
Selesai bercinta Delly merapikan kembali pakaiannya, begitu pula dengan Agha. Raut tanya sudah tergambar di raut Delly yang pada dasarnya menantikan cerita Agha.
"Cepat bang ceritain," katanya tidak sabaran.
Agha menunjuk ke arah luar lalu berkata, "Abang pernah ditabrak truk di situ."
"Heh kok bisa?"
"Bisalah namanya juga musibah," kekehnya lalu kembali melajukan mobil.
Hanya mengatakan kata sesingkat itu saja Delly harus menunggu lama, benar-benar si Agha keterlaluan!
***
Hari-hari mereka lalui tanpa Silvie dan juga Lewis di rumah ini, setiap malam Delly menghubungi Lewis. Anak itu bercerita tentang les bahasanya di sana. Dia bilang banyak sekali orang di sana yang mengiranya perempuan kerna Lewis memang berwajah cantik.
Malam ini Delly menghubunginya kembali kerna rasa rindunya.
"Mama."
"Hai sayang bagaimana sekolahmu hari ini?"
"Aku tidak mengalami kesulitan berkomunikasi Ma, aku sudah mulai bisa berbicara pake bahasa Inggris walaupun masih salah banyak tapi mereka mengerti apa yang kumakud."
"Heh, banyak?"
"Tapi tak apa Mah, teman-temanku kadang mengerti walaupun pengucapanku salah."
"Syukurlah, lama-lama Lewis juga pasti bisa."
"Iya, papa mana Mah?"
"Papamu mandi."
Begitulah kita-kira obrolan Delly dengan Lewis, ada rasa di hati Delly kerna Lewis tampak menikmati kehidupannya di sana. Setidaknya Delly tidak perlu khawatir putranya tidak memiliki teman di sana, nyatanya dia berbaur dengan sangat baik.
"Dell."
"Iya bang?"
"Kemasi baju abang, besok abang ada urusan di luar kota."
"Berapa hari bang?"
__ADS_1
"Empat hari."
Delly langsung pergi mengemasi baju Agha, ia bernapas berat kerna merasa sendiri di rumah padahal Agha belum pergi.
"Empat hari, kenapa pergi terus sih?" rutuknya kesal. Agha mendengar rutukan wanita itu tapi dia hanya diam saja tak menanggapi. Kadang sikapnya itu membuat Delly kesal.
.
.
Esoknya Agha benar benar pergi, Delly hanya melambaikan tangan melepas kepergiannya.
"Sekarang enaknya ngapain, ya?" katanya berpikir untuk mencari kegiatan.
Terpikir oleh Delly untuk melihat Herna hari ini, dia penasaran apa saja yang dilakukan wanita itu selama sebulan ini.
Sesampainya di sekolah lama Lewis, Delly pun masuk ke ruang guru untuk bertanya keberadaan Herna.
"Iya Buk ada apa ya?"
"Buk Herna kemana ya?" tanya Delly pada mereka.
"Buk Herna gak ngajar di sini lagi Buk, dia berhenti tiga minggu yang lalu."
"Eh iya ya Buk? Maaf ya Buk saya tidak tau. Kalau begitu saya permisi."
Sambil berjalan ke kembali ke parkiran, otak Delly sibuk memikirkan Herna. *Apakah Herna sudah pergi ke Prancia*? Untuk memastikan, Delly berniat untuk pergi ke rumah wanita itu.
\>\>\>
Tok tok tok
__ADS_1
"Kak Herna," Panggilnya sambil mengetuk pintu.
Kreek~
Pintu terbuka, ia lihat Herna terlihat masih mengantuk karena muka bantalnya terdapat tahi mata.
"Kaka baru bangun?"
"Iya nih Dell, ayo masuk."
Karena sudah dipersilahkan, Delly tak sungkan lagi untuk masuk ke dalam, sedangkan Herna ke dapur untuk membuatkan teh.
Beberapa menit kemudian dia datang dengan mampan di tangannya.
"Kaka kok gak kerja lagi?" tanya Delly berbasa-basj
"Kaka mengikuti saranmu agar cepat dapat uang."
"Kaka benar-benar melakukannya? Astaga Kak."
"Mau bagaimana lagi, oh iya dua hari lagi kaka ke Perancis, uang kaka sudah terkumpul untuk tiket pesawat sama biaya hidup setidaknya sebulan di sana."
"Jadi kita tak akan bertemu lagi nih?"
"Kalau umur panjang pasti akan bertemu kok."
Tbc.
__ADS_1