
Delly mendapat telpon dari pihak sekolah untuk segera datang, bergegas aku mencari kak Silvie ke kamarnya.
“Kak, tadi guru Lewis telpon menyuruh aku ke sekolah, kakak yang datang atau aku?”
“Kau saja dulu Dell, kepala kakak pusing banget,” kata Silvie dengan nada yang lemas.
“Kaka sakit?”
“Cuman pusing, nanti deh kakak panggil dokter ke sini.”
“Ya sudah, aku pergi dulu ya.”
Sesampainya di sekolah, Delly langsung disuruh masuk ke dalam kantor. Ia lihat anaknya juga ada di sana berhadapan dengan bapak kepala botak.
“Permisi, Pak.”
“Oh iya buk silakan duduk. ”
Delly duduk di samping Lewis yang malah menangis ketika melihat kehadiran mamanya.
“Begini, Buk, maksud kami memanggil ibu itu untuk mengadukan apa yang kami sita pada anak Ibu.”
“Lewis memangnya kenapa pak?”
“Ini HP anak Ibu, dia ketahuan menonton film dewasa LGBT saat jam istirahat tadi.”
“Lewis!” Delly menahan kemarahannya, jika saja sekarang tidak berada di sekolah, Delly sudah pasti akan memukulnya.
“HP siapa ini, Lewis!”
__ADS_1
Bukannya menjawab Lewis malah menangis dengan sangat kencang.
“Jawab Lewis, atau mama akan adukan ke papa.”
“Jangan mah, Lewis minta maaf, Lewis tak akan mengulanginya lagi.”
Delly benar-benar marah, setelah selesai berbicara dengan pak kepala botak, Delly membawa Lewis langsung pulang.
“Ayo pulang, kau harus di hukum!”
“Ampun mah,” isak Lewis.
Saat Delly keluar pintu kantor, dirinya berpapasan dengan guru wanita yang ingin masuk.
“Herna?”
“I-iya saya buk, ada apa ya?” jawab Herna merasa terpanggil.
“Tidak ada, kami permisi.”
Herna memandang punggung Delly yang kian menjauh.
“Kok dia tahu namaku? Hmm mungkin dari Lewis, ” pikir Herna tak ambil pusing.
Sesampainya di rumah Delly membanting HP Lewis serta memarahinya habis-habisan, anak itu hanya bisa menangis sambil meminta maaf.
Setelahnya Delly mengurung Lewis di dalam kamar, kemudian pergi ke kamar Silvie untuk menegur wanita itu agar tidak terlalu memanjakan Lewis.
“Kak!”
__ADS_1
Saat ia panggil, Silvie menoleh dengan mata sembab dan wajah pucat.
“Ada apa? Kenapa kakak menangis?” tanya Delly dengan intonasi yang melembutkan.
“Tadi kakak ke rumah sakit Dell.”
“Iya terus, dokter bilang kakak sakit apa?”
“Tumor otak stadium awal Dell,” Tangisnya.
Delly sangat terkejut dan ikut berduka. “Jangan khawatir kak, mulai sekarang kakak harus rajin periksa ke rumah sakit. Pasti kakak akan sembuh, percayalah jangan putus asa.”
Niat hati ingin menegur Silvie karena terlalu memanjakan Lewis pun pupus, kalau begini siapa yang bisa marah? Sekarang Silvie sangat membutuhkan dukungan.
“Lewis mana Dell? Jam segini dia sudah pulang sekolah biasanya.”
“Dia di kamar kak, kusuruh kerjakan PR-nya”
“nanti kalau sudah selesai suruh dia ke sini ya, kakak terlalu lemas untuk berjalan menemuinya.”
“Iya kak.”
Delly memilih untuk tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dia takut malah menambah beban pikiran Silvie. Silvie pasti masih syok dengan kondisi kesehatannya sendiri.
Setelah Silvie tertidur barulah Delly keluar dari kamarnya, banyak hal yang mengejutkan Delly hari ini, mulai dari Lewis yang menonton porno LGBT, kondisi kesehatan Silvie. Serta pertemuannya dengan Herna.
“Apa yang harus kulakukan selanjutnya ya?”
Dia jadi pusing, tiga hal yang Delly ketahui rasanya sangat menakutkan, takut Agha bertemu dengan Herna, khawatir dengan kak Silvie plus merasa gagal mengawasi anak.
__ADS_1
Tbc.