
Nasib ku benar benar sial, bagaimana bisa Silvie membawa ibu nya kemari di saat Agha sedang pergi. Baru saja dua jam dia berada di rumah ini namun aku sudah merasa lelah dengan perintah nya.
Lebih parah nya lagi Meti membawa teman teman arisan nya ke rumah ini. Dengan terang terangan mereka menjelekkan ku termasuk Silvie yang menjadi kompor nya.
"Silvie, kamu yang sabar ya, pelakor seperti itu memang tidak tau diri"
"Dia pasti sedang membanggakan dirinya sendiri kerna berhasil menyelamatkan Agha"
"Dek cantik itu bukan segalanya, kamu jangan seenaknya. Lagian di luar sana pasti banyak pria yang mau dengan mu, jangan merendahkan diri dengan mengambil suami orang"
"Jeng, jalan pikiran pelakor itu berbeda. Percuma saja kita menasehati dia memakai bahasa manusia, mereka tidak akan mengerti"
Astaga, ternyata aku di dudukan di sini hanya untuk mendengar hujatan para ibu ibu arisan ini. Ku lihat Silvie dan Meti menyunggingkan senyum nya pada ku, jujur aku ingin lari ke kamar namun sayangnya aku tidak bisa.
Aku diam saja mendengar nasehat mereka yang sebenarnya tidak cocok untuk ku.
"Mama Reva tolong aku" Jerit ku dalam benak. Seandainya ada mama mertua ku di sini, sudah di pastikan mereka akan bungkam atau lebih parah nya mama Reva akan langsung mengusir mereka.
__ADS_1
Aku sudah tidak tahan lagi, mereka mengeroyok ku dengan hinaan mereka, saat aku ingin beranjak lagi lagi Meti menahan tangan ku.
"Mau ke mana Dell? Sudah baik aku mengajak mu bergabung kau melahirkan terus terusan ingin pergi, bukan lah itu tidak sopan?" Nyinyir Meti.
"Benar benar tidak ada martabat, menantuku di rumah jangan kan berbicara, menatap ku saja dia tidak berani. Aku selalu memarahi nya kerna dia terlalu boros memakai uang putra ku"
"Amit amit memeiliki mertua seperti ibu menor itu" Ucap ku dalam hati, membayangkan nya saja sudah membuat ku ngeri.
"Hei dek Delly kau harus menghormati yang lebih tua, kalau tidak ada yang menyuruh pergi kenapa kau ingin pergi"
"Emangnya harus di suruh ya?" Tanya ku.
"Delly kau sangat kurang ajar!" Marah Meti, dia bahkan menjambak rambut ku.
"Aww bik sakit"
Ini benar-benar keterlaluan, kerna merasa rambut ku tak kunjung lepas dari tangan nya aku pun mendorong Meti hingga tersandar di Sofa.
__ADS_1
"Aww!" Isak Meti.
"DELLY!!"
Silvie membentak, aku pun berdiri lalu berlari pergi dari hadapan mereka. Aku harus menyelamatkan diri sebelum mereka mengeroyok ku.
Brak~
Ku tutup pintu kamar kasar tak lupa juga menguncinya.
Di luar mereka tengah menggedor gedor pintu kamar ku, aku jadi takut kernanya. Aku meringkuk di balik pintu, ini sangat menakutkan, kapan bang Agha akan pulang?.
Tiba-tiba air mata ku terjatuh, sekarang keadaan sudah berubah, jika tidak ada Agha maka aku akan tersiksa di rumah ini. Silvie mencoba berbagai cara agar aku di pandang buruk oleh semau orang. Bahkan ku lihat di sosial media nya, dia terus menjelek jelekan aku, dan berbagai respon yang berada di pihak nya.
"Woi Delly keluar kau! atau kami dobrak pintu kamar mu ini"
Mereka berkata seakan kuat saja, tapi usaha mereka tidak sia sia untuk mengancam ku, kerna mental ku sekarang merasa tertekan. Mungkin efek hamil aku jadi mudah ketakutan, padahal sebelum nya aku pernah menerima perlakuan yang lebih buruk dari ayah dan ibu ku.
__ADS_1
Tbc.