantu saja ya, aku merasa tidak enak jika tidak melakukan apa-apa di sini.”
“Di rumah ini aku yang memiliki kuasa penuh, tugasmu hanya menuruti saja perkataanku.”
Agha bisa bilang seperti itu tapi berbeda dengan Silvie yang merasa tidak senang. Wanita itu walaupun tidak bersuara namun wajah merengutnya menggambarkan semua.
__ADS_1
Usai makan Delly langsung melarikan diri ke kamar, tatapan Silvie sangat menakutkan.
“Apa keputusanku salah ya tinggal di sini?” gumamnya setelah masuk kamar.
“Sayang kamu kok begitu dengan Delly? Kamu suka ya sama dia?” rengek Silvie.
“Apa maksudmu? Bukankah sudah kubilang kalau dia itu gadis malang, apa kau tidak kasihan padanya?” jawab Agha.
“Kasihan sih tapi kalau kamu perhatian begitu sama Delly aku jadi cemburu.”
”Tidak usah cemburu, kau tahu aku bukanlah pria brengsek. Jauhkan pikiran burukmu kasihan Delly dia merasa segan karena mendapat raut muka yang tak mengenakkan darimu.”
“Em maaf,” ucap Silvie pelan penuh penyesalan.
“Minta maaflah dengan Delly besok, buat dia nyaman tinggal di rumah ini. Nanti ada saatnya dia akan pergi bersama pria yang berhasil meluluhkan hatinya, anggap saja kita berdua orang tuanya.”
“Em iya, aku akan meminta maaf sekarang saja padanya.”
“Besok saja mungkin sekarang dia sudah tidur.”
“Baru pukul delapan.”
“Besok saja, aku ingin meminta jatahku,”
__ADS_1
“Ih mesum” Kekeh Silvie mencubit kecil perut Agha.
Sementara itu Delly berjalan jalan keliling area dalam rumah tapi ia tak berani naik ke lantai dua karena mengingat Silvie tidak menyukainya.
“Rumahnya besar banget.”
Setiap sudut tak luput dari penyisiran pandangan Delly, dia sangat kagum. Baru kali ini Delly bisa bergerak bebas tanpa dimarahi oleh ibunya. Sembari menghilangkan suntuk, Delly keluar duduk di area tangga masuk.
“Nona Delly apa yang Anda lakukan di sini?” Sapa pelayan yang datang entah dari mana
“Tidak ada hanya duduk saja, aku bosan di kamar.”
“Mau saya ambilkan cemilan?”
“Tidak perlu buk saya sudah kenyang.”
“Baiklah kalau begitu saya permisi ya, Non.”
Kini Dia sendiri lagi, hidup terasa membosankan, sempat terpikir olehnya kapan malaikat maut menjemput?
Tbc.
Tinggal kan jejak kalian, jangan jadi pembaca gaib. Selagi gratis setidaknya tinggalkan Like dan juga komentar.
__ADS_1