
Cukup sudah penderitaan Silvie, pagi pagi sekali mertuanya datang menuntut nya untuk memujui Agha untuk menikah lagi. Istri mana yang mau di duakan? Ini pilihan berat bagi nya.
"Jangan egois! Saat tua nanti siapa yang akan mengurus putra ku kalau tidak punya anak?"
"Tapi ma aku dan Agha berniat mengadopsi anak, tolong mengertilah mah"
"Kau bercanda? Aku tidak mau tau! Sebaiknya kau pikirkan itu, aku mau jawaban nya setelah Agha pulang" Ketus nya beralih pergi menutup pintu kamar dengan sangat keras.
"Astaga aku harus apa?"
Sementara itu aku duduk di tangga dekat perkarangan rumah sembari termenung.
Ini sudah hari ke tiga Agha tidak di rumah, dan kata nya Agha pulang nanti malam.
"Dellyyy"
Aku berlari saat menyadari namaku di panggil dari dalam.
"Tante cari aku?"
"Iya, kamu dari mana saja?"
"Depan tan"
"Temani tante ke rumah sakit yuk, ada yang harus di priksa"
"Priksa apa tan?"
"Kesehatan"
"Ok, Delly ambil jaket dulu ya tan"
Beberapa menit menunggu akhirnya aku muncul juga. Kami pun langsung saja ke rumah sakit.
Sesampainya di sana tampak lah Reva tengah berbicara dengan dokter, aku tercengang kerna nama ku lah yang di sebut.
"Tan kok malah aku sih?" Kaget ku ketika tangan ku di tarik oleh dokter perempuan.
Reva hanya tersenyum merspon keterkejutan ku. Cukup lama Reva menunggu akhirnya hasil tes nya pun keluar.
Sangat senang Rava membaca hasil test itu, berbeda dengan ku yang bingung kenapa aku di priksa kesuburan nya.
"Dell kamu tidak mandul" Antusias nya.
"Syukur lah tan, tapi kenapa tante antusias banget buat mastiin kalau aku gak mandul, bukan kah itu tidak begitu penting sekarang?"
"Sangat penting. Sudah kamu jangan banyak tanya ayo kita pulang sekarang"
__ADS_1
Hari sudah gelap, habis makan malam aku memutuskan untuk nonton Tv, beberapa menit berlangsung, aku di hampiri oleh Reva dan Silvie di belakangnya dengan wajah pucat.
"Delly ada yang ingin kami bicarakan"
"Bicara apa tan?"
"Silvie katakan pada Delly" Suruh.
Tanpak wanita itu sangat berat hati bahkan mata nya sembab, Silvie mengalami kesulitan untuk buka suara di keadaan nya sekarang.
"Ada apa kak? Kok kaka keliatan kayak orang sakit gitu?"
"Silvie cepat katakan!"
"Delly kamu mau kan jadi i-istri ke dua Agha?"
Aku terkejut, sangking terkejut nya tergambar jelas mimik wajah ku yang tiba tiba ikutan pucat.
"A-apa yang kaka katakan? Kaka bercanda kan?"
Bukan nya menjawab Silvie malah menangis dalam posisi yang masih berdiri "Kaka bingung Dell" Isak nya.
"Delly kamu mau ya nak, tante mohon"
__ADS_1
"Tidak tante, kak Silvie istri nya bang Agha. Tak mungkin aku menikah dengan orang yang berbaik hati menganggap aku adik nya. Ini tidak lucu tan, sebaiknya hentikan candaan ini"
"Ini serius Dell, Silvie tidak bisa punya anak. Kasihan Agha, pasti dia juga pingin memiliki anak tapi istrinya saja yang tidak berguna"
"Tante jangan seperti itu, kak Silvie pasti juga tidak ingin di madu kan kak?" Aku berdiri di samping Silvie yang tertunduk.
"Silvie!"
Suara tegas Reva membuat Silvie kaget, ia tau apa yang dimaksud Reva.
"Dell tidak apa apa, kaka mohon menikah lah dengan Agha. Kali ini saja, bukankah kau bilang kau sangat berhutang budi dengan suami ku dan aku? Bukan kau bilang ingin membalas kebaikan kami?"
"Iya kak, tapi-"
"Menikah lah dengan Agha, aku tidak apa apa jika di madu kalau orang nya adalah kau"
Yap Silvie berpikir aku pasti tak akan merebut Agha sepenuhnya dari nya. Mungkin dia berpikir aku masih bisa ia kontrol kerna aku itu gadis yang sangat penurut.
"B-bagaimana dengan bang Agha?"
"Kaka akan bicara dengan nya nanti setelah dia pulang"
"Baiklah kak" Balas ku dengan wajah sendu, aku merasa tidak enak hati padahal niat awal ku hanya berlindung di rumah ini, tidak macam macam hanya itu saja.
__ADS_1
Tbc.