
Seperti biasa Lewis di antar sekolah oleh Silvie menggunakan mobil, apa pun itu jika berhubungan dengan Lewis maka Silvie akan menjadi nomor satunya.
“Ibu jangan lupakan janji ibu ya, kalau mama papa tahu mereka berdua pasti akan marah,” kata Lewis pada Silvie.
“Iya Sayang, Lewis tenang saja.”
“HP yang ibu berikan sangat bagus Bu, aku sangat suka.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Ibu yang terbaik, aku menyayangimu, Bu.”
Ternyata dalang yang memberikan Lewis hp adalah Silvie, wanita ini terlalu memanjakan Lewis.
Setelah sampai di sekolah, Silvie mengecup kening Lewis lalu memberikan uang jajan seratus ribu untuk sehari, beda cerita kalau Delly yang memberikan uang jajan, pasti ibu kandung dari anak itu hanya akan memberikan sepuluh ribu saja.
“Belajar yang baik ya, Sayang.”
“Iya, Bu” balas Lewis.
Silvie menatap Lewis yang perlahan menghilang dari pandangan, setelahnya barulah dia pergi.
Bruk~
__ADS_1
“Aw.. Tante kalau jalan hati-hati dong, mentang-mentang aku kecil jangan main tabrak saja, sakit tahu.” keluh Lewis sembari bangun dari jatuhnya.
Wanita yang menabrak pun berjongkok menyamakan tingginya dengan Lewis.
“Maaf ya, adik tidak apa-apa kan?”
“Tidak apa-apa sih, tapi pantatku sakit.”
keluh Lewis memasang wajah tidak bersahabat.
“Kalau begitu nanti ibu traktir jajan sebagai ucapan maaf bagaimana?”
“Tidak perlu, uang jajanku banyak, Tante.”
Bell sekolah berbunyi, semua murid sudah berada di tempat duduknya masing-masing sembari menunggu guru datang.
“Halo selamat pagi,” salam wanita cantik yang baru saja masuk kelas.
“Siapa dia?” Itulah pertanyaan yang mungkin sedang dipikirkan oleh anak-anak itu.
“Perkenalkan nama ibu Herna, mulai sekarang ibu adalah guru baru kalian, salam kenal.”
Lewis ternganga, ternyata orang yang menabraknya tadi adalah guru baru di kelas.
__ADS_1
“Ibu cantik sekali,” puji teman sebangku Lewis.
“Cantik apanya? Cantikan juga mamaku. Eh tapi ibu ini mirip wanita yang di kejar preman itu enggak sih? Kayaknya iya deh.” Lewis membatin.
“Kerna hari ini adalah hari pertama ibu di kelas kalian, mari kita berkenalan.”
Delly pergi ke ruang kerja Agha untuk mencari kertas dan pena guna menulis setruk belanjaan, ia bongkar lacinya, saat dia ambil selembar kertas HVS selembar foto terjatuh ke lantai.
“Foto siapa ini?”
Foto yang menggambarkan Agha dengan seorang wanita tersenyum bahagia dengan memakai pakaian SMA membuat dahi dahi menyeringit.
“Inikah Herna?”
Tanyanya sendiri, seingat Delly, Yara bilang Herna dan Agha berpacaran saat SMA. Herna adalah cinta pertama Agha.
“Sudahku duga, nama Herna memiliki tempat tersendiri di hati bang Agha, walaupun bang Agha tidak pernah menunjukkannya di hadapanku ataupun kak Silvie”
Delly menangis, sebenarnya apa yang ia tangisi? Bukankah dia sudah menetapkan hati untuk tidak menuntut perasaan Agha? Di saat raganya bersamanya di sini hatinya masihlah tetap bersama Herna, ini kenyataan yang seharusnya di ikhlaskan.
“Herna masih ingat bang Agha tidak ya?” Memikirkan saja sudah membuat ia takut. Ketakutan ini muncul mungkin karena Silvie lebih memedulikan Lewis di bandingkan Agha, jadi Delly terbiasa dengan perhatian Agha yang hampir sepenuhnya milik dia seorang.
Tbc.
__ADS_1
Like and komen sebelum lanjut, jangan langsung cabut.