
"Sedang apa kalian!"
Yara, teman sekaligus adik ipar ku ini membentak para ibu ibu yang bergeromul di depan pintu kamar ku sambil menggedor gedor nya.
Terlihat Yara sangat marah walaupun dia sedang membawa anak di gandengan nya.
"Yara kau ngapain di sini" Gugup Silvie, adik ipar nya itu terlihat menyeramkan sekarang seakan ada percikan api di matanya.
"Dek Yara kami sedang memberikan pelajaran pada si pelakor" Ucap salah satu ibu ibu itu.
Yara mendudukan putri nya di atas meja, ia pun mengambil tongkat baseball yang berada di samping vas, entah kenapa tongkat itu ada di sana mungkin pelayan lupa mengambil nya.
Prang~
Vas bunga pun pecah ketika Yara memukul nya, ia hanya ingin menguji seberapa kuat tongkat itu.
"Sekarang giliran kalian" Kata Yara.
Buk!
Buk!
Buk!
__ADS_1
Tak satu orang pun terlewatkan, Yara memukuli mereka semua termasuk Meti dan Silvie, bahkan saat salah satu mereka lari, Yara melempar pecahan vas ke arah mereka, hingga tubuh mereka mengeluarkan darah namun Yara malah tersenyum puas kernanya.
Sedangkan aku mendengar suara keributan di luar, tepat nya suara teriakan ibu ibu yang menangis dan berteriak kesakitan.
"Apa yang terjadi?"
Aku pun perlahan membuka pintu, tak sepenuhnya terbuka, aku menyisakan sedikit celah untuk mengintip.
"Yara?" Kaget ku, ku lihat wanita satu anak itu memukuli ibu ibu yang mungkin sudah pingsan.
Brak~
Akhirnya aku membuka pintu secara kesar, aku pun berlari menghentikan tindakan nya yang bisa saja membunuh orang.
"Kak? Kaka tidak apa apa?" Ucap nya sambil memeluk ku.
Di atas meja aku melihat Cici menangis, mungkin dia keget kerna tiba tiba ibunya menggila.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak mendengar anak mu berteriak?"
"Astaga aku lupa, ya ampun nak maafkan mama. Cup cup Cici jangan nangis lagi ya"
Yara mengecupi wajah Cici anak nya itu masih ketakutan tak kunjung diam. Sedangkan Silvie terduduk lemas di pujokan, dia tidak begitu banyak menerima pukulan dari Yara, kerna Yara masih mengingat nya sebagai istri pertama Agha.
__ADS_1
Selagi Yara menenangkan anak nya di kamar ku, aku pun menyuruh para maid untuk memanggil para penjaga gerbang.
Saat penjaga datang, mereka terlihat syok melihat tumpukan ibu ibu yang terkapar di lantai dengan luka luka lebam.
"Pak bawa mereka ke rumah sakit, beri tau aku total biaya nya nantik aku transfer langsung"
"Jadi kami nunggu di sana non?"
"Ya iya lah, jangan lupa hubungin keluarga mereka masing masing ya"
Setelah penjaga pergi, Silvie juga pergi untuk menemani ibu nya yang bonyok oleh tongkat baseball Yara. Meti mendapat luka yang paling parah di antara yang lain.
Aku kembali ke kamar, ku lihat Cici yang sudah tertidur di ranjang ku.
"Yara kenapa kau menggebuki mereka semua?" Tanya ku.
"Tadi pelayanan rumah ini menelfon ku, katanya kaka di kroyok sama bibi Meti dan teman teman nya. Makanya aku langsung ke sini"
"Astaga Yara aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu"
"Tidak apa apa kak, mereka pantas mendapatkan nya"
Aku tidak habis pikir, ternyata Yara jauh lebih menyeramkan di bandingkan mama Reva. Untung lah mereka berdua berada di pihak ku, kalau tidak tamatlah sudah riwayat ku.
__ADS_1
Tbc.