
Seorang wanita terbaring lesu dan satu wanita yang lebih tua duduk di kursi, mereka sedang membicarakan hal yang serius bahkan sampai menitikkan air mata.
"Jadi Agha sedang berada di rumah kita?" Ucap nya dengan tangan yang mengusap bekas tangisan.
"Kita kembalikan saja Lewis pada Agha ataupun Delly, kau harus dalam keadaan rileks Sil, Lewis hanya akan menambah beban pikiran mu saja, kapan kau sembuh nya jikalau kau terus begini? Lihat lah rambut mu sudah hampir botak semua"
"Tapi aku sayang sama Lewis mah, aku ingin terus melihat nya di sisa hidupku yang singkat ini"
"Umur mu masih panjang, jangan bicara seperti itu!" Marah Meti, tinggal Silvie lah yang ia punya di masa tua nya ini, sang suami sudah meninggal enam tahun yang lalu, Jika Silvie pergi maka dia akan sendiri, adapun Lewis tidak mungkin dapat ia kontrol sendiri.
Bisakah Silvie mengharapkan keajaiban untuk memberikan nya sedikit harapan? rasanya sangat mustahil.
"Mah, tolong rahasiakan dulu dari Agha, aku tidak ingin Lewis di bawa pergi, walaupun dia tidak lahir dari rahim ku tapi aku lah yang lebih banyak merawat nya di bandingkan Delly, mama tenang saja aku akan baik baik saja, kita luruskan jalan anak itu kembali"
"Kau yakin Sil?"
"Aku yakin, aku akan membawanya ke dokter psikolog setelah Agha pergi"
Teriakan suara wanita yang pantang menyerah menggema di depan gerbang besar. Wanita itu berusaha manjat untuk bisa masuk, sedangkan penjaga gerbang sudah bosan menghadapi wanita gila itu.
"Mana Agha!" Teriak nya.
Sambil bermain kartu dua penjaga menunggu wanita itu bisa masuk lalu kembali menendang nya keluar.
__ADS_1
"Dulu kita bisa main kartu dengan tenang"
"Iya, wanita gila itu mengganggu setiap hari. padahal sudah di bilang tuan Agha sedang ke luar negri, masih saja dia datang"
"Kerja kita selama ini enak hanya buka tutup gerbang gajinya gedek, kita gak makan gaji buta kan?"
"Enggak lah, apapun itu tetap aja kita kerja kan? tapi sekarang kasus nya berbeda. Tuh lihat si Herna udah sampe atas bentar lagi dia bakal merangkak turun, ayo kita gerak"
"Sialan kalian! tapi tidak apa apa, aku akan manjat lagi"
"Yah manjat lah lagi, kami akan mengeluarkan mu lagi, yok lah bro kita lanjutin main kartu" Ajak nya kembali duduk di pos melanjutkan permainan yang sempat tertunda.
"Woi penjaga! buka gerbang nya aku capek" Jerit Herna.
__ADS_1
"Makanya kau menyerah saja, lagian tuan Agha sedang tidak ada"
"Kemana dia?"
"Mengunjungi anak nya, dia kan masih punya istri dan anak makanya kau jangan banyak berharap, suatu hari nanti Nyonya Delly pasti akan kembali ke rumah ini bersama tuan muda Lewis tentunya" Ledek Penjaga di sertakan tawa dari rekan nya.
"Herna, kau sangat menyedihkan. Lebih baik kau urus saja putri mu Misel dari pada gangguin rumah orang"
"Heh misel anak nya Agha juga ya!" Penuturan Herna membuat dua penjaga tertawa geli.
"Wanita itu sepertinya mengigau, Lewis lah anak tuan Agha bukan Misel"
Herna menggeram penuh dendam, kenyataan yang sangat sulit ia Terima terus saja jadi gunjingan orang lain untuk menghina nya. "*Awal saja, Lewis pasti akan ku singkirkan. Dengan begitu dia pasti akan menerima Misel sebagai anak nya. Biasanya seorang ayah yang kehilangan anak akan menerima anak lain untuk mengobati rasa kehilangan nya hehe*" Pikir Herna dan akhirnya dia pun pergi dengan cara yang tidak biasanya, yaitu pergi dengan riang dan tersenyum.
"Ada apa dengan wanita itu? biasanya juga mengumpat sambil nangis, aneh sekali" Penjaga geleng geleng kepala.
__ADS_1
Tbc.